Sabtu, 03 Januari 2026

Before the Last Station (CHAPTER 2)

Kau melirik ponsel sebentar, lalu kembali menatapku.

“Ay, barusan aku lihat sekilas akunmu,” katanya, suaranya tetap santai. 

“Foto-fotomu… tenang dan you looks good.”

Aku mengangkat bahu kecil dan tersenyum. “Biasa aja, semua yang mau ku post aku post kok..hehe.”

“Iya, justru itu.” Kau tersenyum. “Nggak dibuat-buat.”

Aku tidak menanggapi langsung. Hanya mengangguk, membiarkan komentarmu lewat begitu saja. 

Ada semu yang aku sembunyikan.

Kau melanjutkan, lebih pelan, seolah memilih kata.

“Aku jadi kepikiran… aku punya tempat lucu buat dikunjungi. Kayaknya cocok sama vibe kamu.”

Aku menoleh kali ini, singkat. “Tempat apa?”

“Bukan yang rame,” katanya cepat, seakan membaca ekspresiku. “Tenang. Nggak jauh dari stasiun.”

Aku kembali menghadap ke depan. “Coffee Shop?”

Kau mengangguk. 

"Sounds nice."

Ia tertawa kecil, lega.

“Kalau suatu hari kamu mau sih...”

Aku tidak menjawab iya, juga tidak menolak.

“Lihat nanti ya, maybe bisa lah diatur,” kataku.

Kereta terus melaju. Dan di antara rel yang berulang itu, tawaran kecil tadi kubiarkan menggantung, tidak jatuh, tidak juga kuambil.

"Tempat lucu itu…” aku mengulang pelan, masih menatap ke depan. “Kayak apa?”

Kau tersenyum, seolah senang akhirnya aku bertanya.

“Kecil. Ada kopi. Nggak banyak orang. Biasanya aku ke sana kalau butuh jeda.”

Aku mengangguk. “Aku suka tempat yang nggak ramai.”

“Aku juga,” katanya cepat, lalu tertawa kecil. “Makanya kepikiran kamu.”

Kali ini aku menoleh lebih lama. Tidak menghindar.

“Kalau dekat stasiun,” kataku, “aku mungkin mau.”

Nada suaraku tetap tenang, tapi jujur. 

Tidak berputar-putar.

Ia terlihat menahan senyum. “Serius?”

“Serius,” jawabku singkat. “Tapi santai aja.”

“Selalu kok.” katamu.

Kereta melambat, pengumuman stasiun berikutnya terdengar. Aku menarik napas pelan.

Tidak semua keberanian datang dalam bentuk besar. Kadang, cukup dengan satu kalimat sederhana dan kemauan untuk berkata mungkin.

Kau berdiri sebentar, melangkah ke lorong gerbong.

Belum jauh, seseorang berseragam menyapamu.

“Rif.” Seseorang menyapa.

“Eh, Mas. Pagi?”

“Pagi dong. Eksekutif aman?”

“Aman. Penumpang juga banyak.”

“Siap. Nanti ketemu lagi di depan.”

“Iya mas.” Percakapan itu singkat, seperlunya. Setelahnya kau kembali ke tempat duduk.

“Maaf ya. Teman sejawat.”

“Kondektur?”

“Iya. Eksekutif.” Sambil duduk kembali.

“Pantes.”

“Kenapa?”

“Caramu ngobrol. Tenang.”

Ia tersenyum kecil, tidak berlebihan.“Kebiasaan kerja.”

“Emang kelihatan cocok.”

Kereta melaju tanpa hentakan besar. Aku kembali menghadap ke depan, tapi kali ini tidak sepenuhnya menutup diri. Tidak terburu-buru, seperti rel yang kami lewati sejak awal.

Kereta mulai melambat. Pengumuman stasiun berikutnya terdengar, disusul suara pintu yang bersiap dibuka.

Kereta berhenti sempurna. Beberapa penumpang naik, sebagian turun. 

Di tengah hiruk kecil itu, penjelasannya terasa sederhana tidak mengagungkan peran, tidak merendahkan diri.

Dan entah kenapa, justru dari caranya bercerita soal pekerjaan, aku melihat sisi lain darimu :
seseorang yang terbiasa bertanggung jawab, dan tetap tenang di antara banyak perjalanan.

Kereta kembali bergerak. 

Di layar kecil ujung gerbong, nama stasiun berikutnya menyala, stasiunku.

Kau melirik ke sana, lalu kembali menatapku. Ada jeda singkat sebelum ia bicara, seolah memilih waktu yang tepat.

“Kalau kamu nggak keberatan,” katanya pelan, “gimana kalau minggu depan?”

Aku mengangkat alis sedikit. “Minggu depan?”

“Iya,” lanjutnya. “Ke tempat lucu yang aku ceritain tadi. Santai aja. Nggak harus lama.”

Aku menarik napas pelan. Bukan ragu, lebih ke menimbang.

“Boleh deh.” kataku akhirnya. “Minggu depan ya.”

Wajahmu terlihat lega, tapi tetap terkendali. “Nanti aku kabari lewat direct message ya.”

Aku mengangguk. "Oke deh.”

Kereta mulai melambat. Aku berdiri, merapikan tas.

“Semangat kerjanya ya, kerja yang baik,” kataku singkat.

“Siap aman, selamat berkerja juga,” balasmu.

Pintu terbuka. Aku melangkah turun tanpa menoleh terlalu lama. 

Namun saat suara pintu menutup kembali, aku tahu: pertemuan ini tidak berhenti di rel.

Ia hanya berpindah ke waktu.

Peron terasa lebih bising dari dalam gerbong. Langkah orang-orang bersilangan, pengumuman stasiun bergaung, tapi kepalaku masih tertinggal beberapa menit yang lalu.

Aku berjalan menjauh sambil menahan senyum kecil yang hampir lolos.

Minggu depan.

Kalimat itu sederhana, tapi anehnya terasa penuh ruang. 

Seperti halaman kosong yang belum ditulis, bukan janji, bukan pula harapan, hanya kemungkinan.

Tanganku refleks membuka handphone. Belum ada notifikasi, tentu saja. Terlalu cepat. 

Aku menertawakan diri sendiri, lalu memasukkan handphone kembali ke tas.

Di belakangku, kereta kembali bergerak. Aku tidak menoleh. 

Bukan karena tak ingin, tapi karena beberapa hal memang lebih baik dibiarkan berjalan dulu, tanpa disaksikan.

Aku melangkah keluar stasiun dengan perasaan yang tak sepenuhnya bisa kusebut apa.

Bukan jatuh cinta.

Belum.

Hanya sebuah pertemuan yang menolak selesai di hari itu. 

Dan diam-diam, aku membiarkannya menunggu.

to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar