Jumat, 02 Januari 2026

Before the Last Station (CHAPTER 2)

Arif melirik ponselnya sebentar, lalu kembali menatapku.
“Barusan aku lihat sekilas akunmu,” katanya, suaranya tetap santai. “Foto-fotomu… tenang dan you looks good.”

Aku mengangkat bahu kecil dan tersenyum. “Biasa aja, hehe.”

“Iya, justru itu.” Ia tersenyum. “Nggak dibuat-buat.”

Aku tidak menanggapi langsung. Hanya mengangguk, membiarkan komentarnya lewat begitu saja.

Ia melanjutkan, lebih pelan, seolah memilih kata.
“Aku jadi kepikiran… aku punya tempat lucu buat dikunjungi. Kayaknya cocok sama vibe kamu.”

Aku menoleh kali ini, singkat. “Tempat apa?”

“Bukan yang rame,” katanya cepat, seakan membaca ekspresiku. “Tenang. Nggak jauh dari stasiun.”

Aku kembali menghadap ke depan. “Sounds nice.”

Ia tertawa kecil, lega.
“Kalau suatu hari kamu mau sih....”

Aku tidak menjawab iya, juga tidak menolak.
“Lihat nanti ya, maybe bisa lah diatur,” kataku.

Kereta terus melaju. Dan di antara rel yang berulang itu, tawaran kecil tadi kubiarkan menggantung, tidak jatuh, tidak juga kuambil.

"Tempat lucu itu…” aku mengulang pelan, masih menatap ke depan. “Kayak apa?”

Ia tersenyum, seolah senang akhirnya aku bertanya.
“Kecil. Ada kopi. Nggak banyak orang. Biasanya aku ke sana kalau butuh jeda.”

Aku mengangguk. “Aku suka tempat yang nggak ramai.”

“Aku juga,” katanya cepat, lalu tertawa kecil. “Makanya kepikiran kamu.”

Kali ini aku menoleh lebih lama. Tidak menghindar.

“Kalau dekat stasiun,” kataku, “aku mungkin mau.”

Nada suaraku tetap tenang, tapi jujur. Tidak berputar-putar.

Ia terlihat menahan senyum. “Serius?”

“Serius,” jawabku singkat. “Tapi santai aja.”

“Selalu,” katanya.

Kereta melambat, pengumuman stasiun berikutnya terdengar. Aku menarik napas pelan.

Tidak semua keberanian datang dalam bentuk besar. Kadang, cukup dengan satu kalimat sederhana dan kemauan untuk berkata mungkin.

Arif berdiri sebentar, melangkah ke lorong gerbong.
Belum jauh, seseorang berseragam menyapanya.

“Rif.” Seseorang menyapanya.

“Eh, Mas.”

“Eksekutif aman?”

“Aman. Penumpang juga tenang.”

“Siap. Nanti ketemu lagi di depan.”

“Iya.” Percakapan itu singkat, seperlunya. Setelahnya Arif kembali ke tempat dudukku.

“Maaf ya. Teman sejawat.”

“Kondektur?”

“Iya. Eksekutif.” Sambil duduk kembali.

“Pantes.”

“Kenapa?”

“Caramu ngobrol. Tenang.”

Ia tersenyum kecil, tidak berlebihan.“Kebiasaan kerja.”

“Kelihatan cocok.”

Kereta melaju tanpa hentakan besar. Aku kembali menghadap ke depan, tapi kali ini tidak sepenuhnya menutup diri.

“Jadi… soal tempat lucu tadi.”

Aku melirik jam sebentar, lalu menoleh padanya.

“Kita bahas pelan-pelan.”

Ia mengangguk.
Tidak terburu-buru, seperti rel yang kami lewati sejak awal.

Kereta mulai melambat. Pengumuman stasiun berikutnya terdengar, disusul suara pintu yang bersiap dibuka.

Kereta berhenti sempurna. Beberapa penumpang naik, sebagian turun.
Di tengah hiruk kecil itu, penjelasannya terasa sederhana tidak mengagungkan peran, tidak merendahkan diri.

Dan entah kenapa, justru dari caranya bercerita soal pekerjaan, aku melihat sisi lain darinya:
seseorang yang terbiasa bertanggung jawab, dan tetap tenang di antara banyak perjalanan.

Kereta kembali bergerak. Di layar kecil ujung gerbong, nama stasiun berikutnya menyala, stasiunku.

Arif melirik ke sana, lalu kembali menatapku. Ada jeda singkat sebelum ia bicara, seolah memilih waktu yang tepat.

“Kalau kamu nggak keberatan,” katanya pelan, “gimana kalau minggu depan?”

Aku mengangkat alis sedikit. “Minggu depan?”

“Iya,” lanjutnya. “Ke tempat lucu yang aku ceritain tadi. Santai aja. Nggak harus lama.”

Aku menarik napas pelan. Bukan ragu, lebih ke menimbang.
“Boleh,” kataku akhirnya. “Minggu depan.”

Wajahnya terlihat lega, tapi tetap terkendali. “Nanti aku kabari lewat direct message ya.”

Aku mengangguk. “Iya.”

Kereta mulai melambat. Aku berdiri, merapikan tas.

“Kerja yang baik,” kataku singkat.

“Perjalanan yang aman,” balasnya.

Pintu terbuka. Aku melangkah turun tanpa menoleh terlalu lama.
Namun saat suara pintu menutup kembali, aku tahu: pertemuan ini tidak berhenti di rel.

Ia hanya berpindah ke waktu.

Peron terasa lebih bising dari dalam gerbong. Langkah orang-orang bersilangan, pengumuman stasiun bergaung, tapi kepalaku masih tertinggal beberapa menit yang lalu.

Aku berjalan menjauh sambil menahan senyum kecil yang hampir lolos.

Minggu depan. 

Kalimat itu sederhana, tapi anehnya terasa penuh ruang. Seperti halaman kosong yang belum ditulis, bukan janji, bukan pula harapan, hanya kemungkinan.

Tanganku refleks membuka ponsel. Belum ada notifikasi, tentu saja. Terlalu cepat. Aku menertawakan diri sendiri, lalu memasukkan ponsel kembali ke tas.

Di belakangku, kereta kembali bergerak. Aku tidak menoleh. Bukan karena tak ingin, tapi karena beberapa hal memang lebih baik dibiarkan berjalan dulu, tanpa disaksikan.

Aku melangkah keluar stasiun dengan perasaan yang tak sepenuhnya bisa kusebut apa.

Bukan jatuh cinta.
Belum.

Hanya sebuah pertemuan yang menolak selesai di hari itu. 

Dan diam-diam, aku membiarkannya menunggu.

to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar