Kadang, hidup punya cara yang aneh untuk mempertemukan dua orang yang sudah lama berjalan di jalannya masing-masing.
Bukan di tempat yang direncanakan.
Bukan juga dengan percakapan panjang yang selama ini dibayangkan.
Hanya di sebuah gerbong kereta, di antara suara rel yang saling bersahutan dan penumpang yang sibuk dengan dunianya.
Aku melihatmu.
Bukan sebagai seseorang yang asing, tapi juga bukan lagi seseorang yang bisa kupanggil dengan mudah.
Jarak kita mungkin hanya beberapa langkah.
Namun waktu telah membangun sekat yang jauh lebih panjang daripada panjang gerbong itu sendiri.
Aku hanya memandang dari kejauhan.
Lalu tanpa diminta, ingatan mulai bekerja.
Percakapan-percakapan lama, tawa yang pernah terasa begitu ringan, hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi bagian yang paling sering dikenang.
Aneh rasanya.
Ternyata seseorang bisa kembali menghadirkan begitu banyak kenangan, hanya dengan hadir di depan mata tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku sempat berpikir untuk menyapa.
Namun akhirnya kusadari, tidak semua pertemuan harus mengulang cerita. Ada yang memang hanya datang untuk mengingatkan bahwa kita pernah menjadi bagian dari hidup satu sama lain.
Kereta terus melaju.
Begitu juga hidup.
Dan mungkin memang itu yang seharusnya.
Aku tetap di tempatku. Kamu tetap di tempatmu.
Di antara riuhnya perjalanan, aku memilih menyimpan semua rasa itu dalam diam.
Bukan karena masih berharap, melainkan karena beberapa kenangan memang paling indah jika cukup dipandang dari kejauhan.
Saat pintu kereta terbuka nanti, kita mungkin akan turun di tujuan yang berbeda.
Seperti hidup yang sejak lama telah memilih arahnya masing-masing.
Dan pertemuan singkat hari ini akan kembali menjadi sebuah cerita.
Cerita tentang dua orang yang pernah saling mengenal, dipertemukan sekali lagi oleh semesta, hanya untuk saling melihat... lalu melanjutkan perjalanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar