Di sebuah kereta api ekonomi pagi hari, aku duduk menatap jendela, notes di handphone masih terbuka, pikiranku penuh target dan tenggat waktu.
Aku seorang wanita karier yang hidupnya selalu terjadwal rapi.
Aku terbiasa bertemu banyak orang penting di ruang rapat, tapi tak pernah benar-benar memberi ruang untuk siapa pun masuk ke hidupku.
Kereta berguncang pelan saat seorang laki-laki meminta izin duduk di depanku. Aku mengangguk singkat, masih menatap layar ponsel, tapi inderaku dari ujung mata keburu menangkap detailnya.
Kemeja rapi berwarna pucat itu jatuh pas di bahunya, lengannya digulung setengah, jam tangan sederhana melingkar di pergelangan.
Saat ia duduk, ada aroma wangi yang bersih, bukan menyengat, lebih seperti sabun dan sesuatu yang hangat, menenangkan.
Aku pura-pura fokus, padahal sudut mataku mencuri gerak-geriknya.
Cara ia merapikan tas di kakinya, menarik napas sebelum membuka buku, dan senyum tipis yang muncul ketika kereta kembali bergetar.
Sesekali pandangan kami bertemu, cepat-cepat sama-sama mengalihkan mata, seolah ada kesepakatan diam untuk tidak membuat momen itu terlalu nyata.
Di sela deru rel dan pengumuman stasiun, aku merasa waktu melambat.
Bukan karena apa-apa, hanya karena kehadirannya membuat gerbong yang biasanya biasa saja terasa berbeda. Hangat. Tenang.
Dan entah kenapa, aku berharap perjalanan ini sedikit lebih panjang
Oke, fokus..fokus!
Aku menunduk, pura-pura membetulkan posisi tas di pangkuan.
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat setiap kali ia bergeser. Ingin rasanya membuka percakapan, sekadar menanyakan tujuan atau mengomentari cuaca.
Tapi kata-kata itu macet di tenggorokan.
Aku takut terdengar canggung, takut tatapannya terlalu lama, takut pipiku memanas dan ia menyadarinya.
Jadi aku memilih diam. Menjadi penumpang yang rapi, yang sesekali menghela napas pelan, yang matanya sibuk ke luar jendela.
Padahal di kepalaku, percakapan itu sudah terjadi berkali-kali: sapaan sederhana, senyum kecil, mungkin tawa singkat.
Namun kenyataan hanya menyisakan jarak satu kursi dan keberanian yang belum sempat kutemukan.
Kereta terus melaju. Dan aku belajar satu hal hari itu, kadang yang paling berguncang bukanlah keretanya, melainkan perasaan sendiri yang berusaha tetap tenang.
Ia tiba-tiba menutup bukunya, menoleh sedikit ke arahku, lalu berkata dengan nada santai,
“Maaf, ini random banget… tapi kamu juga suka dengerin suara kereta nggak? Kayak… menenangkan tapi bikin mikir.”
Aku terkejut. Benar-benar di luar dugaan.
Kepalaku refleks mengangguk sebelum mulutku sempat menyusun jawaban yang rapi.
“Iya,” kataku akhirnya, pelan tapi jujur. “Rasanya kayak lagi di-pause sebentar dari hidup.”
Ia tersenyum, kali ini lebih jelas.
“Nah, itu. Aku selalu ngerasa di kereta tuh semua orang lagi bawa cerita masing-masing, tapi buat beberapa menit, kita ada di jalur yang sama.”
Kalimatnya sederhana, tapi caranya mengucap membuat dadaku hangat. Maluku yang tadinya kaku perlahan melunak.
Aku berani menatapnya lebih lama, dan untuk pertama kalinya, malu itu berubah jadi nyaman.
Percakapan mengalir pelan, seperti rel yang kami lewati tidak terburu-buru, tidak dipaksakan.
Dan di antara guncangan kecil kereta, aku sadar: keberanian memang kadang datang dari orang asing, lewat kalimat unik yang tak pernah kita duga.
Aku tetap menjaga jarak, menyimpan senyum di batas yang aman. Tidak semua rasa perlu diumumkan, tidak semua nyaman harus diakui.
Aku membiarkan suasana berjalan apa adanya, tanpa janji, tanpa harap berlebihan.
Di luar jendela, pemandangan berganti cepat, dan aku memilih fokus ke sana, seolah itu caraku bilang: aku baik-baik saja.
Padahal di dalam, ada sesuatu yang diam-diam menetap, rapi, tidak ribut.
Ia bertanya lagi, kali ini lebih jelas.
"Hai kenalin aku Arif. Aku turun di stasiun terakhir karena aku berkerja disana. Kalau kamu?"
Bukan basa-basi, lebih seperti memastikan aku masih ada di percakapan.
Cara ia mengenalkan diri sederhana, tanpa nada ingin mengesankan. Justru itu yang membuatnya terdengar jujur.
Aku mengangguk pelan. "Aku Aya. Aku turun di stasiun X nisebelum stasiun terakhir." Tidak banyak respons, hanya cukup untuk menunjukkan aku mendengar.
Di kepalaku, informasi itu lewat begitu saja, tidak kuikat dengan makna apa pun—atau setidaknya, begitu yang ingin kupercaya.
Kereta kembali berguncang kecil. Aku membenahi posisi duduk, menjaga ekspresi tetap netral.
Tetap cool, tetap pada batas.
Ia mengangguk saat mendengar namaku, seolah menyimpannya sebentar lalu melepaskannya kembali. Tidak ada pertanyaan lanjutan, dan aku bersyukur untuk itu.
Kami kembali diam, tapi kali ini bukan diam yang canggung. Lebih seperti jeda yang disepakati tanpa perlu dibicarakan. Aku menatap lurus ke depan, membiarkan suara rel mengisi ruang di antara kami.
Sesekali aku menangkap pantulan wajahnya di kaca jendela sekilas, lalu hilang.
Aku tidak menoleh. Beberapa hal lebih aman dirasakan tanpa ditatap langsung.
“Ngomong-ngomong soal kereta… aku pernah ketiduran sekali. Bangun-bangun udah kelewat tiga stasiun.” Ucapnya sambil tertawa kecil.
“Kelewat jauh?” Balasku.
“Lumayan. Harus muter balik. Sejak itu aku nggak berani merem lama kalau naik kereta.”
Aku tertawa kecil, dia berhasil membuatku tersenyum. “Berarti traumanya ringan.” Kusambung lagi.
“Iya. Tapi lumayan bikin kapok. Apalagi waktu itu lagi buru-buru.”
“Klasik.”
Ia mengangguk setuju, lalu menyandarkan punggung sebentar. Seolah ceritanya sudah cukup sampai di situ.
Kereta melaju stabil, suara rel kembali mengambil alih. Aku menatap ke depan, membiarkan senyum tadi memudar perlahan, bukan karena tidak nyaman, hanya karena aku terbiasa menaruhnya sebentar saja.
“Ada-ada aja kalau naik kereta,” katanya lagi, kali ini lebih pelan.
“Iya,” jawabku singkat. “Selalu ada cerita.”
Beberapa detik setelah pengumuman stasiun berikutnya terdengar, Arif kembali bicara. Nada suaranya lebih hati-hati dari sebelumnya.
“Ay, Boleh nggak… kalau kita tukeran sosial media?” katanya, tanpa menatap terlalu lama. “Kalau kamu nggak keberatan, Ay...”
Ay... terdengar seperti Ay....
"Hehe Aya ya, bercanda." Sambungnya.
Aku menoleh sebentar, menimbang. Tidak ada rasa terdesak di sana, dan itu membuatku nyaman.
“Boleh,” jawabku pelan dan membalas senyumnya. “Sini aku duluan yang follow kamu.”
Ia terlihat sedikit terkejut, lalu tersenyum. Mengeluarkan ponselnya, menyebutkan akun miliknya tanpa banyak penjelasan sederhana, apa adanya.
Aku menyimpannya, memastikan namanya benar. Baru setelah itu aku menyebutkan akunku sendiri, singkat, tanpa embel-embel.
Kami sama-sama menunduk sebentar, kembali ke layar masing-masing.
Tetap tenang. Tetap pada batas.
Dan entah kenapa, justru karena itu, semuanya terasa pas.
Nama itu muncul di layarku: Arif Maulana, salah satu staf KAI di Daop 9.
Tanpa bio panjang, tanpa kata-kata yang berusaha menjelaskan terlalu banyak. Hanya 19 foto-foto sederhana, potongan keseharian yang tampak jujur.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Ternyata sesederhana itu dia di sosial media, tidak jauh berbeda dari caranya bercerita barusan.
Aku mengunci ponsel, mengangkat pandanganku lagi. Ekspresiku kembali netral, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja kutemukan.
Tetap cool. Tetap rapi.
Namun di dalam, ada satu kesimpulan kecil yang kuakui diam-diam:
kadang orang yang tidak berusaha terlihat menarik, justru terasa paling nyata.
Kereta terus melaju. Dan untuk sesaat, kesederhanaan itu cukup.
to be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar