Tampilkan postingan dengan label AyahIbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AyahIbu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 September 2023

dear Ayah

dear Ayah 

how are you? 

in the future i may love another man 

and someday i'll marry him 

but let me remind you 

that no matter what happens, i'll love you and you'll always be the best man i know 

i want my future husband dan my unborn son to be like you 

i will always be your little girl Ayah 

love, Lia

Minggu, 10 Juli 2022

Should You

it is the two parents who cry so that their children can laugh

they go through sorrow so that their children can be happy

and they endure hardship so that their children can have ease

it is the parents who go through hunger so their children can be fed and go through thirst so their children can be quenched

they are like a candle that burns and melts away so that their children can find light

treating parents well is a trust that children bear the duty of and no one should try to let it grow old

on the contrary with the passing of days and years, people should let it be increased in beauty, consistency and renewal

Kamis, 15 Oktober 2020

Nenek Tersayang

Cukup 26 tahun Nenek nemenin aku 
Cukup 24 tahun Nenek nemenin Indra
Cukup 23 tahun Nenek nemenin Tika dan Indri
Cukup 20 tahun Nenek nemenin Dewi 
Cukup  5  tahun Nenek nemenin Habibie

Sudah 72 tahun Nenek nemenin kita semua
Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, pemilik segala alam semesta lebih menyayangi Nenek

Minggu, 23 Agustus 2020 jam 14.44 adalah pertemuan terakhir aku dan Nenek. Waktu itu aku mengantarkan titipan Ibu yang banyak banget buat Nenek. Ternyata itu adalah titipan terakhir Ibu buat Nenek. Waktu berjalan ketika aku akan balik bulan September ternyata Nenek sudah dibawa ke Malang, aku sempet mikir,"Yah, gak bisa ketemu Nenek lagi dong." 
Ternyata bener, aku nggak bisa ketemu Nenek untuk selama-lamanya. 
Nenek sudah waktunya pulang ke sisi-Nya.

Ibu, Ayah, Tika & Dewi, setelah sekian lama tidak bertemu Nenek, hanya bertemu Nenek sekali di 23 September 2020.
Tante Endang dan Om Harto juga hanya bertemu sekali tapi menghabiskan 21 hari bersama Nenek, merawat dan menjaga Nenek sampai Nenek berpulang.
Om Dodo, Tante Nur dan Habibie yang paling sering bertemu dengan Nenek.
Sayang sekali Indra dan Indri harus berjauhan karena mereka sudah kerja di Ibukota, bertemu dengan kedua bapak ibunya saja jarang apalagi sejak pandemi.
Aku yang sebulan sekali bertemu baru kemarin Agustus bertemu lagi. Karena sejak Maret - Juli aku tidak berani pulang karena PSBB pandemi. 

Nek. aku bahkan belum sempat mengenalkan cucu menantu ke Nenek. Aku heran juga kenapa sampai hari ini orang itu belum datang, aku sedih disisi lain aku ingin Nenek melihatku menikah tapi belum kesampaian. 

Nenek selalu mendoakan semuanya, dari anak cucu menantu bahkan aku selalu minta doa ke Nenek dan Nenek selalu bilang, "Iya mbak, Nenek selalu doain cucu cucu Nenek, semoga Aprilia Ayu Setyawati lolos seleksi dan mendapatkan jodoh terbaiknya."

Maaf Nek, kadang aku tidak mengangkat telpon Nenek atau cepat membalas pesan Nenek. Aku sedih banget nggak ada lagi yang aku telpon selain ayah,ibu nanti. 

Waktu Nenek meninggal, sebelumnya keluarga beberapa sudah merasakan firasat. Tapi sebagian biasa saja karena Nenek terlihat sehat dan membaik. Namun Allah sudah gariskan hidup dan mati hamba-Nya. 

Kamis, 15 Oktober 2020 sekitar jam 16.19 ada panggilan masuk dari Ibu, aku sedang tidur waktu itu. Biasanya aku mematikan paket data, tapi sore itu sebelum tidur aku tetap menghidupkannya dan memasang alarm jam 16.55 agar tidak bablas. 

Saat itu langsung ku angkat, ku kira Ibu minta kuota tapi diujung telepon aku mendengar isakan Ibu. Aku takut sekali waktu itu dan deg-degan! 
Aku sempat mengira itu Ayah, karena sebelumnya Ibu mengabari kalau Ayah sakit. 
Tapi...

"Lia kamu yang sabar yah" suaranya bergetar dan Ibu mulai menangis.
"Iya bu ada apa? Kenapa bu?" aku pun ikut deg-degan, aku tidak siap dengan ini.
"Nenek udah nggak ada, Nenek meninggal."

Aku langsung menyebut, "Innalillahi Wa Innaillahi Rojiun, Nenek...."

Sejenak aku dan Ibu menangis bersama.

"Aku belum lihat Nenek bu, aku belum ketemu Nenek."

"Iya kamu kalau mau ke rumah Nenek, besok subuh saja."

Setelah panggilan berakhir, aku masih menangis. Memeluk bantal, berharap ini nggak kejadian. Seperti mimpi buruk. Tapi Qodarullah, Allah yang punya takdir. 

Aku segera merapikan semua bajuku, bersiap ke rumah Nenek. Walau aku tahu, aku akan kemaleman di jalan dari pada aku menunggu subuh aku bergegas tancap gas ke Negare jam setengah enam sore. 

Diperjalanan aku menangis, masih tidak percaya dengan kabar ini.

Sesampai di Negare, aku parkir dan melihat rumah Nenek sudah banyak orang tahlilan. 

Seketika aku kembali menangis, membawa barangku masuk dan langsung menuju kamar Nenek. Disana aku kembali menangis habis-habisan. Rasanya nggak mungkin, nggak mungkin sekali. Nenek kenapa cepet banget ninggalin kita semua. 

Ayah,Ibu dan adik-adik sedang dalam perjalanan. Begitu pula Jenazah Nenek yang dibawa dari Malang. 
Aku mencoba tegar, pasrah dengan takdir Allah. Sedih sekali rasanya bila diingat. 

Saat Jenazah datang dan diturunkan, lemas rasanya melihat jasad Nenek terbujur kaku, dingin dan sudah di kafankan. 

Aku sempat kecewa dengan diriku karena saat pemakaman Mbahku aku tidak melihat jasadnya dan proses pemakaman. Tapi ini benar-benar dilihatkan dengan sempurna, aku melihat Nenek dihadapanku seperti sedang tertidur namun ruh nya sudah dibawa Malaikat Izrail. 

Biasanya ke rumah Nenek selalu ditanya mau makan apa nduk, atau sekedar tidur aja disini. Tapi sekarang Nenek diam tak berkata apa-apa. Aku dan keluarga mencoba kuat, aku sebagai cucu pertamanya terpukul sekali atas kepergian Nenek. 

Aku sempat mencium kening dan pipi Nenek untuk yang terakhir kalinya. Sudah merasa ikhlas, saat mencium. Biasanya Nenek membalas untuk mencium, tapi kali ini beliau hanya diam saja. Aku yakin ruh Nenek masih disekitar rumah, melihat anak cucu menantunya datang. Banyak saudara serta rekan yang hadir untuk berbela sungkawa. 

Saat mengantar Nenek dari Keranda, disholatkan lalu dibawa ke makam rasanya gak berhenti menghapus air mata. 
Apalagi saat Nenek masuk liang lahat dan di adzankan oleh Om ku. Air mata tak berhenti menangis sembari kami semua beristighfar. 
Kulihat Ayah pun meneteskan air mata, tanda ia juga kehilangan sosok Ibu Mertua yang sangat sayang padanya. Karena saat Mbah meninggal pun ayah tak terpukul seperti ini, karena memang saat Mbah meninggal Ayah sudah sangat ikhlas. 

Kehilangan dan patah hatiku untuk kedua kalinya, ternyata seperti ini rasanya. 
Setelah kehilangan Mbah (ibu dari Ayah), sekarang kehilangan Nenek tercinta (ibu dari Ibu). Bagiku, kehilangan adalah suatu yang wajar tapi aku tidak ingin milikku hilang, tapi aku bukan pemilik sesungguhnya. Hanya Allah pemilik semua mahluk dan semesta-Nya. 

Tahun 2019 saat lebaran di Malang, adalah kenangan terakhir kami semua. Aku sempat berfikir bisakah ini terus berlanjut ditahun-tahun selanjutnya? Bagaimana tahun depan tidak seramai dan selengkap tahun ini?

Ternyata Allah menjawab di 2020, saat Idul Fitri kita semua kena dampak PSBB karena pandemi. Mengharuskan kita hanya bisa bersilaturahmi dari kejauhan. Ada yang di Jakarta, Malang, Banyuwangi, Negare dan Denpasar. 
Sedihnya tahun ini memang kita nggak makan masakan Nenek lagi, nggak makan sup kimlo atau ayam goreng Nenek. 

Benar, di bulan-bulan selanjutnya saat kesehatan Nenek menurun, Ibu,Tante dan Om ku sepakat untuk membawa Nenek ke Malang untuk berobat. Disana Nenek merasa sepi dan ingin pulang sambil merengek nangis ke Tanteku. 

Di minggu berikutnya, Allah mengambil Nenek kembali. Allah lebih sayang Nenek.

Nenek Tersayang, aku Lia cucumu mewakilkan semuanya
Terima kasih untuk semuanya ya Nek
Lia yakin ini semua sudah jalan-Nya yang paling terbaik
Lia minta maaf kalau selama ini ada salah 
Lia akan selalu ingat pesan Nenek
Lia akan jagain adik-adik semuanya
Lia akan rukun sama semuanya
Lia akan menikah dengan orang yang tepat dan ketika Lia udah ketemu, Lia akan ajak ke makam Nenek
Lia bakalan jagain Ayah dan Ibu juga
Terima kasih Nenek Tersayang
Selamat beristirahat panjang

Kami mencintaimu

Jumat, 10 Mei 2019

Yang Selalu Mencintaimu... Ibu

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun.

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya.

Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya.

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin. (Akan dikatakan kepadanya), ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

cr : (Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Minggu, 28 April 2019

Ayah dan Si Putri Sulung

Siang yang panas, aku duduk-duduk dengan Ayah sembari menunggu belanjaan.
Aku sibuk dengan handphone ku, Ayah sibuk dengan handphone nya.
Aku tahu ayah adalah tipikal orang yang cuek sebenarnya, namun ia diam-diam memperhatikan anak-anaknya. Yang aku tahu, Ayah hanya ingin melihat anak-anaknya kelak sukses dan bahagia. Lewat adikku, aku tahu bahwa Ayah sebenarnya mengkhawatirkanku

Ayah pernah bilang pada adikku

"Coba tanya kakakmu pelan-pelan, sebenarnya siapa yang sedang dekat dengan mbakmu?"

Saat aku diceritakan hal tersebut oleh adikku, aku hanya bisa tertawa.

Ayah ada-ada saja.

Siang ini pun tiba-tiba ayah menanyakan sesuatu yang sepertinya masih membuatnya penasaran.
Ini tentang siapa yang sedang mendekati putri sulungnya.
Siapa yang sudah mencuri hati putri sulungnya?
Siapa yang sudah bisa menggantikannya untuk menafkahi?
Siapa yang sudah bisa membuat putrinya jatuh cinta?

Ayah hanya ingin tahu.

"Sebenarnya, mana yang serius sama kamu?"

Aku terdiam sebentar, kaget dengan pertanyaan ayah. Lalu aku tersenyum.

"Ayah, semuanya teman. Belum ada. Kalaupun ada aku belum yakin. Sabar ya yah, kalau orangnya ada aku akan kenalkan ke Ayah."

Ayah tersenyum.

"Iya tidak usah terburu Ayah cuma ingin tahu."

Aku mau menangis saja saat itu. Seakan ayah menanyakan :

Sudahkah ada yang menggantikanku?
Untuk menjagamu
Memberi semua apa yang kamu inginkan.
Mecintaimu
Mengasihimu
Membimbingmu
Membuat kamu bahagia disisa usiamu?

Aku menyeka air mataku dan menyembunyikannya dari Ayah.

Aku janji pada diriku sendiri aku akan menemukan orang itu, atau aku yang ditemukan olehnya atau kami yang akan di pertemukan dengan skenari-Nya.

Yang jelas, aku yakin sebentar lagi.

Sayangnya, beberapa orang yang dekat denganku dari patah hati terakhirku kemarin, aku belum yakin pada mereka.

ada yang datang dan menawarkan semuanya, sayangnya aku belum bisa bertemu dengannya secara langsung.

ada yang datang bilang sebenarnya dari awal dia sudah memilih aku, sayangnya aku belum bisa menentukan.

ada yang baru kenal tapi sudah mantap hatinya padaku,memohon bahkan. sayangnya aku tak bisa yakin.

lagi-lagi karena yakinku.

ada yang aku yakini sebagai orang terakhir, hanya saja dia cuma lewat dan belum waktunya. aku hanya bisa mensyukuri orang-orang yang aku temui. mungkin pada akhirnya aku hanya bisa menjadikan mereka pelajaran.

ada orang yang selalu aku sebut namanya dalam doa.
namun aku juga berharap aku dapat jatuh cinta dengan orang pilihan-Nya.

Allah berjanji dan aku meyakini.

Ayah, jangan khawatir. sebentar lagi mungkin dia datang.

Dan untuk kamu yang masih belum kuketahui siapa, semoga lekas bertemu ya.

Jumat, 22 September 2017

Catatan untuk Ayah dan Ibu

10 April 1994

Aprilia Ayu Setyawati,kau beri nama untukku. 
Mungkin saat itu aku belum mengerti apa-apa. 
Tapi aku sangat yakin kalian bahagia karena buah hati pertama kalian lahir sejak setahun pernikahan kalian.
Dari album yang aku lihat,engkau menggendongku sambil tersenyum dengan wajah berseri.saat aku dalam pelukan kalian pun aku tertawa.

Aku sering menangis,mengompol,nakal,malas ataupun merepotkan engkau semasa aku kecil. Tapi engkau tetap sabar dalam mendidik dan membesarkanku.

Dialbum aku juga melihat engkau selalu mengambil gambarku saat aku sedang bermain. Atau saat engkau memakai baju dinas aku dalam pelukanmu.

Engkau memberikan aku baju yang cantik namun sederhana. Memberi pita pada rambutku yang masih belum tumbuh banyak saat itu.

Aku tahu engkau selalu menjagaku. Walau kau tak selalu memberikan apa yang aku inginkan,tapi kau selalu memenuhi kebutuhanku.

Beranjak TK. 
Aku ingat memori yang ada dalam ingatan ini. 
Masih tersimpan rapi. 
Disaat kau menyuapiku sarapan sebelum berangkat sekolah. 
Mengantar dan menjemputku.
Membelikan aku mainan. 
Merayakan hari ulang tahunku. 
Bahagia rasanya menjadi anakmu walau hidup kita dulu sederhana sekali. 
Hanya sebuah rumah kecil berisikan ayah,ibu dan aku saja. 
Aku paling senang saat dibonceng didepan. 
Walaupun aku juga suka tertidur saat kau bonceng.

Setelah  usiaku tiga tahun,aku mendapat adik. 
Dia manis. 
Saat itu tak ada pikiran bahwa aku akan kehilangan perhatian kalian. 
Aku malah senang dengan kelahiran adik pertamaku. 
Aku jadi punya saudara dan teman main saat kau berada dikantor. 
Engkau selalu pulang kantor dengan wajah kangen dan berseri.
Saat tahu anak-anakmu sedang main atau tertidur pulas.

Aku tak pernah kehilangan masa kecilku. 
Engkau mengajariku kesederhanaan.

Tiba saat aku berusia belasan tahun, aku sering membuatmu marah dan kesal. 
Maafkan aku. 
Aku kadang butuh perhatian. 
Mungkin juga karena proses pendewasaanku.

Tapi terima kasih sekali lagi,aku mengerti banyak hal. 
Walau salah tapi engkau selalu membenarkan.
Mengajariku untuk sopan dan santun terhadap orang lain. 
Mengajariku untuk berani didepan orang dan belajar mandiri.
Selalu mendukung apa yang aku pilih dan selalu melarang apa yang tidak baik untuk diriku.
Ayah,Ibu...sedih rasanya bila mendengar salah satu kerabat kehilangan ayah/ibu mereka. Aku jadi teringat pada kau. Kapan aku bisa membahagiakanmu? Apa masih bisa kau melihatku sukses? Apa masih kuat dirimu melihat aku sukses kelak?


Aku mencintaimu ayah,ibu. Semoga Allah selalu memberi kesehatan dan umur yang panjang untuk melihat aku dan adikku sukses hingga engkau bangga pada anak-anakmu. 
Aamiin.

Sabtu, 04 April 2015

Ketika rindu padamu,Ayah

Jumat 3 April 2015 jam 9 malam aku ke ATM Mandiri ambil uang. Dengan tergesa-gesa aku tarik uangku dan mengambil kitiran lalu meninggalkan ATM dan menuju tempat print-print-an. Sampai dikost baru sadar kalau ATM ku tertinggal. Yang pastinya sudah tertelan mesin. Saat cek saldo sih masih ada. Nominalnya sama dengan yang dikitiran tadi. Cuma aja aku shock banget. Ini kedua kalinya aku ngilangin ATM. Ya maksudku ketelen. Aku bingung. Ini hari Jumat dan besok Sabtu, mana ada bank yang buka. Pasti Senin. Dengan perasaan campur aduk aku tidur.



Besoknya setelah pulang magang aku beraniin diri buat sms Ayah minta bantuan buat telpon dan blokir ATMku. Soalnya sih aku takut kalau ada apa-apa. Takut saldo ilang dan lainnya. Eh ayah ternyata mau bantu aku. Ayah telpon mandiri call centre terus ngabarin kalo kartuku jelas ke blokir. Ya syukur banget sih. Soalnya aku takut ada apa-apa.

Aku bersyukur banget sama Allah. Aku dikasih ayah yang super! Menurut aku ayah itu bukan sekedar orang tua melainkan teman,sahabat,pacar yang bisa ngertiin aku. Ibu juga. Cuma aku gak tau kenapa lebih mau terbuka sama ayah. Bukannya nggak mau terbuka sama ibu sih. Karena ada beberapa hal yang mugkin ibu tau dan ayah tau,ibu ngerti dan ayah ngerti.

Tiap naik motor dan lihat banyak orang lalu lalalng,dipinggir jalan atau saat lampu merah aku bener-bener ngerasain yang namanya syukur. Entah kenapa. Aku merasa bersyukur dilahirkan dari keluarga yang mampu nyekolahin aku sampe sekarang walau orang tuaku dari keluarga sederhana yang pendidikannya hanya sampai SMEA. Aku nggak pernah yang namanya minder, pas dulu ga punya ini itu tapi sekarang punya semua. Sederhana sekali. Dan itu cukup untuk kebahagiaan 5 orang dikeluargaku.

Ayah, aku tahu dulu perjuanganmu. Aku tahu dulu kita belum mampu. Tidak semampu sekarang. Rumah memang pernah kau beli waktu di Timor Leste. Tapi hanya sekejap memiliki dan gara-gara Timor Leste akhirnya ingin merdeka,kita kembali ke Denpasar,Bali. Disana pun kita numpang seadanya dengan keluarga om Harto dan tante Endang,adik ibu. Aku sama adik-adik bisa tidur,makan dan sekolah. 
Aku bersyukur banyak orang baik disekitar kita Yah.



Lalu ayah dipindah tugaskan di Banyuwangi. Ayah beli tanah BTN dan bangun rumah disana dengan ala kadarnya agar aku,ibu dan adik-adik bisa segera menempati rumah. Hanya untuk siapa Yah? Keluarga. Jelas sekali.

Kita pernah kan Yah, naik motor berlima pas mau ke pasar malam? Ayah ingat? Aku duduk didepan,dibelakang Tika dan Ibu mengendong Dewi yang masih balita. Aku masih ingat kita dibilang ‘kayak akrobat’ sama tukang Ojek yang dekat rumah. Bukan mengolok tapi hanya bercanda. Aku tahu, hanya saja sampai sekarang kejadian itu masih melekat dibenakku.
Sekarang? Ayah sudah punya mobil sendiri. Ibu punya motor sendiri,adik-adik juga. Aku pun. Yang terpenting keluarga kita sudah naik beberapa tingkat derajatnya. Karena apa? Karena kerja keras dan semangat ayah dan ibu.



Aku juga masih ingat Yah,waktu ayah masih jadi teknisi di PLN Rogojampi. Ayah sering piket malam. Selalu. Dan ayah tahu? Aku paling benci itu. Paling benci saat ayah tidak ada dirumah. Piket sampai pagi. Tidak pulang kerumah. Stay dikantor. Aku selalu ingin dekat dengan ayah. Aku ingin suasana rumah itu ada aku,ayah,ibu dan adik-adik. Dan aku bersyukur pas ayah dipindah ke PLN Banyuwangi dan naik pangkat. Itu artinya tidak ada piket malam,walau ada yang namanya lembur. Ayah menyempatkan untuk berkumpul dengan keluarga.

Aku masih inget yah. Pas aku kecelakaan,jatuh dari sepeda motor. Yang paling aku ingat adalah takut. Takut ayah marahi,takut ibu marahi. Tapi aku selalu berani untuk menghubungi ayah. Yang pertama aku hubungi pasti ayah. Setelah aku hubungi ayah pasti datang,aku masih menangis. Ayah membonceng aku pulang dan menyuruh aku istirahat.

Aku masih ingat juga,saat ibu tidak masak. Ayah yang menggantikan ibu memasak. Masak apapun selalu enak. Ayah menjadi chef terbaik setelah ibuku! Aku sama adik-adik nggak pernah protes ayah masak apa dan selalu habis.

Aku juga inget,pas ayah pertama kali jatuh sakit karena stroke ringan yang melumpuhkan anggota badan sebelah kiri ayah. Pertama kali aku tahu saat pulang sekolah. Ayah tidak ada dirumah,ibu juga dan adik-adik belum pulang. Aku nunggu dirumah. Sudah sore tapi kenapa Tika belum pulang? Dewi les. Sedangkan ibu aku tahu masih dikantor. Habis magrib ternyata ibu balik sama Tika dan bilang,”habis ini bawakan ayah obat nyamuk sama bantal ke rumah sakit. Kamarnya dekat dengan ruang perawat. Biasa di ruang Marwah kelas I.” Kata Ibu. Aku lemes yah,pengen nangis tapi nggak aku tunjukin. Soalnya raut muka ibu biasa aja,walau kelihatan banget sedihnya. Setelah itu aku ke rumah sakit dan lihat ayah lemah tak berdaya tapi masih bisa senyum! Ya Allah :’) aku rasanya pengen nangis. Seminggu ayah dirumah sakit, minta pulang. Karena ingin pemulihan di rumah saja. Padahal juga ayah pake kartu PLN sehat,yang bakal ditannggung sama kantor. Tapi dengan alasan ingin dirawat dirumah saja akhirnya ayah dipulangkan. Sebulan berikutnya ayah bisa jalan pake tongkat. Ayah ga malu :’) ya Allah. Lalu ayah banyak terapi sana-sini,minum obat dan akhirnya ayah sehat lagi. Bisa lepas tongkat dan jalan seperti biasa walau agak terpincang sedikit.




Aku tahu Yah,perjuanganmu. Kadang aku ngerasa kurang terus. Padahal ayah selalu memberi apa yang aku butuhin. Aku pengen hape baru. 
Tapi ayah selalu bilang,”buat apa? Kan ada hape yang lama. Yang penting bisa buat komunikasi.”

Aku tahu yah semua perjuanganmu. Aku anak pertamamu. Aku yang ayah sama ibu nanti-nanti kehadirannya.
Aku yang pertama kau sayang,gendong,cium dan kau kasihi sebelum adik-adikku. Aku bahagia yah menjadi putri pertamamu. Semoga aku bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adikku kelak.

Terima kasih Ayahku tersayang,kelak ijinkan aku menemukan orang sebaik dan sesabar ayah yang bisa menuntunku menuju surga-Nya. Ayah tetap akan menjadi lelaki nomor 1 ku! Aku sangat bangga padamu Ayah.

Lia 20th
putri pertamamu,yang masih suka manja dan pecinta terang bulan keju! yang sedang nulis sambil ditemeni hujan dan tisu ,aku rindu ayah,ibu dan adik-adik... <3











Senin, 09 Juni 2014

Ayah dan Aku

Hallo bloggier...
Pernahkah kamu berfikir tentang ayah? Bagaimana ayahmu? Apa makanan kesukaannya? Apa yang paling disukai dan dibencinya? Bagaimana ia marah? Bagaimana ia sedih? Kesal? Dan bagaimana ia menyayangimu?

Aku selalu memikirkan betapa hebatnya ayah.
Walaupun ibu yang paling utama dan harus disayang setelah ayah,tetap hormatku tak berubah yang pertama pada ayah.
Ayahku seseorang yang biasa saja. Aku selalu senang ketika membicarakan sosok seorang ayah. Dulu aku sering bersama ayah,kemanapun ayah pergi aku ikut. Saking nempelnya sama ayah,jadi sering dipanggil anak ayah.

Dan jadi anak ayah bukan berarti nggak deket sama ibu juga.
Akupun sayang banget sama ibu aku. Walaupun orangnya agak keras,suka ngomel kalo aku males-malesan,paling perhatian dan paling kepo :p
Ibu baik banget! Tiap aku pulang dari Malang,selalu minta makanan favorit aku yaitu 'seafood'. Karena di Malang jarang banget makan seafood (re:kepiting,udang,ikan laut,cumi dll).

Ok back!
Ayah.. aku pernah suatu saat mikir,kalau sekarang umur aku 20th berarti empat atau lima tahun lagi (aamiin) insya Allah bakalan pisah sama ayah sama ibu :')
Aku bakalan dipinang sama suami aku kelak
Aku bakalan pisah sama ayah,ibu,adik-adik
Aku bakalan jarang ketemu mereka
Aku nggak bisa ngejahilin adik-adik
Aku nggak bisa meluk-meluk ayah kayak kemarin
Aku bakalan jarang pergi belanja bulanan sama keluarga
Aku bakalan jarang dimarahin ayah,ibu
Aku juga bakalan jarang ada dirumah yang udah 14th aku tumbuh dan tinggal disana
Aku bakalan..... lainnya

Ketika sungkem bakalan nangis...
Ketika ayah nyerahin aku ke suami aku nanti...
Ketika ayah bakalan bilang, 'jadi istri yang baik'
Ketika ayah meluk dan mengusap kepala aku
Ketika ayah nggak lagi serumah sama aku
Ketika ayah nggak sering ketemu aku karena aku ikut suami
Ketika ayah.... lainnya

Aku nangis waktu nulis ini. Aku jujur sama perasaan aku kalau 'bagaimana nanti,bila aku tanpa mereka' dan jauh dari ayah,ibu dan adik-adik yang selama ini aku emang deket banget sama mereka (re:selalu bareng kemana-mana dan family time full)

Aku berlebihan nggak sih?
Aku berharap bila saatnya tiba,semuanya masih dalam keadaan sehat wal'afiat dan lengkap
Aku selalu berdoa setiap selesai sholat wajib maupun sunnah agar Allah S.W.T selalu menjaga ayah,ibu dan adik-adikku
Kelak aku akan punya kehidupan baru
Semoga semua indah pada waktunya :')

with love
Lia 20th anak ayah & ibu



Jumat, 07 Februari 2014

Cerita sore hari ini

Sore ini aku ditelfon sama Ibu. Cerita bagaimana magangku selama ini di RSSA Malang. Aku cerita mulai awal sampai akhir. Penuh cerita sore ini walaupun hanya lewat telepon. Aku seneng ibu telepon aku walaupun kemarin lusa saat Ibu telepon aku agak cuek. Sedih dan kepikiran sih,nyesel cuek sama ibu. Walaupun aku capek dan masih sebel harusnya aku nggak kayak gitu ke ibu.

Ya aku cerita cita-cita aku yang kepingin jadi seorang PNS. Duh pengen banget bisa kerja dan punya embel-embel PNS. Bukannya sok keren sih tapi setidaknya aku bisa wujud-in itu diumur aku yang masih muda dan ibu juga pengen aku jadi PNS.

Cerita berlanjut hingga aku tahu kalau Ayah lusa yang lalu itu juga habis JATUH :(
Jatuh dari kursi beroda yang ada dikantor. Sempet shock dan pengen nangis tapi aku tahan. Suka sedih kalau ada orang yang sakit dirumah.
Darah ayah naik. Ayah kan punya hipertensi. Takut juga kalau langsung stroke. Untungnya hanya cidera ringan ditangan. Untung juga nggak kena meja. Kalau iya kan takutnya kenapa-napa. Secara meja kalau kena kepala juga takut cidera serius.

Udah gitu Ibu cerita juga,masih sempet-sempetnya Ayah ngangkat galon aqua padahal tangannya masih sakit :( ya Allah

emang Ayah paling susah dibilangin. ya immature. kembali kayak anak kecil lagi. dan itu yang paling bikin sedih dan khawatir mulu. Untung ibu sudah sembuh.

ya aku bersyukur masih dikasih sehat. semoga saja ayah,ibu dan adik-adik aku disana selalu dilindungi oleh Allah SWT :) amiin ya rabbalalamiin :)

Ibu,Ayah...


karena memang pada akhirnya yang paling menyayangi,mencintai dan rela berkorban untukmu hanya "ibu" bukan yang lain. jadi hal yang paling menyedihkan dihidupmu ketika melihat ibumu menangis :')

jangan pernah membuatnya menangis karena ulah burukmu,buatlah ibu menangis karena kamu benar-benar sudah mencapai cita-citamu dan kelak bisa membanggakannya. bukan menangis karena sedih tapi karena senang.

karena semuanya akan kembali pada-Nya. ridha Allah SWT adalah ridha Ibu dan Ayah. Sayangi mereka semua :)

jangan melebihi cinta kepada yang lain saat kamu belum bisa membanggakan keduanya.

Sabtu, 23 Juni 2012

Ayah



Ayah kaulah segalanya bagiku
Ayah kaulah teman kecilku
Ayah kaulah yang ajarkanku tegar
Ayah kaulah yang paling sabar bagiku
Ayah kaulah yang menyayangi anak-anakmu
Ayah kaulah pahlawan bagi keluargamu
Ayah kaulah yang tersayang dikeluargamu
Ayah kaulah yang selalu ditunggu-tunggu saat sore tiba
Ayah kaulah yang memberi nasihat-nasihat hebat
Ayah kaulah yang mengajarkanku yang aku tak bisa
Ayah kaulah yang selalu memberi motivasi hebat
Ayah kaulah lelaki terbaik
Ayah kaulah pendamping hebat Ibuku
Ayah kaulah penengah diantara permusuhan
Ayah kaulah yang mengajarkan senyum kepada setiap orang
Ayah kaulah yang mengajarkan aku berani bukan pengecut
Ayah kaulah pelitaku
Ayah kaulah imam dalam keluargamu
Ayah kaulah yang menitikkan air mata saat anak-anakmu terjatuh
Ayah kaulah penyemangat tiap anak-anakmu yang putus asa
Ayah kaulah yang tidak mau kehilangan istri dan anak-anakmu
Ayah kaulah yang paling tegar saat kau terkena musibah
Ayah kaulah yang paling bahagia ketika nanti anakmu bisa sukses
Ayah kaulah yang paling bahagia mempunyai anak yang berbakti
Ayah kaulah yang mengajarkan aku betapa kerasnya hidup
Ayah kaulah yang selalu mengantarku kesekolah
Ayah kaulah yang selalu mengajakku berpergian
Ayah kaulah lelaki sejati bagi istrimu
Ayah kaulah yang selalu sabar hadapi segala cobaan




AYAH BANYAK YANG TIDAK BISA KUUNGKAPKAN KARENA KAU SANGAT-SANGATLAH TER-ISTIMEWA

DADDY,YOU ARE MY HERO :')


with love, your daughter :') 
Lia