Semakin bertambah usia, aku menyadari bahwa ketenangan adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.
Dulu, aku merasa harus menjelaskan semuanya.
Aku ingin setiap orang memahami sudut pandangku.
Aku ingin meluruskan setiap kesalahpahaman, membalas setiap ucapan yang menyakitkan, dan mempertahankan setiap hubungan yang mulai retak.
Not, anymore.
Bukan karena aku tidak peduli.
Justru karena aku mulai peduli pada diriku sendiri.
Aku belajar bahwa tidak semua hal harus diperdebatkan.
Tidak semua pendapat harus dibalas.
Tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan.
Dan tidak semua orang harus tetap tinggal dalam hidupku.
Hari ini, aku lebih memilih tenang daripada menang.
Jika ada yang salah paham, aku akan menjelaskan seperlunya.
Jika setelah itu mereka tetap memilih untuk tidak mengerti, aku belajar menerima bahwa aku tidak bisa mengendalikan cara orang memandangku.
Jika sebuah hubungan sudah tidak lagi terasa nyaman, aku tidak akan memaksanya kembali seperti dulu.
Jika sebuah percakapan hanya membawa drama dan menguras energi, aku memilih mundur tanpa harus meninggalkan luka.
Aku tidak lagi merasa perlu memenangkan setiap argumen.
Karena aku sadar, menjadi benar tidak selalu membuat hati menjadi damai.
Semakin dewasa, aku semakin mengerti bahwa energi adalah sesuatu yang terbatas.
Aku tidak ingin menghabiskannya untuk membuktikan diriku kepada orang yang memang tidak ingin memahami.
Aku tidak ingin menghabiskannya untuk mempertahankan hubungan yang hanya berjalan karena satu orang terus berusaha.
Aku tidak ingin menghabiskannya untuk drama yang, beberapa bulan kemudian, bahkan mungkin sudah tidak berarti apa-apa.
Kini aku lebih memilih diam daripada berdebat tanpa arah.
Lebih memilih menjaga jarak daripada memaksakan kedekatan.
Lebih memilih menerima daripada terus memaksa keadaan berubah sesuai keinginanku.
Banyak orang mengira diam berarti kalah.
Padahal, diam sering kali adalah bentuk kedewasaan.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Melainkan karena sadar bahwa tidak semua orang layak mendapatkan penjelasan, dan tidak semua situasi layak mendapatkan energiku.
Aku tidak membutuhkan semua orang menyukaiku.
Aku juga tidak membutuhkan validasi dari setiap orang yang datang dan pergi.
Yang kubutuhkan hanyalah hubungan yang tulus, percakapan yang jujur, dan orang-orang yang membuatku merasa nyaman menjadi diriku sendiri.
Kalau ada yang memilih pergi, aku belajar mengikhlaskan.
Kalau ada yang tetap tinggal, aku belajar menghargai.
Dan kalau ada yang berubah, aku belajar menerima bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan.
Semakin dewasa, aku tidak lagi ingin hidup dipenuhi drama.
Aku hanya ingin menjalani hidup dengan lebih ringan.
Tanpa membenci siapa pun.
Tanpa harus selalu membuktikan diri.
Tanpa memaksa semua orang untuk tetap tinggal.
Karena pada akhirnya, kedamaian bukan datang ketika semua orang memahami kita.
Kedamaian datang ketika kita berhenti merasa harus dipahami oleh semua orang.
Dan mungkin, itulah salah satu tanda bahwa kita benar-benar sedang bertumbuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar