Aku memasuki mobil, menutup pintu dengan gerakan pelan, seolah tak ingin mengusik sisa-sisa hening yang tadi tercipta di antara kita.
Mesin menyala, tapi kau belum menoleh.
Pandanganmu masih lurus ke depan, rahangmu sedikit mengeras, tanda kau sedang menimbang sesuatu.
“About earlier…” katamu akhirnya, suaramu rendah, hampir tenggelam oleh dengung mesin. “I didn’t mean to rush you.”
Aku menatap ke depan, lampu jalan berderet seperti garis waktu yang sedang berjalan.
Tanganku bertumpu di paha, jemari sedikit gemetar.
Lampu jalan mulai berlarian di kaca jendela, memantulkan bayangan wajah kita yang tak sepenuhnya saling menatap.
“Kamu nggak terburu-buru,” jawabku pelan. “Kamu cuma jujur.”
Kau melirikku sebentar, lalu kembali fokus ke jalan.
Senyum kecil muncul, tapi tak sampai ke matamu.
“I just need to know,” lanjutmu, “apakah aku sendirian mikir sejauh ini, atau kamu juga… ada di titik yang sama.”
Mobil melaju konstan, tapi dadaku terasa berisik. Aku menautkan jemariku, menimbang kata-kata yang tak ingin sekadar jadi jawaban aman.
“Aku mungkin nggak secepat kamu,” kataku akhirnya, menoleh ke arahmu. “Tapi aku juga nggak lagi di persimpangan. Aku sedang berjalan ke arah yang sama.”
Kau terdiam. Lalu, tanpa menoleh, tanganmu bergerak sedikit, cukup dekat untuk kurasakan kehangatannya.
“Then maybe,” ujarmu pelan, “we don’t need to hurry. Kita cuma perlu terus jalan. Bareng.”
Aku tersenyum, kali ini tanpa ragu.
Mobil terus melaju, dan untuk pertama kalinya, arah di depan tak lagi terasa samar.
Mobil melambat di lampu merah. Kau menarik napas panjang, seolah akhirnya memberi ruang pada sesuatu yang sejak tadi kau simpan rapat.
“Ada satu hal,” kataku, memecah jeda.
Suaraku tenang, tapi jujur.
“Tentang masa lalu kamu. Yang belum benar-benar selesai itu… sometimes it comes to my mind.”
Kau menoleh. Kali ini lebih lama. Tak ada defensif di matamu, hanya kelelahan dan keinginan untuk dipahami.
“Siapa? Rika? I know,” jawabmu. “Aku nggak mau pura-pura itu nggak ada. Tapi ini udah berlalu."
Lampu berubah hijau, tapi kau tak langsung menekan gas.
“Itu pernah jadi bagian dari hidupku,” lanjutmu pelan. “Dan iya, it was messy. Ada yang tertinggal, ada yang belum sempat aku rapikan. Tapi aku udah sama kamu sekarang.”
Aku menelan ludah.
“Aku cuma takut jadi persinggahan. Takut berhenti sebentar, lalu kamu pergi lagi ke arah yang lama.”
Kau tersenyum kecil, kali ini getir. “Kalau aku masih mau ke sana, aku nggak akan duduk di mobil ini sama kamu.”
Tanganmu mencari tanganku, menggenggamnya dengan yakin.
“Masa lalu itu bukan tujuan. Itu pelajaran. Dan aku sudah selesai belajar.”
Aku menatap genggaman itu, mencoba percaya pada hangat yang nyata.
“Jadi kamu yakin?” tanyaku lirih.
Kau mengangguk. “Aku nggak janji semuanya mulus. Tapi aku janji satu hal, aku hadir. Kita jalan, kita perbaiki pelan-pelan. And we’ll be okay.”
Mobil kembali melaju.
Lampu-lampu kota berpendar di depan, dan untuk pertama kalinya, bayangan masa lalu tak lagi terasa mengejar dari belakang.
Menarik napas lagi, kali ini lebih dalam, lalu tersenyum tipis seolah sedang menata keberanianmu sendiri.
“Boleh aku nanya sesuatu?” ucapmu.
Aku mengangguk.
“Why does it still bother you?” tanyamu pelan, tanpa nada menyudutkan. “Kenapa kamu masih mengingat masa laluku, sementara aku sudah berdamai dengannya?”
Aku menoleh ke jendela, memperhatikan cahaya kota yang lewat satu per satu.
“Because i care, Ben” jawabku jujur. “Dan karena aku masuk ke hidupmu bukan dari awal. Aku datang setelah semuanya terjadi.”
Kau mengangguk kecil, memberi isyarat agar aku melanjutkan.
“Buat kamu, itu cerita lama,” kataku. “Buat aku, itu cerita yang baru aku dengar. Aku belum punya waktu sebanyak kamu untuk menutupnya. It's not same.”
Kau tersenyum samar. “That makes sense,” gumammu.
“Aku berdamai karena aku yang hidup di sana,” lanjutmu. “Aku tahu rasa sakitnya, aku tahu akhirnya. Tapi kamu cuma dapat potongan ceritanya. Tanpa sempat merasakan prosesnya."
Aku menatapmu.
“Dan kadang aku takut,” suaraku sedikit bergetar. “Takut aku dibandingkan. Takut aku mengulang luka yang sama.”
Kau memperlambat mobil, lalu berkata dengan suara yang lebih mantap.
“Hey… don’t compete with my past. Itu sudah selesai. Kamu bukan pengganti, kamu bukan lanjutan.”
Tanganmu mengusap punggung tanganku dengan lembut.
“Kamu adalah pilihan baru,” katamu. “Dan kalau kamu butuh waktu untuk berdamai juga, I’ll wait. Kita nggak harus sembuh di waktu yang sama.”
Aku tersenyum kecil, ada lega yang pelan-pelan turun di dadaku.
“Just don’t leave while I’m still learning to trust,” bisikku.
Kau menoleh, senyummu hangat dan yakin.
“I won’t. Aku di sini. Dan kali ini, aku benar-benar tinggal.”
Aku masih terdiam, memastikan perasaanku sendiri.
Memastikan kamu benar-benar tidak hidup di masa lalumu.
Hujan tiba-tiba turun deras.
Menghantam kaca mobil tanpa aba-aba, seolah ikut menyela pikiranku yang belum sepenuhnya rapi.
Kau memperlambat laju mobil, lalu tertawa kecil.
“Kayaknya hujannya ikut tegang,” katamu, mencoba mencairkan suasana.
Aku menoleh, senyumku tipis.
“Kamu yakin?” tanyaku lagi, lebih pelan. “Kamu nggak sedang tinggal di sana… di masa lalu itu?”
Kau tak langsung menjawab. Sebaliknya, kau menyalakan lampu sein, menepi sebentar di bawah pohon besar. Suara hujan jadi lebih jelas, lebih dekat.
“Lihat hujan itu,” ucapmu sambil menunjuk kaca depan. “It falls hard, noisy, annoying… but it always passes.”
Aku terdiam, mendengarkan.
“Aku nggak hidup di masa lalu,” lanjutmu. “Aku cuma pernah kehujanan di sana. Sekarang aku sudah di mobil ini, bareng kamu. Aman.”
Kau tersenyum, lalu mengubah topik dengan sengaja.
“Ngomong-ngomong,” katamu ringan, “kalau hujan gini, kamu tipe yang buka jendela dikit biar dengar suaranya, atau justru langsung tidur?”
Aku terkekeh kecil, akhirnya. “Aku yang dengerin hujan. It calms me down.”
“Good,” jawabmu cepat. “Berarti sekarang kamu bisa dengar hujan, bukan pikiranmu.”
Kau menaikkan volume lagu pelan, lagu yang entah kenapa terasa familiar dan hangat.
“Focus on this moment,” katamu. “Not what already ended.”
Aku menyandarkan kepala, napasku mulai teratur.
Di luar hujan masih deras, tapi di dalam mobil, ada rasa tenang yang perlahan tumbuh dibangun bukan dari janji besar, tapi dari caramu memilih hadir dan membuatku merasa aman, di sini, sekarang.
Mobil masih menepi di pinggir jalan. Lampu hazard menyala pelan, memantul di aspal basah yang berkilau oleh hujan.
Dunia seakan berhenti tepat di sana, di ruang sempit itu, di antara embun kaca dan napas kita yang belum sepenuhnya tenang.
Kau menurunkan volume lagu, lalu tersenyum lembut.
“Dengar nggak?” katamu pelan. “Suara hujan selalu bikin aku mikir… kalau ada hal yang belum selesai, alam pasti ribut. Kalau sudah selesai, yang tersisa cuma tenang.”
Aku menoleh. Tatapanmu tidak pergi ke mana-mana, tinggal di saat ini, di aku.
“Kamu aman sama aku,” lanjutmu. “And I’m here. Not yesterday. Not there.”
Kau melepas satu tangan dari setir, menggenggam jariku. Hangatnya nyata, menenangkan.
“Kita pelan saja,” bisikmu. “Aku nggak kemana-mana.”
Mesin mobil masih menyala, tapi kau belum lagi menjalankan mobil.
Tatapanmu jatuh ke tanganku, lalu naik perlahan ke wajahku.
“Hujannya belum reda,” katamu, tapi suaramu terdengar seperti alasan untuk tetap diam.
Aku tersenyum kecil. “Atau kamu memang belum mau jalan.”
Kau tertawa lirih. “Maybe both.”
Kau mengusap punggung tanganku dengan ibu jari, gerakan kecil yang terasa besar.
Aku menunduk. “Aku cuma ingin memastikan… aku bukan tempat singgah.”
Ada jeda yang tak perlu diisi kata. Hujan, napas kita, dan detak yang tiba-tiba seirama.
Kau mendekat sedikit, cukup dekat hingga aku bisa merasakan hangat napasmu.
“Kalau singgah,” bisikmu, “mesinnya pasti sudah mati. Tapi lihat...” kau menunjuk dada sendiri, “aku masih jalan. Dan arahnya ke kamu.”
Hujan mengetuk kaca lebih keras, lebih deras dari yang tadi.
Seperti ikut menurunkan air bah yang cantik ditengah kota yang sedang dingin ini.
Tanpa banyak pikir, aku kembali mendekat, kali ini lebih berani.
Bibirku menyentuh bibirmu singkat, lembut, penuh keyakinan yang baru tumbuh.
Kau terdiam sesaat, lalu tersenyum lebar, dahi kita bersentuhan.
“Okay,” katamu pelan. “I guess we’re really doing this.”
Aku mengangguk, jantungku tenang untuk pertama kalinya.
Kau membalas kecupan itu bukan dengan tergesa, tapi dengan keyakinan yang pelan.
Bibirmu menempel di bibirku lebih lama kali ini, mesra, hangat...seolah hujan deras di luar sengaja dibiarkan untuk menutup dunia selain kita.
Tak ada gerakan yang terburu.
Ciuman itu tenang, saling memahami.
Napas kita menyatu perlahan, dan aku bisa merasakan senyummu di sela sentuhan itu.
Kau menahan kepalaku dengan lembut, bukan untuk mendekatkan lebih jauh, tapi untuk mengatakan aku di sini.
Hujan menghantam kaca dengan ritme yang konstan, seperti musik latar yang tak perlu dipilih.
Di dalam mobil, hangatnya bertambah. Bukan karena api, tapi karena rasa aman yang akhirnya menemukan rumah.
Mobil masih menepi, hujan masih turun, tapi aku tahu, kita tidak sedang berhenti.
Kita hanya memberi waktu pada perasaan untuk sampai.
“Is that your way of saying you trust me?” tanyamu, hampir berbisik.
Aku mengangguk, jantungku masih berlari. “Maybe,” jawabku lirih. “Atau caraku bilang… aku ingin tinggal.”
Kau mengusap kepalaku dengan hati-hati, dahi kita hampir bersentuhan.
“Then stay,” katamu. “With me.”
Di luar, hujan masih turun deras, memisahkan kita dari dunia.
Di dalam mobil yang hangat, kita memilih diam, menikmati kehadiran satu sama lain.
Tak ada janji besar yang diucapkan, tapi ada keputusan kecil yang terasa nyata: untuk tinggal, untuk mencoba, untuk berjalan bersama, pelan, tapi searah.
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar