Jumat, 09 Januari 2026

Before The Last Station (CHAPTER 5)

Hari-hari setelah itu berjalan pelan, seolah waktu sengaja memberiku ruang untuk berpikir.

Aku mencoba sibuk, mencoba tenang, mencoba jujur pada diriku sendiri. 

Tentang dia. 

Tentang niatnya. 

Tentang kemungkinan hidup yang tiba-tiba terasa nyata.

Jawabanku belum berbentuk kata, tapi rasanya sudah hampir.

Sampai satu sore, orang yang pernah meninggalkan aku di masa lalu, datang tanpa izin.

Sebuah nama muncul di layar ponsel nama yang seharusnya sudah selesai. 

Dadaku menegang. Jari-jariku dingin.

"Kamu apa kabar?”  

Pesan itu sederhana, tapi beratnya seperti menarikku mundur.

Kenangan yang kukira sudah rapi, tiba-tiba berisik. Luka lama yang kukira sembuh, berdenyut lagi.

Bukan karena rindu, tapi karena belum sepenuhnya dipahami.

Aku duduk lama, menatap layar tanpa membalas. Di kepalaku hanya ada satu hal : kenapa dia datang sekarang?

Dan untuk pertama kalinya sejak kecupan di kening itu, aku takut bukan pada dia, tapi pada bayangan diriku yang dulu, yang pernah salah memilih dan hampir melupakannya.

Weekend itu akhirnya datang.

Aku naik kereta dengan napas yang sudah kusiapkan sejak pagi. 

Jawabanku sudah ada—belum terucap, tapi utuh. Aku tahu apa yang ingin kukatakan padamu. 

Aku tahu ke mana aku ingin melangkah.

Sebelum kakiku melangkah ke dalam gerbong, seseorang memanggil namaku. 

Bukan suara asing. Justru terlalu kukenal.

Aku menoleh, dan waktu seakan mundur beberapa langkah.

Ia berdiri di sana—orang dari masa lalu yang pernah membuatku ragu pada banyak hal, termasuk diriku sendiri. 

Senyumnya masih sama, tapi rasanya berbeda. 

Tidak lagi rumah, hanya kenangan.

“Masih naik kereta yang sama?” tanyanya, seolah tak pernah ada jarak di antara kami.

Aku mengangguk pelan. Jantungku sempat berhenti sepersekian detik, bukan karena cinta, tapi karena ingatan. 

Tentang aku yang dulu yang mudah goyah, yang selalu menunggu diselamatkan.

“Kelihatannya kamu baik-baik saja sekarang,” katanya lagi.

Aku tersenyum. Kali ini bukan senyum untuk menyenangkan orang lain.

“Oh ya, tentu,” jawabku singkat.

“Syukurlah.” Ia terdiam, lalu melangkah lebih dekat.

"Aku gak nyangka kita ketemu disini. Aku… mau minta maaf,” ucapnya cepat, seolah takut kehilangan momen.“Untuk semua yang dulu. Untuk caraku yang salah.”

Aku mengangguk kecil. Kata maaf itu kudengar utuh, tapi tidak lagi menggenggamku.

Aku berbalik, bersiap menuju pintu kereta. Namun langkahku terhenti saat suara langkahnya menyusul.

“Tunggu,” katanya, kali ini terburu-buru.

Ia mengejar, berdiri di sampingku. “Aku tahu aku terlambat. Tapi aku lihat kamu sekarang… dan aku sadar aku masih...”

Aku menoleh. Tatapanku tenang, bukan dingin.

“Can't you stop?” kataku pelan, tapi jelas.

Kereta hampir berangkat.

Aku bisa memilih untuk tinggal, untuk mendengar sisa kalimat yang dulu mungkin akan kuharapkan.

Tapi hari ini, aku memilih diriku sendiri.

“Aku menghargai permintaan maafmu,” lanjutku. “Tapi aku sudah berjalan terlalu jauh untuk kembali ke titik yang sama dan tidak akan pernah balik.”

Peluit terdengar.

Aku melangkah masuk tanpa menoleh lagi.

Dan saat pintu menutup, aku tahu bukan dia yang kutinggalkan melainkan versi lama dari diriku yang dulu selalu menunggu.

Kereta mulai melaju. Nafasku akhirnya teratur, seolah tubuhku baru saja melepaskan sesuatu yang lama menggenggam.

Aku berdiri sejenak di dekat pintu, membiarkan pemandangan di luar bergerak mundur. 

Di stasiun berikutnya, kereta melambat.

Pintu terbuka.

Dan di antara orang-orang yang naik tergesa, aku melihat kau.

Kau menoleh, mata kita bertemu. Tidak ada keterkejutan berlebihan, hanya senyum kecil—seperti dua orang yang sama-sama tahu: kita tepat waktu.

Kau duduk di depanku, lalu bertanya pelan,

“Gimana perjalanannya?”

Sambil menyodorkan kopi yang kubeli tadi untukmu, "Aman pak Arif. Berjalan lancar."

Kau tertawa kecil, menerima gelas itu. “Rapi banget ya bu Aya, kayak laporan.”

Aku ikut tersenyum. “Baru saja menyelesaikan satu urusan,” jawabku singkat.

Kau tidak bertanya lebih jauh.

Hanya mengangguk, menyesap kopi, lalu menatap keluar jendela sebentar sebelum kembali menatapku.

“Kalau begitu,” katamu pelan, “sekarang giliran kita jalan pelan-pelan.”

Aku memang menyiapkan jawaban di weekend ini. 

Bukan karena ragu, tapi karena I wanted to be honest with you, and with myself.

Lamaran itu, yang sempat kau katakan weekend Minggu lalu, sempat menggantung di antara kita.

You didn’t push. You didn’t rush me.

Kau cuma bilang, “Take your time. I’ll wait.”

Sekarang kita duduk berhadapan lagi.

Kereta yang sama, arah yang sama, tapi aku bukan orang yang sama.

Aku menatapmu, tanganku tenang di pangkuan, napasku tidak lagi tercekat.

“I’m ready to answer,” kataku pelan.

Kau meletakkan kopimu, menatapku penuh. “Whatever it is,” ujarmu lembut, “I’m here.” 

Matamu menatapku penuh tanpa ekspektasi yang membebani.

Aku menarik napas. 

“I’m not coming into your life to be rescued,” kataku pelan. "Aku datang karena aku memilih kamu. Because I’m ready to walk together.” 

Kau tersenyum. Bukan senyum lega, tapi senyum orang yang benar-benar paham.

Lalu kau berkata, suaramu rendah dan tenang,

“Aku nggak minta kamu berubah jadi siapa-siapa.”

Yang tidak merasa menang, tidak merasa harus mengikat hanya senyum seseorang yang akhirnya sejajar.

“I don’t want to own you. I want to walk with you.” katamu pelan dan menggengam tanganku lebih erat.

Kau melanjutkan, “Kalau suatu hari kamu mau berjalan lebih cepat, aku akan menyesuaikan. Kalau kamu capek dan perlu berhenti, aku akan duduk di sampingmu. Bukan di depan, bukan di belakang.”

Aku melanjutkan, suaraku tetap tenang, “Aku nggak datang untuk diselamatkan, dan aku juga nggak minta kamu jadi segalanya. Aku cuma mau kita jalan berdampingan. Sama-sama utuh.”

Kau mengangguk pelan, menatapku tanpa menyela.

Di matamu tidak ada tuntutan, hanya penerimaan.

Kata-katamu tidak terdengar seperti janji besar, tapi justru itu yang membuatku yakin.

Karena untuk pertama kalinya.

Aku tidak merasa dipilih, aku merasa dihormati.

Aku terdiam sejenak. 

Bukan karena bingung, tapi karena kata-katamu jatuh tepat di tempat yang selama ini kujaga.

Kereta berguncang pelan, seolah ikut mengingatkan bahwa perjalanan tidak selalu mulus.

Aku menatap jendela, lalu kembali padamu.

“You know,” kataku lirih, “aku takut bukan pada pernikahan… tapi pada kehilangan diriku sendiri di dalamnya.”

Kau mengangguk, seolah sudah menduga.

“Then don’t lose yourself,” jawabmu lembut. “Aku jatuh cinta justru pada versi kamu yang berdiri sendiri.”

Kau meraih tanganku, menggenggam erat, hangat. 

“Kalau nanti kita menikah,” lanjutmu,“aku mau kamu tetap punya dunia kamu. Mimpimu, caramu, waktumu. Aku nggak mau jadi pusat hidupmu. Aku mau jadi partner buat kamu Ya'.”.

Di titik itu, dadaku hangat. 

Bukan oleh kata selamanya, tapi oleh rasa aman yang tidak menuntut.

Aku tersenyum, kali ini tanpa pertahanan. 

“Then… yes,” kataku pelan. “Yes, with you. With this way.”

Kereta terus melaju. Dan aku tahu, jawaban ini bukan akhir cerita, ini awal perjalanan yang akhirnya ingin kutempuh, dengan sadar dan tanpa takut. 

Sebelum stasiun terakhir diumumkan, kau menoleh lagi padaku. 

Nada suaramu santai, tapi matamu menyimpan rencana kecil.

“Aku mau ngajak kamu ke satu tempat.”

Aku mengangkat alis, setengah penasaran.

“Tempat apa?” tanyaku.

Kau tersenyum tipis.

"Pokoknya ikut aja ya." Kau melanjutkan, “Aku nggak mau bawa kamu ke sana sebagai kejutan besar. Aku cuma mau kamu tahu ini salah satu bagian dari hidupku.”

Kereta melambat.

Aku menatapmu, lalu mengangguk pelan. 

Dan di momen itu aku sadar, kau tidak mengajakku pergi untuk mengesankan, tapi untuk memperkenalkan sebuah langkah kecil, yang terasa jauh lebih berarti.

Mobil melambat, lalu berhenti di depan sebuah rumah di dalam perumahan cluster. 

Gerbangnya tidak tinggi, tapi rapi. Jalanannya tenang, dipayungi pepohonan yang sudah tumbuh matang, seolah tempat ini memang dibangun untuk pulang, bukan sekadar tinggal.

Rumah itu bergaya klasik sederhana.

Halamannya bersih, warna krem hangat dengan sentuhan kayu di pintu utama. 

Jendelanya besar, memberi kesan terang dan terbuka. 

Tidak berlebihan, tapi terasa timeless seperti rumah yang tidak takut menua bersama penghuninya.

“Kita di sini,” katamu pelan.

Aku turun dari mobil, menatap sekeliling. Cluster ini sunyi dengan cara yang menenangkan. 

Ada taman kecil di ujung jalan, lampu-lampu halaman menyala lembut, dan udara sore yang tidak tergesa.

Kau berdiri di sampingku. 

“Aku nggak cari rumah yang paling besar,” ujarmu. “Aku cari tempat yang bisa bikin kita pulang dengan tenang. Jadi kamu bisa stay dan kerja juga di kota ini.” 

Aku menatap rumah itu lagi, lalu menatapmu. 

Di dadaku tidak ada rasa asing.

Hanya perasaan hangat—seperti sedang berdiri di depan sesuatu yang perlahan akan menjadi kita.

Dan untuk pertama kalinya, kata rumah tidak terdengar seperti rencana jauh.

Ia terasa nyata, dekat, dan mungkin.

“Ini… feels calm,” kataku pelan. “Kayak nggak ribut, nggak pamer.”

Kau tersenyum kecil.

“That’s the point,” jawabmu. “Aku pengin rumah yang bisa bikin kita breathe.”

Aku memperhatikan detailnya, warna hangat, jendela besar, halaman kecil yang rapi.

“Classic ya,” ujarku. “Not trying too hard.”

“Exactly,” katamu. “Aku mikir, kalau capek sama dunia, this should be the place we come back to.”

Aku menoleh ke arahmu.

"Interior kamu bisa isi dengan warna dan design yang kamu suka. Aku ikut apapun itu yang buat kamu nyaman Ya'," katamu sambil menggenggam tanganku.

“So… this is where you see us?” tanyaku, setengah bercanda tapi serius.

Kau mengangguk.

“Yeah. Not perfect, but comfortable. Tempat kita berantem baik-baik, ketawa, diam bareng.”

Aku tersenyum, dadaku menghangat.

“I can see myself here,” jawabku jujur. “Growing, not disappearing.”

Kau menatapku lama, mendekat dan mencium keningku pelan. 

“Then let’s build it slowly. No rush. Just us.”

Dan di depan rumah itu, aku tahu ini bukan sekadar properti. 

This wasn’t the end of the journey, it was where we finally chose to stay.

Dan di momen itu, aku tahu ini bukan kebetulan. 

Ini pertemuan dua orang yang akhirnya selesai dengan dirinya sendiri.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar