Tibalah hari itu, hari dimana kau mengajakku untuk bertemu lagi. Setelah pertemuan kita di peron kereta.
Kafe itu lebih kecil dari yang kubayangkan.
Cat dindingnya warna krem hangat, jendelanya besar, dengan tanaman rambat yang sengaja dibiarkan sedikit liar.
Lampu-lampu kuning menggantung rendah, seolah memang diciptakan untuk percakapan pelan dan tawa yang tidak ingin diperhatikan.
Aku datang lima menit lebih awal. Duduk di dekat jendela. Meletakkan tas. Menarik napas.
Tenang, kataku pada diri sendiri. Ini hanya kopi.
Pintu kafe terbuka.
Aku langsung tahu itu kau, bahkan sebelum mataku benar-benar fokus. Bukan karena seragam, hari ini kau mengenakan kemeja biru muda dan celana gelap, tapi karena caranya berhenti sesaat di pintu, seperti ingin memastikan ruangan, sebelum akhirnya matanya menemukan aku.
Tatapan kami bertemu.
Kau tersenyum. Tidak berlebihan.
Sama seperti di kereta. Aku membalasnya.
“Maaf kalau aku kepagian,” katanya saat sudah berdiri di depanku.
“Aku juga,” jawabku. “Seimbang berarti.”
Ia tertawa kecil, lalu duduk. Ada jeda singkat. Bukan canggung, lebih seperti dua orang yang sama-sama sadar: oh, ini benar-benar terjadi.
“Oh ini tempat lucu,” kataku sambil melirik sekitar.
“Tuh kan,” katanya, nada suaranya mengandung kemenangan kecil. “Aku nggak bohong.”
Kami memesan kopi. Obrolan mengalir pelan tentang pekerjaannya yang sering membuat hari terasa panjang, tentang aku yang lebih suka mengamati daripada bercerita, tentang hal-hal ringan yang ternyata cukup untuk membuat waktu bergerak lebih cepat dari seharusnya.
Tidak ada sentuhan. Tidak ada gombalan.
Hanya tatapan yang terlalu sering bertahan sedikit lebih lama dari perlu.
Dan senyum yang datang tanpa dipanggil.
“Aku senang kamu datang,” katanya tiba-tiba, di antara jeda.
Aku menatap cangkirku sebentar, lalu mengangkat kepala.
“Aku juga.”
Di luar jendela, sore mulai condong. Cahaya matahari memantul di kaca, membuat kafe itu terlihat seperti potongan waktu yang sengaja disisihkan.
Dan di sanalah kami dua orang asing yang memutuskan duduk lebih lama dari rencana.
Kencan pertama itu tidak terasa seperti awal yang dramatis. Lebih seperti langkah kecil.
Tapi aku tahu, saat itu juga: beberapa langkah kecil memang tidak dibuat untuk mundur.
Kau duduk di hadapanku, kedua tanganmu melingkari cangkir. Uap kopi naik pelan, sama seperti caramu bercerita, tidak tergesa, tapi jujur.
Aku menatapmu, berusaha tidak menyela.
“Di umurku yang sekarang,” kataku akhirnya, suaraku lebih pelan dari biasanya, “orang-orang biasanya sudah sampai di satu titik.”
Kau tidak bertanya titik yang mana. Kau hanya menunggu.
“Aku sering ditanya kenapa belum menikah,” lanjutku. “Kadang aku sendiri juga bertanya hal yang sama. Bukan karena tidak ingin… tapi karena ada sesuatu yang tertinggal.”
Kau mengangguk kecil, seolah mengerti tanpa perlu detail.
Aku menatap meja. Kayunya halus, ada bekas goresan kecil yang tidak sempurna. Entah kenapa itu membuatku berani melanjutkan.
“Aku punya trauma,” kataku. “Yang bahkan sulit kujelaskan. Aku tidak tahu kapan tepatnya itu terbentuk, dan aku juga tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya.”
Kalimat itu menggantung di antara kita. Aku mengira akan terasa berat. Tapi anehnya, tidak.
Kau menarik napas, lalu berkata pelan, “Terima kasih sudah cerita.”
Bukan kenapa.
Bukan harusnya.
Hanya itu.
Aku mengangkat kepala. Menatapmu. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak merasa harus segera sembuh, harus kuat, atau harus menjelaskan semuanya dengan rapi.
“Aku nggak minta kamu paham,” kataku jujur. “Aku cuma… belum tahu harus mulai dari mana.”
Kau tersenyum, hangat, tidak menghakimi.
“Kita nggak harus mulai dari mana-mana hari ini,” katamu. “Kadang, duduk dan cerita aja sudah cukup.”
Di saat itu aku sadar—ini hal yang baik.
Bukan karena kau menawarkan solusi.
Tapi karena kau memberiku ruang.
Kafe tetap ramai. Waktu tetap berjalan. Tapi di antara aku dan kau, ada jeda kecil yang terasa aman.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, aku berpikir: tidak semua luka harus disembuhkan sendirian.
Aku menyesap kopi yang mulai dingin. Bukan karena lupa diminum, tapi karena pembicaraan barusan menyisakan rasa yang sulit diberi nama.
Kau masih di sana. Tidak berubah. Tidak terlihat ingin pergi atau mengganti topik.
“Itu hal yang besar,” katamu akhirnya. “Dan kamu nggak kelihatan seperti orang yang lari dari hidup. Kamu cuma… hati-hati.”
Kata itu menohok dengan cara yang lembut.
“Aku sering dibilang terlalu memilih,” kataku sambil tersenyum tipis. “Padahal yang sebenarnya, aku cuma takut salah lagi.”
Kau menatapku lama. Tidak intens, tidak menekan. Hanya cukup untuk membuatku merasa dilihat.
“Takut bukan berarti lemah,” katamu. “Kadang itu tanda kamu pernah peduli terlalu dalam.”
Aku menghela napas. Ada sesuatu di dadaku yang mengendur sedikit.
Aku ingin menceritakan lebih banyak. Tentang malam-malam yang membuatku ragu pada janji. Tentang contoh cinta yang tidak selesai dengan baik. Tapi kata-kata itu masih terkunci, dan aku belum punya kunci yang tepat.
“Aku nggak tahu apakah aku siap,” kataku jujur. “Untuk hubungan. Untuk pernikahan. Untuk… semua yang orang harapkan.”
Kau mengangguk. “Aku juga nggak datang ke sini dengan daftar rencana,” jawabmu. “Aku cuma penasaran sama kamu. Dan hari ini, itu cukup.”
Kalimat itu sederhana. Tapi tidak menuntut. Dan justru karena itu, aku mempercayainya.
Di luar, hujan mulai turun tipis. Membuat kaca jendela dipenuhi garis-garis air yang tidak beraturan.
“Kita sama-sama nggak harus memutuskan apa pun sekarang,” katamu sambil tersenyum kecil. “Kita cuma kenal dulu. Pelan.”
Aku menatapmu. Untuk pertama kalinya, kata pelan tidak terasa seperti menunda. Tapi seperti melindungi.
Aku mengangguk. “Pelan nggak apa-apa.”
Dan di antara suara hujan dan denting sendok di cangkir, aku tahu: jika ada sesuatu yang sedang dimulai, ia tidak lahir dari janji besar, melainkan dari dua orang yang memilih untuk tidak saling tergesa.
Dia terdiam sebentar, seolah sedang memilih bagian mana dari dirinya yang aman untuk dikeluarkan lebih dulu.
“Aku juga bukan datang tanpa alasan,” katamu akhirnya.
Aku menatapmu. Memberi isyarat agar kau lanjut.
“Aku terbiasa ketemu banyak orang,” kau tersenyum kecil, seperti menertawakan hidupmu sendiri.
“Banyak cerita singkat, banyak perpisahan cepat. Tapi kamu… dari awal kelihatan beda.”
Aku mengernyit pelan. “Beda gimana?”
Kau tidak langsung menjawab. Matamu turun sebentar, lalu kembali menemuiku.
“Di matamu,” katamu pelan, “aku lihat orang yang sudah melewati banyak hal, tapi nggak jadi pahit. Kamu hati-hati, iya. Tapi bukan tertutup. Lebih seperti… orang yang masih mau percaya, walau tahu risikonya.”
Kalimat itu membuat dadaku menghangat sekaligus sesak.
“Aku ngerasa,” lanjutmu, “kalau aku datang ke hidupmu, bukan buat buru-buru mengubah apa pun. Tapi buat nemenin. Kalau kamu mau.”
Aku terdiam. Bukan karena kaget, tapi karena ada bagian dalam diriku yang merasa dikenali tanpa dibongkar paksa.
“Aku punya misiku sendiri,” katamu jujur. “Bukan menyelamatkan kamu. Aku tahu itu bukan tugasku. Tapi aku pengin jadi orang yang konsisten. Yang nggak datang cuma pas kamu terlihat kuat.”
Aku menelan ludah. Menjaga suaraku tetap stabil.
“Aku nggak menjanjikan apa-apa,” kataku. “Aku bahkan belum tahu bentuk diriku yang utuh.”
Kau tersenyum, lembut.
“Aku juga nggak minta janji,” katamu. “Aku cuma minta kesempatan untuk ada.”
Di saat itu aku sadar kadang, perasaan aman tidak datang dari kata selamanya,
tapi dari seseorang yang tahu batas, namun tetap memilih mendekat.
Di pertemuan kedua itu, suasananya berbeda.
Tidak lagi dipenuhi rasa penasaran yang canggung, tapi juga belum sepenuhnya nyaman.
Seperti dua orang yang sudah saling tahu pintu masing-masing, tapi masih berdiri di ambang.
Kau duduk di hadapanku lagi. Tempatnya berbeda, tapi caramu menatapku tetap sama, tenang, tidak menuntut.
“Aku mau jujur,” katamu. “Kalau kamu mau, ke depannya… coba lebih terbuka.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Bukan sekarang. Bukan juga semuanya,” lanjutmu cepat, seolah tak ingin aku salah paham. “Pelan aja. Sedikit demi sedikit. Sesuai ritmemu.”
Aku menatapmu, mencoba membaca apakah ada tuntutan tersembunyi di balik kata-katamu. Tapi tidak kutemukan itu.
“Kita nggak punya ikatan,” katamu kemudian. “Dan aku nggak mau bikin kamu merasa terjebak.”
Kalimat itu justru membuat dadaku sedikit mengendur.
“Tapi,” kau menambahkan, suaramu lebih lembut, “aku percaya sama hal-hal baik ke depan. Aku percaya, selama kita jujur dan saling jaga, semuanya bisa tumbuh dengan sehat.”
Aku menarik napas panjang. Ada bagian dalam diriku yang ingin mundur, karena terlalu sering kata-kata manis berujung luka. Tapi ada juga bagian lain, yang jarang bersuara, yang ingin mencoba percaya lagi.
“Aku belum siap sepenuhnya,” kataku jujur. “Kadang aku bahkan belum siap dengan diriku sendiri.”
Kau mengangguk.
“Dan itu nggak apa-apa,” katamu. “Aku nggak ke mana-mana. Kita jalan sampai kamu siap. Kalau nanti ternyata kamu memilih berhenti, aku juga akan menghargainya.”
Tidak ada janji besar.
Tidak ada klaim kepemilikan.
Hanya keyakinan yang ditawarkan tanpa paksaan.
Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu:
mungkin keterbukaan bukan tentang menceritakan semua luka,
tapi tentang merasa aman untuk tidak dipaksa sembuh lebih cepat dari waktunya.
to be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar