Rabu, 07 Januari 2026

Before The Last Station (CHAPTER 4)

Kau dan aku sering bertemu di jam-jam yang nyaris sama. Gerbong yang sama, kursi yang berdekatan, suara roda kereta yang beradu dengan rel seolah sudah hafal ritme cerita kita. 

Setiap perjalanan selalu punya kisahnya sendiri, dan entah kenapa, kau selalu ada di sana untuk mendengarku.

Kau bertugas dan aku sebagai penumpangnya. Meski bukan setiap hari, tapi aku senang bisa melihatmu di weekend. 

Kadang kau datang untuk menemuiku di kotaku, sedangkan aku juga sering membawakanmu kopi di sela jam kerjamu. Sepulangnya kita tetap bisa bertemu, bahkan berbagi pelukan setelah seharian berkerja.

“Aku capek hari ini,” kataku pelan, menatap jendela yang memantulkan bayangan wajahku sendiri.

Kau tersenyum, mengusap kepalaku sebentar. “Long day?”

Aku mengangguk. Kau tertawa kecil, lalu mulai bercerita tentang harimu di kereta, tentang kopi yang tumpah di pagi hari, tentang penumpang yang membawa tiket palsu, tentang hal-hal sepele yang justru terasa hangat saat dibagi. 

Kereta melaju, dan percakapan kita ikut berjalan, kadang serius, kadang ringan.

“Sometimes, aku seperti kereta ini,” katamu tiba-tiba. “Always moving, but never really stopping.”

Aku menoleh. “Tapi setidaknya, hari ini keretanya kita berhenti di stasiun yang sama.”

Kau terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Angin dari celah jendela membawa suara pengumuman stasiun berikutnya. 

Kereta kembali berjalan, dan kali ini kita duduk lebih dekat dari biasanya. Tidak saling menatap, tapi aku bisa merasakan kehadiranmu—tenang, hangat, seperti keputusan yang sedang kau pertimbangkan dalam diam.

“Aku selalu duduk ditempat ini dan berhenti di stasiun yang sama,” kataku, memecah hening.

Kau melihat ke arahku dan tersenyum. Bukan seperti kondektur yang sedang memastikan tiket, tapi seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu. “Really?”  Kau senyum tipis. “I guess I should’ve known.”

Aku mengangkat bahu kecil. “Kamu sibuk jalan bolak-balik, mana sempat nanya penumpang satu ini.”

Kau tertawa.

Aku menoleh, sedikit terkejut. “You always sit around here,” lanjutmu pelan. “Dan kamu selalu punya waktu 10 menit buat ke toilet dulu sebelum akhirnya kamu nunggu dikursi penumpang kan, bu Aya?”

Aku tersenyum kecil. “So you were paying attention ya Pak Arif.”

Kau tersenyum lagi. “It’s part of my job,” katamu, lalu menambahkan, hampir seperti bicara pada diri sendiri,“Some routes just stay in your mind.”

Pemandangan di luar jendela berganti cepat, sawah, rumah-rumah kecil, lalu kembali menjadi bayangan yang samar. 

Aku bercerita tentang hariku, tentang hal-hal sederhana yang biasanya tak penting bagi siapa pun. 

Tapi kau mendengarkan, benar-benar mendengar.

“I like how you tell stories,” katamu pelan. “It feels… safe.”

Aku menelan ludah. “Hehe thank you loh, safe is good.” 

“Yes,” katamu, “especially when you’re tired of moving.”

Kereta sedikit melambat. Suara roda besi tak lagi tergesa. 

Aku menangkap isyarat itu—bukan dari kereta, tapi dari caramu menatap ke depan, seolah sedang membayangkan sesuatu.

“Kamu pernah nggak kepikiran,” kau bertanya hati-hati, “to stop for longer?”

Aku menoleh padamu. “Depends. Di stasiun yang bagaimana?”

Kau tersenyum, tidak langsung menjawab.

“The kind where you don’t feel the need to rush back on the train, Ya' ”

Aku terdiam. Dadaku terasa hangat, bukan karena kata-katamu, tapi karena caramu menyampaikannya tanpa janji, tanpa tekanan. 

Hanya keinginan yang perlahan tumbuh.

“And if I choose to stop,” lanjutmu, hampir berbisik, “I want it to be somewhere that I’m already comfortable with.”

Aku kembali menatap jendela, menyembunyikan senyumku. Kereta terus berjalan, tapi untuk pertama kalinya, aku tahu...

Aku bukan sekadar penumpang di perjalananmu

Aku adalah stasiun yang mulai kau inginkan...

Aku adalah perhentian yang mulai kau pertimbangkan...

Stasiun yang namanya belum kau ucapkan, tapi diam-diam sudah kau hafal jadwalnya.

Kereta mulai melambat. Pengumuman stasiun berikutnya terdengar samar, seolah memberi ruang pada detik yang tiba-tiba terasa penting.

Kau berdiri di sampingku, tidak lagi sebagai kondektur yang berkeliling memastikan semuanya baik-baik saja, tapi sebagai seseorang yang sedang menimbang keberanian. 

Tanganku masih di atas tas, diam.

Lalu kau meraih tanganku. Perlahan. Ragu-ragu.

Seperti seseorang yang tahu ini bukan bagian dari tugasnya, tapi tetap ingin melakukannya.

Aku menoleh. Kau tidak langsung menatapku.

“Kalau…,” katamu pelan, lalu berhenti sebentar. “Kalau suatu hari aku capek jalan terus di rute yang sama,” lanjutmu, suaramu rendah, “boleh nggak… aku berhenti di kamu?”

Aku terdiam. 

Jantungku berdegup lebih keras dari suara roda kereta.

Kau akhirnya menatapku, tidak mendesak, tidak meminta jawaban cepat.

“Not forever,” kau menambahkan cepat, lalu tersenyum kecil. “Just… see if it feels right.”

Aku membalas genggaman tanganmu. 

Tidak kuat, tapi cukup untuk membuatmu tahu. 

Cukup untuk mengatakan bahwa aku tidak menjauh.

“Stasiunku memang selalu sama,” kataku pelan. “Kamu tinggal pastikan, mau turun atau cuma lewat.”

Kau tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa kereta ini bukan lagi sekadar perjalanan pulang.

Ini adalah awal dari sesuatu yang sedang memilih untuk berhenti.

Kau menoleh lagi ke arahku, lalu tertawa kecil. 

“Isn’t it funny?” katamu, “kita baru beberapa bulan ngobrol, ketemu pun nggak sering… tapi rasanya kayak sudah lama saling tahu.”

Aku mengangguk pelan. “Aku juga mikir gitu,” jawabku. “Makanya aku nggak mau pura-pura santai. I don’t want to waste this feeling.”

Kau terdiam sebentar, lalu berkata,

“Aku nggak mau main-main. Kalau aku stay, it’s because I see something real here. Bukan cuma nyaman, tapi arah.”

Aku menatapmu, jujur tanpa ragu.

“Aku nggak butuh janji besar sekarang,” kataku. “Cukup tahu kamu nggak cuma lewat. Kalau kita jalan, let’s walk with intention.”

Kau mengangguk, senyummu lebih tenang dari sebelumnya.

Aku tersenyum.“Kita belajar bareng, salah bareng, tapi tetap satu tujuan.”

Kau menarik napas pelan, lalu berkata seolah sedang membicarakan hal biasa.

“Kamu percaya nggak,” lanjutmu, setengah tersenyum, “kalau pernikahan itu bukan soal waktu lama atau cepat, tapi soal ketemu orang yang tepat, then you just know.”

Dadaku menghangat. 

Aku diam, tapi kau tetap bicara, seolah ingin memastikan aku mendengar dengan utuh.

“Aku nggak datang buat janji kosong,” katamu. “Kalau aku stay, it’s with a plan. I don’t see you as a stopover.”

Aku menelan ludah.

Di dalam kereta yang terus berjalan, di antara orang-orang yang tak tahu apa-apa, aku sadar.

Ini bukan obrolan ringan.

Ini bukan sekadar wacana.

Ini caramu melamarku

Tanpa cincin, tanpa lutut bertekuk, tapi dengan niat yang duduk rapi di antara kata-kata.

Aku menoleh pelan, menatapmu lebih lama dari sebelumnya.

“Ini apa?” tanyaku akhirnya, suaraku rendah, nyaris bergetar. Memastikan kau sedang tidak mabuk.

Tidak ada angin atau hujan, kau tiba-tiba bilang serius. 

Kau tersenyum kecil, bukan senyum bercanda.

“Ini caraku,” jawabmu jujur. “Aku nggak pintar basa-basi. Kalau aku bicara sejauh itu, it means I’m serious.”

Kau lalu menatapku, kali ini tanpa menghindar. 

“Aku nggak datang buat ngetes perasaan,” lanjutmu. “Aku datang dengan niat. Pelan, iya. Tapi jelas.”

Aku menarik napas. “Jadi ini bukan sekadar kata-kata?” tanyaku lagi.

Kau menggeleng. “No,” katamu mantap. 

“This is me choosing you, in the way I know how. Aku nggak mau buru-buru, tapi aku juga nggak mau samar.” Kau tersenyum dan genggaman tanganmu lebih erat. 

Pengumuman stasiun terdengar samar, tanda kami sudah mendekati pemberhentian terakhir.

Lampu di dalam gerbong terasa lebih redup, atau mungkin hanya perasaanku yang sedang terlalu penuh.

Kau menoleh, menatapku seolah ingin memastikan satu hal sebelum waktu benar-benar habis.

“Aku nggak minta jawaban sekarang kok Ay,” katamu pelan. “I know this is a lot.”

Kereta mulai melambat.

Kau mendekat sedikit, ragu sesaat, lalu dengan sangat hati-hati mengecup keningku.

Singkat, hangat, penuh hormat.

“Take your time,” bisikmu. “Weekend depan… aku butuh jawabanmu. Not because I want to rush you, but because I’m ready.”

Aku memejamkan mata sejenak.

Di antara suara rem kereta dan langkah penumpang yang bersiap turun, aku tahu:

Ini bukan perpisahan biasa.

Ini jeda kecil sebelum sebuah keputusan besar.

Dan saat kereta akhirnya berhenti, aku turun dengan satu pertanyaan di dada.

Bukan lagi apakah aku siap, tapi apakah aku berani mengatakan iya.

Dan ini adalah caramu jujur, langsung, dan tanpa jalan pulang.
 
Kereta melaju, lampu stasiun berikutnya mulai terlihat. 

Di antara suara rel dan jarak yang belum sepenuhnya kami pahami, kami sepakat pada satu hal.

Ini mungkin belum lama.

Tapi ini cukup nyata untuk diperjuangkan.

to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar