Sabtu, 10 Januari 2026

The Night Rain We Didn’t Leave

Aku memasuki mobil, menutup pintu dengan gerakan pelan, seolah tak ingin mengusik sisa-sisa hening yang tadi tercipta di antara kita. 

Mesin menyala, tapi kau belum menoleh. 

Pandanganmu masih lurus ke depan, rahangmu sedikit mengeras, tanda kau sedang menimbang sesuatu.

About earlier…” katamu akhirnya, suaramu rendah, hampir tenggelam oleh dengung mesin. “I didn’t mean to rush you.”

Aku menatap ke depan, lampu jalan berderet seperti garis waktu yang sedang berjalan. 

Tanganku bertumpu di paha, jemari sedikit gemetar. 

Lampu jalan mulai berlarian di kaca jendela, memantulkan bayangan wajah kita yang tak sepenuhnya saling menatap.

“Kamu nggak terburu-buru,” jawabku pelan. “Kamu cuma jujur.”

Kau melirikku sebentar, lalu kembali fokus ke jalan. 

Senyum kecil muncul, tapi tak sampai ke matamu.

I just need to know,” lanjutmu, “apakah aku sendirian mikir sejauh ini, atau kamu juga… ada di titik yang sama.”

Mobil melaju konstan, tapi dadaku terasa berisik. Aku menautkan jemariku, menimbang kata-kata yang tak ingin sekadar jadi jawaban aman.

“Aku mungkin nggak secepat kamu,” kataku akhirnya, menoleh ke arahmu. “Tapi aku juga nggak lagi di persimpangan. Aku sedang berjalan ke arah yang sama.” 

Kau terdiam. Lalu, tanpa menoleh, tanganmu bergerak sedikit, cukup dekat untuk kurasakan kehangatannya.

Then maybe,” ujarmu pelan, “we don’t need to hurry. Kita cuma perlu terus jalan. Bareng.”

Aku tersenyum, kali ini tanpa ragu. 

Mobil terus melaju, dan untuk pertama kalinya, arah di depan tak lagi terasa samar.

Mobil melambat di lampu merah. Kau menarik napas panjang, seolah akhirnya memberi ruang pada sesuatu yang sejak tadi kau simpan rapat.

“Ada satu hal,” kataku, memecah jeda. 

Suaraku tenang, tapi jujur. 

“Tentang masa lalu kamu. Yang belum benar-benar selesai itu… sometimes it comes to my mind.”

Kau menoleh. Kali ini lebih lama. Tak ada defensif di matamu, hanya kelelahan dan keinginan untuk dipahami.

“Siapa? Rika? I know,” jawabmu. “Aku nggak mau pura-pura itu nggak ada. Tapi ini udah berlalu."

Lampu berubah hijau, tapi kau tak langsung menekan gas.

“Itu pernah jadi bagian dari hidupku,” lanjutmu pelan. “Dan iya, it was messy. Ada yang tertinggal, ada yang belum sempat aku rapikan. Tapi aku udah sama kamu sekarang.”

Aku menelan ludah. 

“Aku cuma takut jadi persinggahan. Takut berhenti sebentar, lalu kamu pergi lagi ke arah yang lama.”

Kau tersenyum kecil, kali ini getir. “Kalau aku masih mau ke sana, aku nggak akan duduk di mobil ini sama kamu.”

Tanganmu mencari tanganku, menggenggamnya dengan yakin. 

“Masa lalu itu bukan tujuan. Itu pelajaran. Dan aku sudah selesai belajar.” 

Aku menatap genggaman itu, mencoba percaya pada hangat yang nyata.

“Jadi kamu yakin?” tanyaku lirih.

Kau mengangguk. “Aku nggak janji semuanya mulus. Tapi aku janji satu hal, aku hadir. Kita jalan, kita perbaiki pelan-pelan. And we’ll be okay.”

Mobil kembali melaju. 

Lampu-lampu kota berpendar di depan, dan untuk pertama kalinya, bayangan masa lalu tak lagi terasa mengejar dari belakang.

Menarik napas lagi, kali ini lebih dalam, lalu tersenyum tipis seolah sedang menata keberanianmu sendiri.

“Boleh aku nanya sesuatu?” ucapmu.

Aku mengangguk.

Why does it still bother you?” tanyamu pelan, tanpa nada menyudutkan. “Kenapa kamu masih mengingat masa laluku, sementara aku sudah berdamai dengannya?”

Aku menoleh ke jendela, memperhatikan cahaya kota yang lewat satu per satu.

Because i care, Ben” jawabku jujur. “Dan karena aku masuk ke hidupmu bukan dari awal. Aku datang setelah semuanya terjadi.”

Kau mengangguk kecil, memberi isyarat agar aku melanjutkan.

“Buat kamu, itu cerita lama,” kataku. “Buat aku, itu cerita yang baru aku dengar. Aku belum punya waktu sebanyak kamu untuk menutupnya. It's not same.”

 Kau tersenyum samar. “That makes sense,” gumammu.

“Aku berdamai karena aku yang hidup di sana,” lanjutmu. “Aku tahu rasa sakitnya, aku tahu akhirnya. Tapi kamu cuma dapat potongan ceritanya. Tanpa sempat merasakan prosesnya."

Aku menatapmu. 

“Dan kadang aku takut,” suaraku sedikit bergetar. “Takut aku dibandingkan. Takut aku mengulang luka yang sama.”

Kau memperlambat mobil, lalu berkata dengan suara yang lebih mantap.

Hey… don’t compete with my past. Itu sudah selesai. Kamu bukan pengganti, kamu bukan lanjutan.”

Tanganmu mengusap punggung tanganku dengan lembut. 

“Kamu adalah pilihan baru,” katamu. “Dan kalau kamu butuh waktu untuk berdamai juga, I’ll wait. Kita nggak harus sembuh di waktu yang sama.”

Aku tersenyum kecil, ada lega yang pelan-pelan turun di dadaku.

Just don’t leave while I’m still learning to trust,” bisikku.

Kau menoleh, senyummu hangat dan yakin.

I won’t. Aku di sini. Dan kali ini, aku benar-benar tinggal.”

Aku masih terdiam, memastikan perasaanku sendiri. 

Memastikan kamu benar-benar tidak hidup di masa lalumu. 

Hujan tiba-tiba turun deras.

Menghantam kaca mobil tanpa aba-aba, seolah ikut menyela pikiranku yang belum sepenuhnya rapi.

Kau memperlambat laju mobil, lalu tertawa kecil.

“Kayaknya hujannya ikut tegang,” katamu, mencoba mencairkan suasana.

Aku menoleh, senyumku tipis.

“Kamu yakin?” tanyaku lagi, lebih pelan. “Kamu nggak sedang tinggal di sana… di masa lalu itu?”

Kau tak langsung menjawab. Sebaliknya, kau menyalakan lampu sein, menepi sebentar di bawah pohon besar. Suara hujan jadi lebih jelas, lebih dekat.

“Lihat hujan itu,” ucapmu sambil menunjuk kaca depan. “It falls hard, noisy, annoying… but it always passes.

Aku terdiam, mendengarkan.

“Aku nggak hidup di masa lalu,” lanjutmu. “Aku cuma pernah kehujanan di sana. Sekarang aku sudah di mobil ini, bareng kamu. Aman.” 

Kau tersenyum, lalu mengubah topik dengan sengaja.

“Ngomong-ngomong,” katamu ringan, “kalau hujan gini, kamu tipe yang buka jendela dikit biar dengar suaranya, atau justru langsung tidur?”

Aku terkekeh kecil, akhirnya. “Aku yang dengerin hujan. It calms me down.”

Good,” jawabmu cepat. “Berarti sekarang kamu bisa dengar hujan, bukan pikiranmu.”

Kau menaikkan volume lagu pelan, lagu yang entah kenapa terasa familiar dan hangat.

Focus on this moment,” katamu. “Not what already ended.”

Aku menyandarkan kepala, napasku mulai teratur. 

Di luar hujan masih deras, tapi di dalam mobil, ada rasa tenang yang perlahan tumbuh dibangun bukan dari janji besar, tapi dari caramu memilih hadir dan membuatku merasa aman, di sini, sekarang.

Mobil masih menepi di pinggir jalan. Lampu hazard menyala pelan, memantul di aspal basah yang berkilau oleh hujan. 

Dunia seakan berhenti tepat di sana, di ruang sempit itu, di antara embun kaca dan napas kita yang belum sepenuhnya tenang.

Kau menurunkan volume lagu, lalu tersenyum lembut. 

“Dengar nggak?” katamu pelan. “Suara hujan selalu bikin aku mikir… kalau ada hal yang belum selesai, alam pasti ribut. Kalau sudah selesai, yang tersisa cuma tenang.” 

Aku menoleh. Tatapanmu tidak pergi ke mana-mana, tinggal di saat ini, di aku.

“Kamu aman sama aku,” lanjutmu. “And I’m here. Not yesterday. Not there.”

 Kau melepas satu tangan dari setir, menggenggam jariku. Hangatnya nyata, menenangkan. 

“Kita pelan saja,” bisikmu. “Aku nggak kemana-mana.”

Mesin mobil masih menyala, tapi kau belum lagi menjalankan mobil. 

Tatapanmu jatuh ke tanganku, lalu naik perlahan ke wajahku.

“Hujannya belum reda,” katamu, tapi suaramu terdengar seperti alasan untuk tetap diam.

Aku tersenyum kecil. “Atau kamu memang belum mau jalan.”

Kau tertawa lirih. “Maybe both.

Kau mengusap punggung tanganku dengan ibu jari, gerakan kecil yang terasa besar.

Aku menunduk. “Aku cuma ingin memastikan… aku bukan tempat singgah.”

Ada jeda yang tak perlu diisi kata. Hujan, napas kita, dan detak yang tiba-tiba seirama. 

Kau mendekat sedikit, cukup dekat hingga aku bisa merasakan hangat napasmu.

“Kalau singgah,” bisikmu, “mesinnya pasti sudah mati. Tapi lihat...” kau menunjuk dada sendiri, “aku masih jalan. Dan arahnya ke kamu.”

Hujan mengetuk kaca lebih keras, lebih deras dari yang tadi. 

Seperti ikut menurunkan air bah yang cantik ditengah kota yang sedang dingin ini. 

Tanpa banyak pikir, aku kembali mendekat, kali ini lebih berani. 

Bibirku menyentuh bibirmu singkat, lembut, penuh keyakinan yang baru tumbuh.

Kau terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar, dahi kita bersentuhan.

Okay,” katamu pelan. “I guess we’re really doing this.”

Aku mengangguk, jantungku tenang untuk pertama kalinya. 

Kau membalas kecupan itu bukan dengan tergesa, tapi dengan keyakinan yang pelan. 

Bibirmu menempel di bibirku lebih lama kali ini, mesra, hangat...seolah hujan deras di luar sengaja dibiarkan untuk menutup dunia selain kita.

Tak ada gerakan yang terburu. 

Ciuman itu tenang, saling memahami. 

Napas kita menyatu perlahan, dan aku bisa merasakan senyummu di sela sentuhan itu. 

Kau menahan kepalaku dengan lembut, bukan untuk mendekatkan lebih jauh, tapi untuk mengatakan aku di sini.

Hujan menghantam kaca dengan ritme yang konstan, seperti musik latar yang tak perlu dipilih. 

Di dalam mobil, hangatnya bertambah. Bukan karena api, tapi karena rasa aman yang akhirnya menemukan rumah.

Mobil masih menepi, hujan masih turun, tapi aku tahu, kita tidak sedang berhenti.

Kita hanya memberi waktu pada perasaan untuk sampai.

“Is that your way of saying you trust me?” tanyamu, hampir berbisik.

Aku mengangguk, jantungku masih berlari. “Maybe,” jawabku lirih. “Atau caraku bilang… aku ingin tinggal.”

Kau mengusap kepalaku dengan hati-hati, dahi kita hampir bersentuhan.

“Then stay,” katamu. “With me.”

Di luar, hujan masih turun deras, memisahkan kita dari dunia. 

Di dalam mobil yang hangat, kita memilih diam, menikmati kehadiran satu sama lain. 

Tak ada janji besar yang diucapkan, tapi ada keputusan kecil yang terasa nyata: untuk tinggal, untuk mencoba, untuk berjalan bersama, pelan, tapi searah. 

END

Jumat, 09 Januari 2026

Before The Last Station (CHAPTER 5)

Hari-hari setelah itu berjalan pelan, seolah waktu sengaja memberiku ruang untuk berpikir.

Aku mencoba sibuk, mencoba tenang, mencoba jujur pada diriku sendiri. 

Tentang dia. 

Tentang niatnya. 

Tentang kemungkinan hidup yang tiba-tiba terasa nyata.

Jawabanku belum berbentuk kata, tapi rasanya sudah hampir.

Sampai satu sore, orang yang pernah meninggalkan aku di masa lalu, datang tanpa izin.

Sebuah nama muncul di layar ponsel nama yang seharusnya sudah selesai. 

Dadaku menegang. Jari-jariku dingin.

"Kamu apa kabar?”  

Pesan itu sederhana, tapi beratnya seperti menarikku mundur.

Kenangan yang kukira sudah rapi, tiba-tiba berisik. Luka lama yang kukira sembuh, berdenyut lagi.

Bukan karena rindu, tapi karena belum sepenuhnya dipahami.

Aku duduk lama, menatap layar tanpa membalas. Di kepalaku hanya ada satu hal : kenapa dia datang sekarang?

Dan untuk pertama kalinya sejak kecupan di kening itu, aku takut bukan pada dia, tapi pada bayangan diriku yang dulu, yang pernah salah memilih dan hampir melupakannya.

Weekend itu akhirnya datang.

Aku naik kereta dengan napas yang sudah kusiapkan sejak pagi. 

Jawabanku sudah ada—belum terucap, tapi utuh. Aku tahu apa yang ingin kukatakan padamu. 

Aku tahu ke mana aku ingin melangkah.

Sebelum kakiku melangkah ke dalam gerbong, seseorang memanggil namaku. 

Bukan suara asing. Justru terlalu kukenal.

Aku menoleh, dan waktu seakan mundur beberapa langkah.

Ia berdiri di sana—orang dari masa lalu yang pernah membuatku ragu pada banyak hal, termasuk diriku sendiri. 

Senyumnya masih sama, tapi rasanya berbeda. 

Tidak lagi rumah, hanya kenangan.

“Masih naik kereta yang sama?” tanyanya, seolah tak pernah ada jarak di antara kami.

Aku mengangguk pelan. Jantungku sempat berhenti sepersekian detik, bukan karena cinta, tapi karena ingatan. 

Tentang aku yang dulu yang mudah goyah, yang selalu menunggu diselamatkan.

“Kelihatannya kamu baik-baik saja sekarang,” katanya lagi.

Aku tersenyum. Kali ini bukan senyum untuk menyenangkan orang lain.

“Oh ya, tentu,” jawabku singkat.

“Syukurlah.” Ia terdiam, lalu melangkah lebih dekat.

"Aku gak nyangka kita ketemu disini. Aku… mau minta maaf,” ucapnya cepat, seolah takut kehilangan momen.“Untuk semua yang dulu. Untuk caraku yang salah.”

Aku mengangguk kecil. Kata maaf itu kudengar utuh, tapi tidak lagi menggenggamku.

Aku berbalik, bersiap menuju pintu kereta. Namun langkahku terhenti saat suara langkahnya menyusul.

“Tunggu,” katanya, kali ini terburu-buru.

Ia mengejar, berdiri di sampingku. “Aku tahu aku terlambat. Tapi aku lihat kamu sekarang… dan aku sadar aku masih...”

Aku menoleh. Tatapanku tenang, bukan dingin.

“Can't you stop?” kataku pelan, tapi jelas.

Kereta hampir berangkat.

Aku bisa memilih untuk tinggal, untuk mendengar sisa kalimat yang dulu mungkin akan kuharapkan.

Tapi hari ini, aku memilih diriku sendiri.

“Aku menghargai permintaan maafmu,” lanjutku. “Tapi aku sudah berjalan terlalu jauh untuk kembali ke titik yang sama dan tidak akan pernah balik.”

Peluit terdengar.

Aku melangkah masuk tanpa menoleh lagi.

Dan saat pintu menutup, aku tahu bukan dia yang kutinggalkan melainkan versi lama dari diriku yang dulu selalu menunggu.

Kereta mulai melaju. Nafasku akhirnya teratur, seolah tubuhku baru saja melepaskan sesuatu yang lama menggenggam.

Aku berdiri sejenak di dekat pintu, membiarkan pemandangan di luar bergerak mundur. 

Di stasiun berikutnya, kereta melambat.

Pintu terbuka.

Dan di antara orang-orang yang naik tergesa, aku melihat kau.

Kau menoleh, mata kita bertemu. Tidak ada keterkejutan berlebihan, hanya senyum kecil—seperti dua orang yang sama-sama tahu: kita tepat waktu.

Kau duduk di depanku, lalu bertanya pelan,

“Gimana perjalanannya?”

Sambil menyodorkan kopi yang kubeli tadi untukmu, "Aman pak Arif. Berjalan lancar."

Kau tertawa kecil, menerima gelas itu. “Rapi banget ya bu Aya, kayak laporan.”

Aku ikut tersenyum. “Baru saja menyelesaikan satu urusan,” jawabku singkat.

Kau tidak bertanya lebih jauh.

Hanya mengangguk, menyesap kopi, lalu menatap keluar jendela sebentar sebelum kembali menatapku.

“Kalau begitu,” katamu pelan, “sekarang giliran kita jalan pelan-pelan.”

Aku memang menyiapkan jawaban di weekend ini. 

Bukan karena ragu, tapi karena I wanted to be honest with you, and with myself.

Lamaran itu, yang sempat kau katakan weekend Minggu lalu, sempat menggantung di antara kita.

You didn’t push. You didn’t rush me.

Kau cuma bilang, “Take your time. I’ll wait.”

Sekarang kita duduk berhadapan lagi.

Kereta yang sama, arah yang sama, tapi aku bukan orang yang sama.

Aku menatapmu, tanganku tenang di pangkuan, napasku tidak lagi tercekat.

“I’m ready to answer,” kataku pelan.

Kau meletakkan kopimu, menatapku penuh. “Whatever it is,” ujarmu lembut, “I’m here.” 

Matamu menatapku penuh tanpa ekspektasi yang membebani.

Aku menarik napas. 

“I’m not coming into your life to be rescued,” kataku pelan. "Aku datang karena aku memilih kamu. Because I’m ready to walk together.” 

Kau tersenyum. Bukan senyum lega, tapi senyum orang yang benar-benar paham.

Lalu kau berkata, suaramu rendah dan tenang,

“Aku nggak minta kamu berubah jadi siapa-siapa.”

Yang tidak merasa menang, tidak merasa harus mengikat hanya senyum seseorang yang akhirnya sejajar.

“I don’t want to own you. I want to walk with you.” katamu pelan dan menggengam tanganku lebih erat.

Kau melanjutkan, “Kalau suatu hari kamu mau berjalan lebih cepat, aku akan menyesuaikan. Kalau kamu capek dan perlu berhenti, aku akan duduk di sampingmu. Bukan di depan, bukan di belakang.”

Aku melanjutkan, suaraku tetap tenang, “Aku nggak datang untuk diselamatkan, dan aku juga nggak minta kamu jadi segalanya. Aku cuma mau kita jalan berdampingan. Sama-sama utuh.”

Kau mengangguk pelan, menatapku tanpa menyela.

Di matamu tidak ada tuntutan, hanya penerimaan.

Kata-katamu tidak terdengar seperti janji besar, tapi justru itu yang membuatku yakin.

Karena untuk pertama kalinya.

Aku tidak merasa dipilih, aku merasa dihormati.

Aku terdiam sejenak. 

Bukan karena bingung, tapi karena kata-katamu jatuh tepat di tempat yang selama ini kujaga.

Kereta berguncang pelan, seolah ikut mengingatkan bahwa perjalanan tidak selalu mulus.

Aku menatap jendela, lalu kembali padamu.

“You know,” kataku lirih, “aku takut bukan pada pernikahan… tapi pada kehilangan diriku sendiri di dalamnya.”

Kau mengangguk, seolah sudah menduga.

“Then don’t lose yourself,” jawabmu lembut. “Aku jatuh cinta justru pada versi kamu yang berdiri sendiri.”

Kau meraih tanganku, menggenggam erat, hangat. 

“Kalau nanti kita menikah,” lanjutmu,“aku mau kamu tetap punya dunia kamu. Mimpimu, caramu, waktumu. Aku nggak mau jadi pusat hidupmu. Aku mau jadi partner buat kamu Ya'.”.

Di titik itu, dadaku hangat. 

Bukan oleh kata selamanya, tapi oleh rasa aman yang tidak menuntut.

Aku tersenyum, kali ini tanpa pertahanan. 

“Then… yes,” kataku pelan. “Yes, with you. With this way.”

Kereta terus melaju. Dan aku tahu, jawaban ini bukan akhir cerita, ini awal perjalanan yang akhirnya ingin kutempuh, dengan sadar dan tanpa takut. 

Sebelum stasiun terakhir diumumkan, kau menoleh lagi padaku. 

Nada suaramu santai, tapi matamu menyimpan rencana kecil.

“Aku mau ngajak kamu ke satu tempat.”

Aku mengangkat alis, setengah penasaran.

“Tempat apa?” tanyaku.

Kau tersenyum tipis.

"Pokoknya ikut aja ya." Kau melanjutkan, “Aku nggak mau bawa kamu ke sana sebagai kejutan besar. Aku cuma mau kamu tahu ini salah satu bagian dari hidupku.”

Kereta melambat.

Aku menatapmu, lalu mengangguk pelan. 

Dan di momen itu aku sadar, kau tidak mengajakku pergi untuk mengesankan, tapi untuk memperkenalkan sebuah langkah kecil, yang terasa jauh lebih berarti.

Mobil melambat, lalu berhenti di depan sebuah rumah di dalam perumahan cluster. 

Gerbangnya tidak tinggi, tapi rapi. Jalanannya tenang, dipayungi pepohonan yang sudah tumbuh matang, seolah tempat ini memang dibangun untuk pulang, bukan sekadar tinggal.

Rumah itu bergaya klasik sederhana.

Halamannya bersih, warna krem hangat dengan sentuhan kayu di pintu utama. 

Jendelanya besar, memberi kesan terang dan terbuka. 

Tidak berlebihan, tapi terasa timeless seperti rumah yang tidak takut menua bersama penghuninya.

“Kita di sini,” katamu pelan.

Aku turun dari mobil, menatap sekeliling. Cluster ini sunyi dengan cara yang menenangkan. 

Ada taman kecil di ujung jalan, lampu-lampu halaman menyala lembut, dan udara sore yang tidak tergesa.

Kau berdiri di sampingku. 

“Aku nggak cari rumah yang paling besar,” ujarmu. “Aku cari tempat yang bisa bikin kita pulang dengan tenang. Jadi kamu bisa stay dan kerja juga di kota ini.” 

Aku menatap rumah itu lagi, lalu menatapmu. 

Di dadaku tidak ada rasa asing.

Hanya perasaan hangat—seperti sedang berdiri di depan sesuatu yang perlahan akan menjadi kita.

Dan untuk pertama kalinya, kata rumah tidak terdengar seperti rencana jauh.

Ia terasa nyata, dekat, dan mungkin.

“Ini… feels calm,” kataku pelan. “Kayak nggak ribut, nggak pamer.”

Kau tersenyum kecil.

“That’s the point,” jawabmu. “Aku pengin rumah yang bisa bikin kita breathe.”

Aku memperhatikan detailnya, warna hangat, jendela besar, halaman kecil yang rapi.

“Classic ya,” ujarku. “Not trying too hard.”

“Exactly,” katamu. “Aku mikir, kalau capek sama dunia, this should be the place we come back to.”

Aku menoleh ke arahmu.

"Interior kamu bisa isi dengan warna dan design yang kamu suka. Aku ikut apapun itu yang buat kamu nyaman Ya'," katamu sambil menggenggam tanganku.

“So… this is where you see us?” tanyaku, setengah bercanda tapi serius.

Kau mengangguk.

“Yeah. Not perfect, but comfortable. Tempat kita berantem baik-baik, ketawa, diam bareng.”

Aku tersenyum, dadaku menghangat.

“I can see myself here,” jawabku jujur. “Growing, not disappearing.”

Kau menatapku lama, mendekat dan mencium keningku pelan. 

“Then let’s build it slowly. No rush. Just us.”

Dan di depan rumah itu, aku tahu ini bukan sekadar properti. 

This wasn’t the end of the journey, it was where we finally chose to stay.

Dan di momen itu, aku tahu ini bukan kebetulan. 

Ini pertemuan dua orang yang akhirnya selesai dengan dirinya sendiri.

END

Rabu, 07 Januari 2026

Before The Last Station (CHAPTER 4)

Kau dan aku sering bertemu di jam-jam yang nyaris sama. Gerbong yang sama, kursi yang berdekatan, suara roda kereta yang beradu dengan rel seolah sudah hafal ritme cerita kita. 

Setiap perjalanan selalu punya kisahnya sendiri, dan entah kenapa, kau selalu ada di sana untuk mendengarku.

Kau bertugas dan aku sebagai penumpangnya. Meski bukan setiap hari, tapi aku senang bisa melihatmu di weekend. 

Kadang kau datang untuk menemuiku di kotaku, sedangkan aku juga sering membawakanmu kopi di sela jam kerjamu. Sepulangnya kita tetap bisa bertemu, bahkan berbagi pelukan setelah seharian berkerja.

“Aku capek hari ini,” kataku pelan, menatap jendela yang memantulkan bayangan wajahku sendiri.

Kau tersenyum, mengusap kepalaku sebentar. “Long day?”

Aku mengangguk. Kau tertawa kecil, lalu mulai bercerita tentang harimu di kereta, tentang kopi yang tumpah di pagi hari, tentang penumpang yang membawa tiket palsu, tentang hal-hal sepele yang justru terasa hangat saat dibagi. 

Kereta melaju, dan percakapan kita ikut berjalan, kadang serius, kadang ringan.

“Sometimes, aku seperti kereta ini,” katamu tiba-tiba. “Always moving, but never really stopping.”

Aku menoleh. “Tapi setidaknya, hari ini keretanya kita berhenti di stasiun yang sama.”

Kau terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Angin dari celah jendela membawa suara pengumuman stasiun berikutnya. 

Kereta kembali berjalan, dan kali ini kita duduk lebih dekat dari biasanya. Tidak saling menatap, tapi aku bisa merasakan kehadiranmu—tenang, hangat, seperti keputusan yang sedang kau pertimbangkan dalam diam.

“Aku selalu duduk ditempat ini dan berhenti di stasiun yang sama,” kataku, memecah hening.

Kau melihat ke arahku dan tersenyum. Bukan seperti kondektur yang sedang memastikan tiket, tapi seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu. “Really?”  Kau senyum tipis. “I guess I should’ve known.”

Aku mengangkat bahu kecil. “Kamu sibuk jalan bolak-balik, mana sempat nanya penumpang satu ini.”

Kau tertawa.

Aku menoleh, sedikit terkejut. “You always sit around here,” lanjutmu pelan. “Dan kamu selalu punya waktu 10 menit buat ke toilet dulu sebelum akhirnya kamu nunggu dikursi penumpang kan, bu Aya?”

Aku tersenyum kecil. “So you were paying attention ya Pak Arif.”

Kau tersenyum lagi. “It’s part of my job,” katamu, lalu menambahkan, hampir seperti bicara pada diri sendiri,“Some routes just stay in your mind.”

Pemandangan di luar jendela berganti cepat, sawah, rumah-rumah kecil, lalu kembali menjadi bayangan yang samar. 

Aku bercerita tentang hariku, tentang hal-hal sederhana yang biasanya tak penting bagi siapa pun. 

Tapi kau mendengarkan, benar-benar mendengar.

“I like how you tell stories,” katamu pelan. “It feels… safe.”

Aku menelan ludah. “Hehe thank you loh, safe is good.” 

“Yes,” katamu, “especially when you’re tired of moving.”

Kereta sedikit melambat. Suara roda besi tak lagi tergesa. 

Aku menangkap isyarat itu—bukan dari kereta, tapi dari caramu menatap ke depan, seolah sedang membayangkan sesuatu.

“Kamu pernah nggak kepikiran,” kau bertanya hati-hati, “to stop for longer?”

Aku menoleh padamu. “Depends. Di stasiun yang bagaimana?”

Kau tersenyum, tidak langsung menjawab.

“The kind where you don’t feel the need to rush back on the train, Ya' ”

Aku terdiam. Dadaku terasa hangat, bukan karena kata-katamu, tapi karena caramu menyampaikannya tanpa janji, tanpa tekanan. 

Hanya keinginan yang perlahan tumbuh.

“And if I choose to stop,” lanjutmu, hampir berbisik, “I want it to be somewhere that I’m already comfortable with.”

Aku kembali menatap jendela, menyembunyikan senyumku. Kereta terus berjalan, tapi untuk pertama kalinya, aku tahu...

Aku bukan sekadar penumpang di perjalananmu

Aku adalah stasiun yang mulai kau inginkan...

Aku adalah perhentian yang mulai kau pertimbangkan...

Stasiun yang namanya belum kau ucapkan, tapi diam-diam sudah kau hafal jadwalnya.

Kereta mulai melambat. Pengumuman stasiun berikutnya terdengar samar, seolah memberi ruang pada detik yang tiba-tiba terasa penting.

Kau berdiri di sampingku, tidak lagi sebagai kondektur yang berkeliling memastikan semuanya baik-baik saja, tapi sebagai seseorang yang sedang menimbang keberanian. 

Tanganku masih di atas tas, diam.

Lalu kau meraih tanganku. Perlahan. Ragu-ragu.

Seperti seseorang yang tahu ini bukan bagian dari tugasnya, tapi tetap ingin melakukannya.

Aku menoleh. Kau tidak langsung menatapku.

“Kalau…,” katamu pelan, lalu berhenti sebentar. “Kalau suatu hari aku capek jalan terus di rute yang sama,” lanjutmu, suaramu rendah, “boleh nggak… aku berhenti di kamu?”

Aku terdiam. 

Jantungku berdegup lebih keras dari suara roda kereta.

Kau akhirnya menatapku, tidak mendesak, tidak meminta jawaban cepat.

“Not forever,” kau menambahkan cepat, lalu tersenyum kecil. “Just… see if it feels right.”

Aku membalas genggaman tanganmu. 

Tidak kuat, tapi cukup untuk membuatmu tahu. 

Cukup untuk mengatakan bahwa aku tidak menjauh.

“Stasiunku memang selalu sama,” kataku pelan. “Kamu tinggal pastikan, mau turun atau cuma lewat.”

Kau tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa kereta ini bukan lagi sekadar perjalanan pulang.

Ini adalah awal dari sesuatu yang sedang memilih untuk berhenti.

Kau menoleh lagi ke arahku, lalu tertawa kecil. 

“Isn’t it funny?” katamu, “kita baru beberapa bulan ngobrol, ketemu pun nggak sering… tapi rasanya kayak sudah lama saling tahu.”

Aku mengangguk pelan. “Aku juga mikir gitu,” jawabku. “Makanya aku nggak mau pura-pura santai. I don’t want to waste this feeling.”

Kau terdiam sebentar, lalu berkata,

“Aku nggak mau main-main. Kalau aku stay, it’s because I see something real here. Bukan cuma nyaman, tapi arah.”

Aku menatapmu, jujur tanpa ragu.

“Aku nggak butuh janji besar sekarang,” kataku. “Cukup tahu kamu nggak cuma lewat. Kalau kita jalan, let’s walk with intention.”

Kau mengangguk, senyummu lebih tenang dari sebelumnya.

Aku tersenyum.“Kita belajar bareng, salah bareng, tapi tetap satu tujuan.”

Kau menarik napas pelan, lalu berkata seolah sedang membicarakan hal biasa.

“Kamu percaya nggak,” lanjutmu, setengah tersenyum, “kalau pernikahan itu bukan soal waktu lama atau cepat, tapi soal ketemu orang yang tepat, then you just know.”

Dadaku menghangat. 

Aku diam, tapi kau tetap bicara, seolah ingin memastikan aku mendengar dengan utuh.

“Aku nggak datang buat janji kosong,” katamu. “Kalau aku stay, it’s with a plan. I don’t see you as a stopover.”

Aku menelan ludah.

Di dalam kereta yang terus berjalan, di antara orang-orang yang tak tahu apa-apa, aku sadar.

Ini bukan obrolan ringan.

Ini bukan sekadar wacana.

Ini caramu melamarku

Tanpa cincin, tanpa lutut bertekuk, tapi dengan niat yang duduk rapi di antara kata-kata.

Aku menoleh pelan, menatapmu lebih lama dari sebelumnya.

“Ini apa?” tanyaku akhirnya, suaraku rendah, nyaris bergetar. Memastikan kau sedang tidak mabuk.

Tidak ada angin atau hujan, kau tiba-tiba bilang serius. 

Kau tersenyum kecil, bukan senyum bercanda.

“Ini caraku,” jawabmu jujur. “Aku nggak pintar basa-basi. Kalau aku bicara sejauh itu, it means I’m serious.”

Kau lalu menatapku, kali ini tanpa menghindar. 

“Aku nggak datang buat ngetes perasaan,” lanjutmu. “Aku datang dengan niat. Pelan, iya. Tapi jelas.”

Aku menarik napas. “Jadi ini bukan sekadar kata-kata?” tanyaku lagi.

Kau menggeleng. “No,” katamu mantap. 

“This is me choosing you, in the way I know how. Aku nggak mau buru-buru, tapi aku juga nggak mau samar.” Kau tersenyum dan genggaman tanganmu lebih erat. 

Pengumuman stasiun terdengar samar, tanda kami sudah mendekati pemberhentian terakhir.

Lampu di dalam gerbong terasa lebih redup, atau mungkin hanya perasaanku yang sedang terlalu penuh.

Kau menoleh, menatapku seolah ingin memastikan satu hal sebelum waktu benar-benar habis.

“Aku nggak minta jawaban sekarang kok Ay,” katamu pelan. “I know this is a lot.”

Kereta mulai melambat.

Kau mendekat sedikit, ragu sesaat, lalu dengan sangat hati-hati mengecup keningku.

Singkat, hangat, penuh hormat.

“Take your time,” bisikmu. “Weekend depan… aku butuh jawabanmu. Not because I want to rush you, but because I’m ready.”

Aku memejamkan mata sejenak.

Di antara suara rem kereta dan langkah penumpang yang bersiap turun, aku tahu:

Ini bukan perpisahan biasa.

Ini jeda kecil sebelum sebuah keputusan besar.

Dan saat kereta akhirnya berhenti, aku turun dengan satu pertanyaan di dada.

Bukan lagi apakah aku siap, tapi apakah aku berani mengatakan iya.

Dan ini adalah caramu jujur, langsung, dan tanpa jalan pulang.
 
Kereta melaju, lampu stasiun berikutnya mulai terlihat. 

Di antara suara rel dan jarak yang belum sepenuhnya kami pahami, kami sepakat pada satu hal.

Ini mungkin belum lama.

Tapi ini cukup nyata untuk diperjuangkan.

to be continue...

Senin, 05 Januari 2026

Before the Last Station (CHAPTER 3)

Tibalah hari itu, hari dimana kau mengajakku untuk bertemu lagi. Setelah pertemuan kita di peron kereta.

Kafe itu lebih kecil dari yang kubayangkan.

Ruangannya ber-AC. Cat dindingnya warna krem hangat, jendelanya besar, dengan tanaman rambat yang sengaja dibiarkan sedikit liar. 

Disudutnya ada rangkaian bunga kering dan telpon jadul. Estetik. 

Cermin besar disebelahnya menambah kesan manis.

Lampu-lampu kuning menggantung rendah, seolah memang diciptakan untuk percakapan pelan dan tawa yang tidak ingin diperhatikan.

Aku datang lima menit lebih awal. Duduk di dekat jendela besar. Meletakkan tas. Menarik napas.

Tenang, kataku pada diri sendiri. Ini hanya kopi.

Pintu kafe terbuka.

Aku langsung tahu itu kau, bahkan sebelum mataku benar-benar fokus. 

Bukan karena seragam, hari ini kau mengenakan kemeja biru muda dan celana gelap. 

Tapi karena caranya berhenti sesaat di pintu, seperti ingin memastikan ruangan, sebelum akhirnya matanya menemukan aku.

Tatapan kami bertemu.

Kau tersenyum. Tidak berlebihan. 

Sama seperti di kereta. Aku membalasnya.

“Maaf kalau aku kepagian,” katamu saat sudah berdiri di depanku.

“Aku juga,” jawabku. “Seimbang berarti.”

Ia tertawa kecil, lalu duduk. Ada jeda singkat. 

Bukan canggung, lebih seperti dua orang yang sama-sama sadar: oh, ini benar-benar terjadi.

“Oh ini tempat lucunya.” kataku sambil melirik sekitar.

“Tuh kan,” katamu, nada suaranya mengandung kemenangan kecil. “Aku nggak bohong.”

Kami memesan kopi. Obrolan mengalir pelan tentang pekerjaannya yang sering membuat hari terasa panjang, tentang aku yang lebih suka mengamati daripada bercerita, tentang hal-hal ringan yang ternyata cukup untuk membuat waktu bergerak lebih cepat dari seharusnya.

Tidak ada sentuhan. Tidak ada gombalan.

Hanya tatapan yang terlalu sering bertahan sedikit lebih lama dari perlu. 

Dan senyum yang datang tanpa dipanggil.

“Aku senang kamu datang,” katamu tiba-tiba, di antara jeda.

Aku menatap cangkirku sebentar, lalu mengangkat kepala. 

“Aku juga.”

Di luar jendela, sore mulai condong. Cahaya matahari memantul di kaca, membuat kafe itu terlihat seperti potongan waktu yang sengaja disisihkan.

Dan di sanalah kita dua orang asing yang memutuskan duduk lebih lama dari rencana.

Kencan pertama itu tidak terasa seperti awal yang dramatis. 

Lebih seperti langkah kecil.

Tapi aku tahu, saat itu juga: beberapa langkah kecil memang tidak dibuat untuk mundur.

Kau duduk di hadapanku, kedua tanganmu melingkari cangkir. 

Uap kopi naik pelan, sama seperti caramu bercerita, tidak tergesa, tapi jujur.

Aku menatapmu, berusaha tidak menyela.

“Di umurku yang sekarang,” kataku akhirnya, suaraku lebih pelan dari biasanya, “orang-orang biasanya sudah sampai di satu titik.”

Kau tidak bertanya titik yang mana. Kau hanya menunggu.

“Aku sering ditanya kenapa belum menikah,” lanjutku. “Kadang aku sendiri juga bertanya hal yang sama. Bukan karena tidak ingin… tapi karena ada sesuatu yang tertinggal.”

Kau mengangguk kecil, seolah mengerti tanpa perlu detail.

Aku menatap meja. Kayunya halus, ada bekas goresan kecil yang tidak sempurna. Entah kenapa itu membuatku berani melanjutkan.

“Aku punya trauma,” kataku. “Yang bahkan sulit kujelaskan. Aku tidak tahu kapan tepatnya itu terbentuk, dan aku juga tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.”

Kalimat itu menggantung di antara kita. Aku mengira akan terasa berat. Tapi anehnya, tidak.

Kau menarik napas, lalu berkata pelan, “Terima kasih sudah cerita.”

Bukan kenapa

Bukan harusnya.

Hanya itu.

Aku mengangkat kepala. Menatapmu. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak merasa harus segera sembuh, harus kuat, atau harus menjelaskan semuanya dengan rapi.

“Aku nggak minta kamu paham,” kataku jujur. “Aku cuma… belum tahu harus mulai dari mana.”

Kau tersenyum, hangat, tidak menghakimi.

“Kita nggak harus mulai dari mana-mana hari ini,” katamu. “Kadang, duduk dan cerita aja sudah cukup.”

Di saat itu aku sadar ini hal yang baik.

Bukan karena kau menawarkan solusi.

Tapi karena kau memberiku ruang.

Meja cafe sedang terisi hanya tiga meja, termasuk meja kita. Waktu tetap berjalan. Tapi di antara aku dan kau, ada jeda kecil yang terasa aman.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku berpikir: tidak semua luka harus disembuhkan sendirian.

Aku menyesap kopi yang mulai dingin. Bukan karena lupa diminum, tapi karena pembicaraan barusan menyisakan rasa yang sulit diberi nama.

Kau masih di sana. Tidak berubah. Tidak terlihat ingin pergi atau mengganti topik.

“Itu hal yang besar,” katamu akhirnya. “Dan kamu nggak kelihatan seperti orang yang lari dari hidup. Kamu cuma… hati-hati.”

Kata itu menohok dengan cara yang lembut.

“Aku sering dibilang terlalu memilih,” kataku sambil tersenyum tipis. “Padahal yang sebenarnya, aku cuma takut salah lagi.”

Kau menatapku lama. Tidak intens, tidak menekan. Hanya cukup untuk membuatku merasa dilihat.

“Takut bukan berarti lemah,” katamu. “Kadang itu tanda kamu pernah peduli terlalu dalam.”

Aku menghela napas. Ada sesuatu di dadaku yang mengendur sedikit.

Aku ingin menceritakan lebih banyak. Tentang malam-malam yang membuatku ragu pada janji. Tentang contoh cinta yang tidak selesai dengan baik. 

Tapi kata-kata itu masih terkunci, dan aku belum punya kunci yang tepat.

“Aku nggak tahu apakah aku siap,” kataku jujur. “Untuk hubungan. Untuk pernikahan. Untuk… semua yang orang harapkan.”

Kau mengangguk. “Aku juga nggak datang ke sini dengan daftar rencana,” jawabmu. “Aku cuma penasaran sama kamu. Dan hari ini, itu cukup.”

Kalimat itu sederhana. Tapi tidak menuntut. Dan justru karena itu, aku mempercayainya.

Di luar, hujan mulai turun tipis. Membuat kaca jendela dipenuhi garis-garis air yang tidak beraturan.

“Kita sama-sama nggak harus memutuskan apa pun sekarang,” katamu sambil tersenyum kecil. “Kita cuma kenal dulu. Pelan saja.”

Aku menatapmu. Untuk pertama kalinya, kata pelan tidak terasa seperti menunda. Tapi seperti melindungi.

Aku mengangguk. “Pelan nggak apa-apa.”

Dan di antara suara hujan dan denting sendok di cangkir, aku tahu: jika ada sesuatu yang sedang dimulai, ia tidak lahir dari janji besar, melainkan dari dua orang yang memilih untuk tidak saling tergesa.

Dia terdiam sebentar, seolah sedang memilih bagian mana dari dirinya yang aman untuk dikeluarkan lebih dulu.

“Aku juga bukan datang tanpa alasan,” katamu akhirnya.

Aku menatapmu. Memberi isyarat agar kau lanjut.

“Aku terbiasa ketemu banyak orang,” kau tersenyum kecil, seperti menertawakan hidupmu sendiri. 

“Banyak cerita singkat, banyak perpisahan cepat. Tapi kamu… dari awal kelihatan beda.”

Aku mengernyit pelan. “Beda gimana?”

Kau tidak langsung menjawab. Matamu turun sebentar, lalu kembali menemuiku.

“Di matamu,” katamu pelan, “aku lihat orang yang sudah melewati banyak hal, tapi nggak jadi pahit. Kamu hati-hati, iya. Tapi bukan tertutup. Lebih seperti… orang yang masih mau percaya, walau tahu risikonya.”

Kalimat itu membuat dadaku menghangat sekaligus sesak.

“Aku ngerasa,” lanjutmu, “kalau aku datang ke hidupmu, bukan buat buru-buru mengubah apa pun. Tapi buat nemenin. Kalau kamu mau.”

Aku terdiam. Bukan karena kaget, tapi karena ada bagian dalam diriku yang merasa dikenali tanpa dibongkar paksa.

“Aku punya misiku sendiri,” katamu jujur. “Bukan menyelamatkan kamu. Aku tahu itu bukan tugasku. Tapi aku pengin jadi orang yang konsisten. Yang nggak datang cuma pas kamu terlihat kuat.”

Aku menelan ludah. Menjaga suaraku tetap stabil.

“Aku nggak menjanjikan apa-apa,” kataku. “Aku bahkan belum tahu bentuk diriku yang utuh.”

Kau tersenyum, lembut.
“Aku juga nggak minta janji,” katamu. “Aku cuma minta kesempatan untuk ada.”

Di saat itu aku sadar kadang, perasaan aman tidak datang dari kata selamanya, tapi dari seseorang yang tahu batas, namun tetap memilih mendekat.

Di pertemuan kedua itu, suasananya berbeda. 

Tidak lagi dipenuhi rasa penasaran yang canggung, tapi juga belum sepenuhnya nyaman. 

Seperti dua orang yang sudah saling tahu pintu masing-masing, tapi masih berdiri di ambang.

Kau duduk di hadapanku lagi. Tempatnya berbeda, tapi caramu menatapku tetap sama, tenang, tidak menuntut.

“Aku mau jujur,” katamu. “Kalau kamu mau, ke depannya… coba lebih terbuka.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Bukan sekarang. Bukan juga semuanya,” lanjutmu cepat, seolah tak ingin aku salah paham. “Pelan aja. Sedikit demi sedikit. Sesuai ritmemu.”

Aku menatapmu, mencoba membaca apakah ada tuntutan tersembunyi di balik kata-katamu. Tapi tidak kutemukan itu.

“Kita nggak punya ikatan,” katamu kemudian. “Dan aku nggak mau bikin kamu merasa terjebak.”

Kalimat itu justru membuat dadaku sedikit mengendur.

“Tapi,” kau menambahkan, suaramu lebih lembut, “aku percaya sama hal-hal baik ke depan. Aku percaya, selama kita jujur dan saling jaga, semuanya bisa tumbuh dengan sehat.”

Aku menarik napas panjang. Ada bagian dalam diriku yang ingin mundur, karena terlalu sering kata-kata manis berujung luka. 

Tapi ada juga bagian lain, yang jarang bersuara, yang ingin mencoba percaya lagi.

“Aku belum siap sepenuhnya,” kataku jujur. “Kadang aku bahkan belum siap dengan diriku sendiri.”

Kau mengangguk.

“Dan itu nggak apa-apa,” katamu. “Aku nggak ke mana-mana. Kita jalan sampai kamu siap. Kalau nanti ternyata kamu memilih berhenti, aku juga akan menghargainya.”

Tidak ada janji besar.

Tidak ada klaim kepemilikan.

Hanya keyakinan yang ditawarkan tanpa paksaan.

Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu: mungkin keterbukaan bukan tentang menceritakan semua luka, tapi tentang merasa aman untuk tidak dipaksa sembuh lebih cepat dari waktunya.

Ia menarik napas sebentar, seolah menimbang kata-katanya sendiri.

“Aku sudah bertemu banyak perempuan,” katamu akhirnya. Tidak dibanggakan, tidak juga disesali hanya sebuah fakta yang diletakkan di antara kami. “Dan justru karena itu… aku lelah.”

Aku diam, membiarkannya melanjutkan.

“Aku ingin berhenti di satu orang saja. Bukan karena tuntutan, bukan karena takut sendirian. Tapi karena rasanya aku ingin mencoba tinggal.” Kau menatapku, ragu tapi jujur. “Masalahnya, aku belum tahu apakah ini cinta atau perasaan sementara saja.”

Tidak ada pengakuan dramatis. Tidak ada kata selamanya.

Hanya kejujuran yang telanjang: keinginan untuk menetap tanpa kepastian perasaan yang sudah diberi nama.

Dan anehnya, itu tidak terdengar menakutkan. Justru terasa manusiawi. Karena mungkin cinta tidak selalu datang sebagai keyakinan penuh sejak awal kadang ia hadir sebagai niat untuk berhenti berkelana, dan keberanian untuk jujur bahwa perasaan itu masih belajar menjadi dirinya sendiri. 

Aku menyesap kopi pelan-pelan. Pahitnya tinggal di lidah, hangatnya turun perlahan, seperti percakapan ini tidak meledak, tapi meresap.

to be continue...

Sabtu, 03 Januari 2026

Before the Last Station (CHAPTER 2)

Kau melirik ponsel sebentar, lalu kembali menatapku.

“Ay, barusan aku lihat sekilas akunmu,” katanya, suaranya tetap santai. 

“Foto-fotomu… tenang dan you looks good.”

Aku mengangkat bahu kecil dan tersenyum. “Biasa aja, semua yang mau ku post aku post kok..hehe.”

“Iya, justru itu.” Kau tersenyum. “Nggak dibuat-buat.”

Aku tidak menanggapi langsung. Hanya mengangguk, membiarkan komentarmu lewat begitu saja. 

Ada semu yang aku sembunyikan.

Kau melanjutkan, lebih pelan, seolah memilih kata.

“Aku jadi kepikiran… aku punya tempat lucu buat dikunjungi. Kayaknya cocok sama vibe kamu.”

Aku menoleh kali ini, singkat. “Tempat apa?”

“Bukan yang rame,” katanya cepat, seakan membaca ekspresiku. “Tenang. Nggak jauh dari stasiun.”

Aku kembali menghadap ke depan. “Coffee Shop?”

Kau mengangguk. 

"Sounds nice."

Ia tertawa kecil, lega.

“Kalau suatu hari kamu mau sih...”

Aku tidak menjawab iya, juga tidak menolak.

“Lihat nanti ya, maybe bisa lah diatur,” kataku.

Kereta terus melaju. Dan di antara rel yang berulang itu, tawaran kecil tadi kubiarkan menggantung, tidak jatuh, tidak juga kuambil.

"Tempat lucu itu…” aku mengulang pelan, masih menatap ke depan. “Kayak apa?”

Kau tersenyum, seolah senang akhirnya aku bertanya.

“Kecil. Ada kopi. Nggak banyak orang. Biasanya aku ke sana kalau butuh jeda.”

Aku mengangguk. “Aku suka tempat yang nggak ramai.”

“Aku juga,” katanya cepat, lalu tertawa kecil. “Makanya kepikiran kamu.”

Kali ini aku menoleh lebih lama. Tidak menghindar.

“Kalau dekat stasiun,” kataku, “aku mungkin mau.”

Nada suaraku tetap tenang, tapi jujur. 

Tidak berputar-putar.

Ia terlihat menahan senyum. “Serius?”

“Serius,” jawabku singkat. “Tapi santai aja.”

“Selalu kok.” katamu.

Kereta melambat, pengumuman stasiun berikutnya terdengar. Aku menarik napas pelan.

Tidak semua keberanian datang dalam bentuk besar. Kadang, cukup dengan satu kalimat sederhana dan kemauan untuk berkata mungkin.

Kau berdiri sebentar, melangkah ke lorong gerbong.

Belum jauh, seseorang berseragam menyapamu.

“Rif.” Seseorang menyapa.

“Eh, Mas. Pagi?”

“Pagi dong. Eksekutif aman?”

“Aman. Penumpang juga banyak.”

“Siap. Nanti ketemu lagi di depan.”

“Iya mas.” Percakapan itu singkat, seperlunya. Setelahnya kau kembali ke tempat duduk.

“Maaf ya. Teman sejawat.”

“Kondektur?”

“Iya. Eksekutif.” Sambil duduk kembali.

“Pantes.”

“Kenapa?”

“Caramu ngobrol. Tenang.”

Ia tersenyum kecil, tidak berlebihan.“Kebiasaan kerja.”

“Emang kelihatan cocok.”

Kereta melaju tanpa hentakan besar. Aku kembali menghadap ke depan, tapi kali ini tidak sepenuhnya menutup diri. Tidak terburu-buru, seperti rel yang kami lewati sejak awal.

Kereta mulai melambat. Pengumuman stasiun berikutnya terdengar, disusul suara pintu yang bersiap dibuka.

Kereta berhenti sempurna. Beberapa penumpang naik, sebagian turun. 

Di tengah hiruk kecil itu, penjelasannya terasa sederhana tidak mengagungkan peran, tidak merendahkan diri.

Dan entah kenapa, justru dari caranya bercerita soal pekerjaan, aku melihat sisi lain darimu :
seseorang yang terbiasa bertanggung jawab, dan tetap tenang di antara banyak perjalanan.

Kereta kembali bergerak. 

Di layar kecil ujung gerbong, nama stasiun berikutnya menyala, stasiunku.

Kau melirik ke sana, lalu kembali menatapku. Ada jeda singkat sebelum ia bicara, seolah memilih waktu yang tepat.

“Kalau kamu nggak keberatan,” katanya pelan, “gimana kalau minggu depan?”

Aku mengangkat alis sedikit. “Minggu depan?”

“Iya,” lanjutnya. “Ke tempat lucu yang aku ceritain tadi. Santai aja. Nggak harus lama.”

Aku menarik napas pelan. Bukan ragu, lebih ke menimbang.

“Boleh deh.” kataku akhirnya. “Minggu depan ya.”

Wajahmu terlihat lega, tapi tetap terkendali. “Nanti aku kabari lewat direct message ya.”

Aku mengangguk. "Oke deh.”

Kereta mulai melambat. Aku berdiri, merapikan tas.

“Semangat kerjanya ya, kerja yang baik,” kataku singkat.

“Siap aman, selamat berkerja juga,” balasmu.

Pintu terbuka. Aku melangkah turun tanpa menoleh terlalu lama. 

Namun saat suara pintu menutup kembali, aku tahu: pertemuan ini tidak berhenti di rel.

Ia hanya berpindah ke waktu.

Peron terasa lebih bising dari dalam gerbong. Langkah orang-orang bersilangan, pengumuman stasiun bergaung, tapi kepalaku masih tertinggal beberapa menit yang lalu.

Aku berjalan menjauh sambil menahan senyum kecil yang hampir lolos.

Minggu depan.

Kalimat itu sederhana, tapi anehnya terasa penuh ruang. 

Seperti halaman kosong yang belum ditulis, bukan janji, bukan pula harapan, hanya kemungkinan.

Tanganku refleks membuka handphone. Belum ada notifikasi, tentu saja. Terlalu cepat. 

Aku menertawakan diri sendiri, lalu memasukkan handphone kembali ke tas.

Di belakangku, kereta kembali bergerak. Aku tidak menoleh. 

Bukan karena tak ingin, tapi karena beberapa hal memang lebih baik dibiarkan berjalan dulu, tanpa disaksikan.

Aku melangkah keluar stasiun dengan perasaan yang tak sepenuhnya bisa kusebut apa.

Bukan jatuh cinta.

Belum.

Hanya sebuah pertemuan yang menolak selesai di hari itu. 

Dan diam-diam, aku membiarkannya menunggu.

to be continue...

Kamis, 01 Januari 2026

Before the Last Station (CHAPTER 1)

Di sebuah kereta api ekonomi pagi hari, aku duduk menatap jendela, notes di handphone masih terbuka, pikiranku penuh target dan tenggat waktu. 

Aku seorang yang hidupnya selalu terjadwal rapi. 

Aku terbiasa bertemu banyak orang penting di ruang rapat, tapi tak pernah benar-benar memberi ruang untuk siapa pun masuk ke hidupku.

Kereta berguncang pelan saat seorang laki-laki, kau. Meminta izin duduk di depanku. Aku mengangguk singkat, masih menatap layar ponsel, tapi inderaku dari ujung mata keburu menangkap detailnya. 

Kemeja rapi berwarna pucat itu jatuh pas di bahumu, lengannya digulung setengah, jam tangan sederhana melingkar di pergelangan. 

Saat kau duduk, ada aroma wangi yang bersih, bukan menyengat, lebih seperti sabun dan sesuatu yang hangat, menenangkan.

Aku pura-pura fokus, padahal sudut mataku mencuri gerak-gerikmu.

Cara kau merapikan tas di kakinya, menarik napas sebelum membuka buku, dan senyum tipis yang muncul ketika kereta kembali bergetar. 

Sesekali pandangan kita bertemu, cepat-cepat sama-sama mengalihkan mata, seolah ada kesepakatan diam untuk tidak membuat momen itu terlalu nyata.

Di sela deru rel dan pengumuman stasiun, aku merasa waktu melambat. 

Bukan karena apa-apa, hanya karena kehadiranmu membuat gerbong yang biasanya biasa saja terasa berbeda. 

Hangat. 

Tenang. 

Dan entah kenapa, aku berharap perjalanan ini sedikit lebih panjang

Oke, fokus..fokus!

Aku menunduk, pura-pura membetulkan posisi tas di pangkuan. 

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat setiap kali kau bergeser. Ingin rasanya membuka percakapan, sekadar menanyakan tujuan atau mengomentari cuaca. 

Tapi kata-kata itu macet di tenggorokan. 

Aku takut terdengar canggung, takut tatapannya terlalu lama, takut pipiku memanas dan kau menyadarinya.

Jadi aku memilih diam. Menjadi penumpang yang rapi, yang sesekali menghela napas pelan, yang matanya sibuk ke luar jendela. 

Padahal di kepalaku, percakapan itu sudah terjadi berkali-kali: sapaan sederhana, senyum kecil, mungkin tawa singkat. 

Namun kenyataan hanya menyisakan jarak satu kursi dan keberanian yang belum sempat kutemukan.

Kereta terus melaju. Dan aku belajar satu hal hari itu, kadang yang paling berguncang bukanlah keretanya, melainkan perasaan sendiri yang berusaha tetap tenang.

Kau tiba-tiba menutup bukunya, menoleh sedikit ke arahku, lalu berkata dengan nada santai,

“Maaf, ini random banget… tapi kamu juga suka dengerin suara kereta nggak? Kayak… menenangkan tapi bikin mikir.”

Aku terkejut. Benar-benar di luar dugaan. 

Kepalaku refleks mengangguk sebelum mulutku sempat menyusun jawaban yang rapi.

“Iya,” kataku akhirnya, pelan tapi jujur. “Rasanya kayak lagi di-pause sebentar dari hidup.”

Kau tersenyum, kali ini lebih jelas. 

“Nah, itu. Aku selalu ngerasa di kereta tuh semua orang lagi bawa cerita masing-masing, tapi buat beberapa menit, kita ada di jalur yang sama.”

Kalimatnya sederhana, tapi caranya mengucap membuat dadaku hangat. Maluku yang tadinya kaku perlahan melunak. 

Aku berani menatapnya lebih lama, dan untuk pertama kalinya, malu itu berubah jadi nyaman. 

Percakapan mengalir pelan, seperti rel yang kita lewati tidak terburu-buru, tidak dipaksakan.

Dan di antara guncangan kecil kereta, aku sadar: keberanian memang kadang datang dari orang asing, lewat kalimat unik yang tak pernah kita duga.

Aku tetap menjaga jarak, menyimpan senyum di batas yang aman. Tidak semua rasa perlu diumumkan, tidak semua nyaman harus diakui.

Aku membiarkan suasana berjalan apa adanya, tanpa janji, tanpa harap berlebihan.

Di luar jendela, pemandangan berganti cepat, dan aku memilih fokus ke sana, seolah itu caraku bilang: aku baik-baik saja. 

Padahal di dalam, ada sesuatu yang diam-diam menetap, rapi, tidak ribut.

Kau bertanya lagi, kali ini lebih jelas.

"Hai kenalin aku Arif. Aku turun di stasiun terakhir karena aku berkerja disana. Kalau kamu?"

Bukan basa-basi, lebih seperti memastikan aku masih ada di percakapan.

Cara kau mengenalkan diri sederhana, tanpa nada ingin mengesankan. Justru itu yang membuatnya terdengar jujur.

Aku mengangguk pelan. "Aku Aya. Aku turun di stasiun X nisebelum stasiun terakhir." Tidak banyak respons, hanya cukup untuk menunjukkan aku mendengar.

Di kepalaku, informasi itu lewat begitu saja, tidak kuikat dengan makna apa pun—atau setidaknya, begitu yang ingin kupercaya.

Kereta kembali berguncang kecil. Aku membenahi posisi duduk, menjaga ekspresi tetap netral.
Tetap cool, tetap pada batas.

Kau mengangguk saat mendengar namaku, seolah menyimpannya sebentar lalu melepaskannya kembali. Tidak ada pertanyaan lanjutan, dan aku bersyukur untuk itu.

Kita kembali diam, tapi kali ini bukan diam yang canggung. Lebih seperti jeda yang disepakati tanpa perlu dibicarakan. Aku menatap lurus ke depan, membiarkan suara rel mengisi ruang di antara kita.

Sesekali aku menangkap pantulan wajahmu di kaca jendela sekilas, lalu hilang. 

Aku tidak menoleh. Beberapa hal lebih aman dirasakan tanpa ditatap langsung.

Teduh.

“Ngomong-ngomong soal kereta… aku pernah ketiduran sekali. Bangun-bangun udah kelewat tiga stasiun.” Ucapmu sambil tertawa kecil.

“Kelewat jauh?” Balasku.

“Lumayan. Harus muter balik. Sejak itu aku nggak berani merem lama kalau naik kereta.”

Aku tertawa kecil, kau berhasil membuatku tersenyum. “Berarti traumanya ringan.” Kusambung lagi.

“Iya. Tapi lumayan bikin kapok. Apalagi waktu itu lagi buru-buru.”

“Klasik banget ya.”

Kau mengangguk setuju, lalu menyandarkan punggung sebentar. Seolah ceritanya sudah cukup sampai di situ.

Kereta melaju stabil, suara rel kembali mengambil alih. Aku menatap ke depan, membiarkan senyum tadi memudar perlahan, bukan karena tidak nyaman, hanya karena aku terbiasa menaruhnya sebentar saja.

“Ada-ada aja kalau naik kereta,” katamu lagi, kali ini lebih pelan. Seperti terus mencari topik.

“Iya,” jawabku singkat. “Selalu ada cerita.”

Beberapa detik setelah pengumuman stasiun berikutnya terdengar, Kau kembali bicara. Nada suaranya lebih hati-hati dari sebelumnya.

“Ay, Boleh nggak… kalau kita tukeran social media?” katamu, tanpa menatap terlalu lama. “Kalau kamu nggak keberatan, Ay...”

Ay... terdengar seperti Ay....

"Hehe Aya ya, bercanda." Kau tertawa kecil.

Aku menoleh sebentar, menimbang. Tidak ada rasa terdesak di sana, dan itu membuatku nyaman.

“Boleh,” jawabku pelan dan membalas senyumnya. “Sini aku duluan yang follow kamu.”

Kau terlihat sedikit terkejut, lalu tersenyum. Mengeluarkan ponselmu, menyebutkan akun milikmu tanpa banyak penjelasan sederhana, apa adanya.

Aku menyimpannya, memastikan namanya benar. Baru setelah itu aku menyebutkan akunku sendiri, singkat, tanpa embel-embel.

Kita sama-sama menunduk sebentar, kembali ke layar masing-masing.

Tetap tenang. Tetap pada batas.

Dan entah kenapa, justru karena itu, semuanya terasa pas.

Nama itu muncul di layarku: Arif Maulana, salah satu staf KAI di Daop 9.

Tanpa bio panjang, tanpa kata-kata yang berusaha menjelaskan terlalu banyak. Hanya 19 foto-foto sederhanamu, potongan keseharian yang tampak jujur.

Aku tersenyum tanpa sadar.

Ternyata sesederhana itu kau di sosial media, tidak jauh berbeda dari caramu bercerita barusan.

Aku mengunci ponsel, mengangkat pandanganku lagi. Ekspresiku kembali netral, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja kutemukan.

Tetap cool

Tetap rapi.

Namun di dalam, ada satu kesimpulan kecil yang kuakui diam-diam: kadang orang yang tidak berusaha terlihat menarik, justru terasa paling nyata.

Kereta terus melaju. 

Dan untuk sesaat, kesederhanaan itu cukup.

to be continue...

Rabu, 31 Desember 2025

When Respect Matters More

Aku menulis ini dengan tenang, tanpa emosi, tanpa maksud menyerang siapa pun

Hanya ingin menyampaikan satu hal dengan cara yang baik dan beradab

Aku menyadari bahwa ada mata yang sering memperhatikan, mengikuti setiap postingan, setiap potongan hidup yang kubagikan di media sosial

Dan jujur saja, aku memilih untuk memahami sebelum menilai

Masa lalu adalah sesuatu yang tidak bisa kita ubah, dan bagiku, apa yang terjadi saat masa kuliah hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidup. It was long time ago, and it ended there

Tidak ada yang tersisa, tidak ada yang berlanjut, dan tidak ada yang ingin dihidupkan kembali

Hidup berjalan, semua orang tumbuh, dan setiap orang kini memiliki perannya masing-masing

Aku sangat menghormati ikatan pernikahan, komitmen, dan keluarga

Karena itu pula, aku menjaga batas, dalam sikap, pikiran, dan tindakan

Apa yang kutampilkan di media sosial adalah cerminan diriku hari ini, bukan undangan untuk masa lalu, apalagi ancaman bagi kehidupan orang lain

Jika ada rasa tidak nyaman, cemas, atau pertanyaan di dalam hati, aku berharap semuanya bisa diredakan dengan keyakinan dan kepercayaan

Because peace comes from within, not from constantly looking over someone else’s life 

Aku tidak bersaing, tidak membandingkan, dan tidak berada di posisi siapa pun

Aku hanya menjalani hidupku sendiri

Tulisan ini bukan untuk mempermalukan, bukan untuk menyudutkan, dan sama sekali bukan untuk menyakiti

Ini hanya penegasan yang lembut bahwa setiap orang berhak atas ruang aman, privasi, dan ketenangan

Aku memilih hidup dengan damai, dan aku juga mendoakan hal yang sama untuk orang lain

Semoga aku, kamu dan kita semua bisa melangkah maju, fokus pada apa yang kita miliki hari ini, dan melepaskan hal-hal yang sudah selesai pada waktunya

Tidak perlu mengintai orang lain atau membuat no mention di media sosial

Keep it respectful, keep it mature, No hard feelings, just clarity and boundaries

Selasa, 30 Desember 2025

Rain, Coffee, and Second Chances

Langkahmu terdengar dari sini 

Aku melihatmu buru-buru masuk ke dalam karena hujan diluar sangat deras 

Memesan sebentar ke kasir lalu berjalan ke arahku 

"Maaf ya telat, hujannya deras sekali"

Latte ku sudah tinggal setengah, aku tersenyum. "Nggak apa-apa"

Kau bergegas membuka jaketmu dan menaruh ponsel dimeja. Kau tersenyum. 

Kucium aroma parfum dari tubuhmu saat kau mengibaskan jaketmu dan melipatnya.

"Hai, apa kabar?" Kau mengulurkan tangan dan tersenyum ke arahku. 

"Seperti yang kamu lihat. Aku baik sekali. Kamu gimana?" 

Kau membuka kacamatamu dan mengelapnya, lalu tersenyum "Membaik karena ketemu kamu."

Aku tertawa kecil, "Makanya kalau kangen bilang."

Aku tahu sejak terakhir kali kita bertemu, kau dan aku tidak pernah membicarakan hal ini lagi. 

Kesannya hanya aku yang ingin perasaan ini terbalaskan, sedangkan kau tidak.

Aku masih ingat rasanya ketika kau mulai semua pembicaraan tentang kita

Yang kutangkap saat itu arahnya tidak ada kejelasan, yang membuatku mundur dan akhirnya memilih melupakanmu 

"Makanya aku ajak kamu ketemuan hari ini. Terima kasih ya udah mau dateng."

Kau membenahi rambutmu sebentar dan waiters datang dengan coklat panas no sugar favoritmu.

"I want to say something..."

"Ya?" aku menatap matamu

"I want to fix our relationship, can't we?" 

Aku tersenyum dan melihat ke arah luar. 

"Why? Apa alasannya untuk aku bisa nerima kamu lagi Ben?" Mataku menatap matamu, sekali lagi matamu menunjukan cinta itu 

"Kita perbaiki semuanya dan aku janji ke kamu nggak akan mengulang semuanya."

"Ben... we're divorced. Kenapa hal itu nggak kamu ulang selagi belum ketok palu?" Aku meyakinkan kau untuk mengingat.

"I know, it's my mistakes. Aku terlalu terburu-buru memutuskan sesuatu." Mata Ben seolah berharap padaku untuk mengiyakan ajakannya rujuk.

"Ben..."

"Please, i want you. Aku akan perbaiki semuanya, aku janji. Aku nggak bisa kalau nggak sama kamu."

"Ben..."

"Don't say anything please just give apologize to me."

"Ben?? Bisa gak kamu biarin aku bicara dulu?" 

Aku menghela napas, menahan rasa sesak yang tiba-tiba naik ke dada.

“Ben… masalah kita itu bukan soal orang ketiga,” kataku pelan tapi tegas. “Nggak pernah.”

Ben mengernyit, seolah belum sepenuhnya paham.

“Masalahnya kamu diam,” lanjutku. “Kamu ngilang tiap ada masalah. Kamu milih tutup diri, ninggalin aku sendirian dengan pikiranku sendiri.”

“Aku cuma butuh waktu,” sanggahnya cepat.

“Dan aku butuh kejelasan,” balasku. “Tiap kamu diam berhari-hari, aku bukan ngerasa kamu lagi nenangin diri. Aku ngerasa ditinggal. Dihukum tanpa tahu salahku apa.”

Ben menunduk. Tangannya mengepal di atas meja.

“Aku capek nebak-nebak perasaan kamu, Ben. Capek minta dijelasin. Capek jadi orang yang selalu mulai ngobrol, selalu minta maaf duluan supaya keadaan balik normal.”

Suasana di antara kami hening. Tapi hening yang ini berbeda—aku yang memilihnya.

Ben menatapku lagi, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu.”

“Aku tahu,” jawabku jujur. “Tapi niat baik nggak selalu bikin dampaknya jadi baik.”

Aku menatap lantai cukup lama sebelum akhirnya kembali duduk. Hujan masih turun, pelan tapi konsisten, seperti hatiku yang belum sepenuhnya tenang.

“Ben… silent treatment kamu itu bukan hal kecil,” kataku pelan. “It made me feel invisible.”

“I know,” jawabnya cepat, kali ini tanpa memotong. “And I’m so sorry I made you feel that way.”

Aku menatapnya. “Setiap kali kamu diem, aku ngerasa aku nggak cukup penting buat diperjuangin. I was talking to the walls, Ben.”

Ben menghela napas dalam. “I used to think being quiet was better than fighting. Tapi ternyata, my silence was hurting you more than words ever could.”

Ia menatapku lurus, suaranya bergetar tapi mantap.

“I’m learning now. Kalau aku marah, aku akan bilang. Kalau aku butuh waktu, aku akan jelasin. No disappearing, no shutting you out.”

Aku menggigit bibir. “Kamu tau kenapa aku capek banget?”

“Because you were alone… even when you weren’t supposed to be,” jawabnya lirih.

Aku terdiam. Jawaban itu tepat.

Ben meraih tanganku, ragu, seolah takut aku akan menariknya kembali.

“I don’t want to lose you again,” katanya. “Not because I’m lonely, but because I finally understand how to love you properly.”

“Aku takut, Ben,” jujurku. “Takut balik ke siklus yang sama.”

“That’s fair,” katanya. “But please let me prove it. Not with promises—dengan tindakan. If I ever go silent again, you have the right to walk away. No excuses.”

Aku menatap mata itu. Kali ini tak hanya cinta yang kulihat, tapi kesadaran.

“Kita nggak harus langsung sempurna,” kataku pelan. “But I need consistency. Communication. Effort.”

He nodded. “You’ll get all of it. Step by step. I choose you—every day, consciously.”

Air mataku jatuh tanpa suara. Aku tersenyum kecil di sela tangis.

“Okay,” kataku akhirnya. “Kita coba lagi. Slowly.”

Ben berdiri, duduk disebelahku dan menarikku ke dalam pelukannya, hangat dan penuh hati-hati.

“Thank you for giving us another chance,” bisiknya.

Aku menutup mata. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian saat diam.

Ben mendekat pelan, seolah menungguku memberi ruang. Tangannya masih menggenggam jemariku, hangat, tidak tergesa.

He looked at me, really looked—seakan ingin memastikan aku siap.

Then he leaned in.

Kecupan itu singkat, lembut, hampir ragu. Bibirnya menyentuh bibirku seperti sebuah permintaan, bukan tuntutan. Tidak ada nafsu, hanya penyesalan dan harapan yang disatukan dalam satu detik yang hening.

Aku menutup mata, membiarkan diriku merasakan kembali sesuatu yang lama hilang rasa aman.

Ben menarik wajahnya sedikit.
“I won’t disappear again,” bisiknya. “I promise I’ll stay… even when things get hard.”

Aku mengangguk pelan, dahi kami masih saling menempel.

“Then stay,” jawabku lirih. “Don’t go silent on me ever again.”

He smiled, a soft one.

“I won’t. Not anymore.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, diam di antara kami bukan lagi luka—melainkan jeda yang penuh makna.

Hujan di luar justru makin deras, mengetuk kaca kafe tanpa henti. Aku melirik ke arah pintu, lalu kembali menatap Ben.

“Looks like we’re stuck here,” ujarnya pelan, ada senyum kecil di sudut bibirnya.

Aku menatap hujan yang jatuh tanpa jeda. “Lucu ya,” kataku lirih. “Dulu, yang bikin aku kedinginan itu bukan hujan. Tapi diam kamu.”

Ben terdiam sejenak, lalu mengangguk. “And now I’m here. Talking. Staying.”

Kami duduk saling mendekat, berbagi kehangatan sederhana—bukan cuma dari jaket atau genggaman tangan, tapi dari kehadiran yang akhirnya utuh. Di luar hujan masih turun, tapi di antara kami, ada sesuatu yang perlahan menghangat kembali.

Aku menyandarkan kepala pelan ke bahunya. Tidak ada kata-kata besar, tidak ada janji berlebihan. Just quiet, warmth, and a choice to stay.

Dan kali ini, Ben tidak diam. 

“Never choose silence as a weapon.
Because love doesn’t need perfect words it needs presence, honesty, and the courage to stay.”

Rabu, 10 Desember 2025

Seen, Waiting, and Growing

It’s okay if they choose to get married and walk through life hand in hand

while I am still here fighting my own battles alone

Everyone has their own timing and path, and my journey doesn’t make me left behind

it means I am growing, healing, and becoming stronger in my own way

trusting that my time and happiness will come when it’s meant to

I keep reminding myself to be patient

because this season won’t last forever

Soon, all this waiting, all these quiet struggles, and all the lessons 

I’m learning will make sense

What is meant for me is getting closer, and when it arrives

it will come at the right time—whole, gentle, and worth every moment of patience

Sometimes I still feel that they care about me

in small and quiet ways that don’t need to be spoken

It reminds me that even though our paths are different now, the bond and kindness haven’t completely disappeared

Knowing that I am still seen, still remembered, gives me a sense of warmth and strength—it tells me that I am not entirely alone

and that my presence still matters, even in this chapter where I’m learning to stand on my own

Senin, 10 November 2025

Buku Untuk Perempuan

Aku menatap buku bersampul hitam dengan gambar mata perempuan 

Kembali ingatanku menguat dan memberanikan untuk membacanya kembali 

Sudah lama rasanya tidak melihat buku itu 

Ternyata didalam kerdus dengan buku-bukuku yang lain 

Tertarik aku mengambilnya dan membacanya lagi

Ya, tepat 11 tahun lalu, ada seseorang yang berbicara soal cinta dan perasaannya padaku 

Lewat sebuah tulisan yang dijadikannya sebuah buku 

Mengutip beberapa tulisan blogku, membuat foto mataku menjadi sampulnya...

Dan lirik lagu-lagu Sheila On 7, yang menghiasi setiap nama bab dalam buku 

Aku pernah membacanya di usiaku yang 22-28 tahun, rasanya masih risih dan geli 

Kubaca dengan melompat-lompat 

Dan baru kemarin aku membacanya ulang, di umurku yang ke 31 ini 

Aku baru menyadarinya... 

Bahwa pernah ada cinta dan rasa yang sebesar itu untukku, dikala itu ketika aku hanya tahu, cinta sebatas menyukai satu sama lain 

Bahwa disaat sekarang aku kembali ingin membalas rasa itu, aku merasa tidak pantas 

Bahawa disaat aku tahu, semuanya sudah terlambat dan tidak akan pernah kembali aku berusaha untuk legowo atas takdir-Nya

Aku tahu ini skeptis

Tak jarang orang bilang ini adalah cinta yang datangnya terlambat 

Menyadari semuanya tak lagi pernah akan sama 

Apalagi untuk diulang dan kembali 

Bertemu untuk membicarakan hal ini pun, rasanya tidak usah 

Aku tersenyum disetiap paragraf yang ditulis laki-laki ini 

Aku berusaha mengingatnya 

Paginya, aku melihat folder foto di tahun 2014

Saat mundur, aku tahu ternyata aku pernah dicintai sebesar itu olehnya 

Aku melihat detail yang dia ceritakan 

Aku menandai dengan penanda kertas berwarna, untuk menandai hal-hal yang selalu dia detailkan 

Mungkin bagi mereka, "tidak usah dicari apa yang sudah berlalu"

Tapi menatap lagi, gambar-gamabar yang ada...

Memang adanya kita hanya dipertemukan untuk sekadar memberi pelajaran saja

Intuisimu bahkan tidak pernah salah

Aku tersenyum, kau mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan 

Sedangkan aku sekarang sedang menunggu seseorang yang mencintaiku segila saat itu

Aku tahu kau masih disini 

Membaca semua tulisan-tulisanku 

Membaca hal yang aku tumpahkan disini 

Bahkan dulunya aku sangat open, menaruh nama blogku di Twitter atau Instagram... 

Tapi sekarang rasanya private dan tidak ada satupun yang tahu soal keberadaan blogku ini 

Selain orang-orang yang sengaja stalking atau menyimpan surelnya 

Aku tahu kau masih disini untuk hiburan dan membaca sekilas kisah yang kutulis 

I know...

Aku tidak tahu bila soft file yang kau pegang masih ada, atau sudah di delete permanent 

Aku tidak peduli sebenarnya

Hanya ingin berterima kasih

Terima kasih karena pernah mencintaiku sebesar itu

Dengan cara yang mungkin hanya kita yang tahu rasanya

It was real, in its own time

Tapi waktu berjalan, dan perasaan pun menemukan tempatnya masing-masing

Apa yang dulu terasa penting, kini menjadi kenangan

Bukan untuk diulang, hanya untuk diingat sebagai bagian dari proses tumbuh

Hari ini aku berdiri di hidupku sendiri

Tanpa membawa siapa pun dari masa lalu ke dalamnya

Bukan karena pahit, tapi karena sudah selesai

And I’m at peace with that

Jika kau masih membaca, kuharap bukan dengan rasa ingin memiliki

Melainkan dengan pengertian bahwa semua ini sudah menemukan akhirnya

Setiap orang berhak melangkah maju, termasuk kau dan aku

Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita dan terima kasih karena kini kita sama-sama memilih untuk menjaga jarak

Some stories are meant to stay in the past not forgotten, just not continued

Malang, Ranukumbolo dan Madakaripura