Kamis, 01 Januari 2026

Before the Last Station (CHAPTER 1)

Di sebuah kereta api ekonomi pagi hari, aku duduk menatap jendela, notes di handphone masih terbuka, pikiranku penuh target dan tenggat waktu. 

Aku seorang yang hidupnya selalu terjadwal rapi. 

Aku terbiasa bertemu banyak orang penting di ruang rapat, tapi tak pernah benar-benar memberi ruang untuk siapa pun masuk ke hidupku.

Kereta berguncang pelan saat seorang laki-laki, kau. Meminta izin duduk di depanku. Aku mengangguk singkat, masih menatap layar ponsel, tapi inderaku dari ujung mata keburu menangkap detailnya. 

Kemeja rapi berwarna pucat itu jatuh pas di bahumu, lengannya digulung setengah, jam tangan sederhana melingkar di pergelangan. 

Saat kau duduk, ada aroma wangi yang bersih, bukan menyengat, lebih seperti sabun dan sesuatu yang hangat, menenangkan.

Aku pura-pura fokus, padahal sudut mataku mencuri gerak-gerikmu.

Cara kau merapikan tas di kakinya, menarik napas sebelum membuka buku, dan senyum tipis yang muncul ketika kereta kembali bergetar. 

Sesekali pandangan kita bertemu, cepat-cepat sama-sama mengalihkan mata, seolah ada kesepakatan diam untuk tidak membuat momen itu terlalu nyata.

Di sela deru rel dan pengumuman stasiun, aku merasa waktu melambat. 

Bukan karena apa-apa, hanya karena kehadiranmu membuat gerbong yang biasanya biasa saja terasa berbeda. 

Hangat. 

Tenang. 

Dan entah kenapa, aku berharap perjalanan ini sedikit lebih panjang

Oke, fokus..fokus!

Aku menunduk, pura-pura membetulkan posisi tas di pangkuan. 

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat setiap kali kau bergeser. Ingin rasanya membuka percakapan, sekadar menanyakan tujuan atau mengomentari cuaca. 

Tapi kata-kata itu macet di tenggorokan. 

Aku takut terdengar canggung, takut tatapannya terlalu lama, takut pipiku memanas dan kau menyadarinya.

Jadi aku memilih diam. Menjadi penumpang yang rapi, yang sesekali menghela napas pelan, yang matanya sibuk ke luar jendela. 

Padahal di kepalaku, percakapan itu sudah terjadi berkali-kali: sapaan sederhana, senyum kecil, mungkin tawa singkat. 

Namun kenyataan hanya menyisakan jarak satu kursi dan keberanian yang belum sempat kutemukan.

Kereta terus melaju. Dan aku belajar satu hal hari itu, kadang yang paling berguncang bukanlah keretanya, melainkan perasaan sendiri yang berusaha tetap tenang.

Kau tiba-tiba menutup bukunya, menoleh sedikit ke arahku, lalu berkata dengan nada santai,

“Maaf, ini random banget… tapi kamu juga suka dengerin suara kereta nggak? Kayak… menenangkan tapi bikin mikir.”

Aku terkejut. Benar-benar di luar dugaan. 

Kepalaku refleks mengangguk sebelum mulutku sempat menyusun jawaban yang rapi.

“Iya,” kataku akhirnya, pelan tapi jujur. “Rasanya kayak lagi di-pause sebentar dari hidup.”

Kau tersenyum, kali ini lebih jelas. 

“Nah, itu. Aku selalu ngerasa di kereta tuh semua orang lagi bawa cerita masing-masing, tapi buat beberapa menit, kita ada di jalur yang sama.”

Kalimatnya sederhana, tapi caranya mengucap membuat dadaku hangat. Maluku yang tadinya kaku perlahan melunak. 

Aku berani menatapnya lebih lama, dan untuk pertama kalinya, malu itu berubah jadi nyaman. 

Percakapan mengalir pelan, seperti rel yang kita lewati tidak terburu-buru, tidak dipaksakan.

Dan di antara guncangan kecil kereta, aku sadar: keberanian memang kadang datang dari orang asing, lewat kalimat unik yang tak pernah kita duga.

Aku tetap menjaga jarak, menyimpan senyum di batas yang aman. Tidak semua rasa perlu diumumkan, tidak semua nyaman harus diakui.

Aku membiarkan suasana berjalan apa adanya, tanpa janji, tanpa harap berlebihan.

Di luar jendela, pemandangan berganti cepat, dan aku memilih fokus ke sana, seolah itu caraku bilang: aku baik-baik saja. 

Padahal di dalam, ada sesuatu yang diam-diam menetap, rapi, tidak ribut.

Kau bertanya lagi, kali ini lebih jelas.

"Hai kenalin aku Arif. Aku turun di stasiun terakhir karena aku berkerja disana. Kalau kamu?"

Bukan basa-basi, lebih seperti memastikan aku masih ada di percakapan.

Cara kau mengenalkan diri sederhana, tanpa nada ingin mengesankan. Justru itu yang membuatnya terdengar jujur.

Aku mengangguk pelan. "Aku Aya. Aku turun di stasiun X nisebelum stasiun terakhir." Tidak banyak respons, hanya cukup untuk menunjukkan aku mendengar.

Di kepalaku, informasi itu lewat begitu saja, tidak kuikat dengan makna apa pun—atau setidaknya, begitu yang ingin kupercaya.

Kereta kembali berguncang kecil. Aku membenahi posisi duduk, menjaga ekspresi tetap netral.
Tetap cool, tetap pada batas.

Kau mengangguk saat mendengar namaku, seolah menyimpannya sebentar lalu melepaskannya kembali. Tidak ada pertanyaan lanjutan, dan aku bersyukur untuk itu.

Kita kembali diam, tapi kali ini bukan diam yang canggung. Lebih seperti jeda yang disepakati tanpa perlu dibicarakan. Aku menatap lurus ke depan, membiarkan suara rel mengisi ruang di antara kita.

Sesekali aku menangkap pantulan wajahmu di kaca jendela sekilas, lalu hilang. 

Aku tidak menoleh. Beberapa hal lebih aman dirasakan tanpa ditatap langsung.

Teduh.

“Ngomong-ngomong soal kereta… aku pernah ketiduran sekali. Bangun-bangun udah kelewat tiga stasiun.” Ucapmu sambil tertawa kecil.

“Kelewat jauh?” Balasku.

“Lumayan. Harus muter balik. Sejak itu aku nggak berani merem lama kalau naik kereta.”

Aku tertawa kecil, kau berhasil membuatku tersenyum. “Berarti traumanya ringan.” Kusambung lagi.

“Iya. Tapi lumayan bikin kapok. Apalagi waktu itu lagi buru-buru.”

“Klasik banget ya.”

Kau mengangguk setuju, lalu menyandarkan punggung sebentar. Seolah ceritanya sudah cukup sampai di situ.

Kereta melaju stabil, suara rel kembali mengambil alih. Aku menatap ke depan, membiarkan senyum tadi memudar perlahan, bukan karena tidak nyaman, hanya karena aku terbiasa menaruhnya sebentar saja.

“Ada-ada aja kalau naik kereta,” katamu lagi, kali ini lebih pelan. Seperti terus mencari topik.

“Iya,” jawabku singkat. “Selalu ada cerita.”

Beberapa detik setelah pengumuman stasiun berikutnya terdengar, Kau kembali bicara. Nada suaranya lebih hati-hati dari sebelumnya.

“Ay, Boleh nggak… kalau kita tukeran social media?” katamu, tanpa menatap terlalu lama. “Kalau kamu nggak keberatan, Ay...”

Ay... terdengar seperti Ay....

"Hehe Aya ya, bercanda." Kau tertawa kecil.

Aku menoleh sebentar, menimbang. Tidak ada rasa terdesak di sana, dan itu membuatku nyaman.

“Boleh,” jawabku pelan dan membalas senyumnya. “Sini aku duluan yang follow kamu.”

Kau terlihat sedikit terkejut, lalu tersenyum. Mengeluarkan ponselmu, menyebutkan akun milikmu tanpa banyak penjelasan sederhana, apa adanya.

Aku menyimpannya, memastikan namanya benar. Baru setelah itu aku menyebutkan akunku sendiri, singkat, tanpa embel-embel.

Kita sama-sama menunduk sebentar, kembali ke layar masing-masing.

Tetap tenang. Tetap pada batas.

Dan entah kenapa, justru karena itu, semuanya terasa pas.

Nama itu muncul di layarku: Arif Maulana, salah satu staf KAI di Daop 9.

Tanpa bio panjang, tanpa kata-kata yang berusaha menjelaskan terlalu banyak. Hanya 19 foto-foto sederhanamu, potongan keseharian yang tampak jujur.

Aku tersenyum tanpa sadar.

Ternyata sesederhana itu kau di sosial media, tidak jauh berbeda dari caramu bercerita barusan.

Aku mengunci ponsel, mengangkat pandanganku lagi. Ekspresiku kembali netral, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja kutemukan.

Tetap cool

Tetap rapi.

Namun di dalam, ada satu kesimpulan kecil yang kuakui diam-diam: kadang orang yang tidak berusaha terlihat menarik, justru terasa paling nyata.

Kereta terus melaju. 

Dan untuk sesaat, kesederhanaan itu cukup.

to be continue...

Rabu, 31 Desember 2025

When Respect Matters More

Aku menulis ini dengan tenang, tanpa emosi, tanpa maksud menyerang siapa pun

Hanya ingin menyampaikan satu hal dengan cara yang baik dan beradab

Aku menyadari bahwa ada mata yang sering memperhatikan, mengikuti setiap postingan, setiap potongan hidup yang kubagikan di media sosial

Dan jujur saja, aku memilih untuk memahami sebelum menilai

Masa lalu adalah sesuatu yang tidak bisa kita ubah, dan bagiku, apa yang terjadi saat masa kuliah hanyalah bagian kecil dari perjalanan hidup. It was long time ago, and it ended there

Tidak ada yang tersisa, tidak ada yang berlanjut, dan tidak ada yang ingin dihidupkan kembali

Hidup berjalan, semua orang tumbuh, dan setiap orang kini memiliki perannya masing-masing

Aku sangat menghormati ikatan pernikahan, komitmen, dan keluarga

Karena itu pula, aku menjaga batas, dalam sikap, pikiran, dan tindakan

Apa yang kutampilkan di media sosial adalah cerminan diriku hari ini, bukan undangan untuk masa lalu, apalagi ancaman bagi kehidupan orang lain

Jika ada rasa tidak nyaman, cemas, atau pertanyaan di dalam hati, aku berharap semuanya bisa diredakan dengan keyakinan dan kepercayaan

Because peace comes from within, not from constantly looking over someone else’s life 

Aku tidak bersaing, tidak membandingkan, dan tidak berada di posisi siapa pun

Aku hanya menjalani hidupku sendiri

Tulisan ini bukan untuk mempermalukan, bukan untuk menyudutkan, dan sama sekali bukan untuk menyakiti

Ini hanya penegasan yang lembut bahwa setiap orang berhak atas ruang aman, privasi, dan ketenangan

Aku memilih hidup dengan damai, dan aku juga mendoakan hal yang sama untuk orang lain

Semoga aku, kamu dan kita semua bisa melangkah maju, fokus pada apa yang kita miliki hari ini, dan melepaskan hal-hal yang sudah selesai pada waktunya

Tidak perlu mengintai orang lain atau membuat no mention di media sosial

Keep it respectful, keep it mature, No hard feelings, just clarity and boundaries

Selasa, 30 Desember 2025

Rain, Coffee, and Second Chances

Langkahmu terdengar dari sini 

Aku melihatmu buru-buru masuk ke dalam karena hujan diluar sangat deras 

Memesan sebentar ke kasir lalu berjalan ke arahku 

"Maaf ya telat, hujannya deras sekali"

Latte ku sudah tinggal setengah, aku tersenyum. "Nggak apa-apa"

Kau bergegas membuka jaketmu dan menaruh ponsel dimeja. Kau tersenyum. 

Kucium aroma parfum dari tubuhmu saat kau mengibaskan jaketmu dan melipatnya.

"Hai, apa kabar?" Kau mengulurkan tangan dan tersenyum ke arahku. 

"Seperti yang kamu lihat. Aku baik sekali. Kamu gimana?" 

Kau membuka kacamatamu dan mengelapnya, lalu tersenyum "Membaik karena ketemu kamu."

Aku tertawa kecil, "Makanya kalau kangen bilang."

Aku tahu sejak terakhir kali kita bertemu, kau dan aku tidak pernah membicarakan hal ini lagi. 

Kesannya hanya aku yang ingin perasaan ini terbalaskan, sedangkan kau tidak.

Aku masih ingat rasanya ketika kau mulai semua pembicaraan tentang kita

Yang kutangkap saat itu arahnya tidak ada kejelasan, yang membuatku mundur dan akhirnya memilih melupakanmu 

"Makanya aku ajak kamu ketemuan hari ini. Terima kasih ya udah mau dateng."

Kau membenahi rambutmu sebentar dan waiters datang dengan coklat panas no sugar favoritmu.

"I want to say something..."

"Ya?" aku menatap matamu

"I want to fix our relationship, can't we?" 

Aku tersenyum dan melihat ke arah luar. 

"Why? Apa alasannya untuk aku bisa nerima kamu lagi Ben?" Mataku menatap matamu, sekali lagi matamu menunjukan cinta itu 

"Kita perbaiki semuanya dan aku janji ke kamu nggak akan mengulang semuanya."

"Ben... we're divorced. Kenapa hal itu nggak kamu ulang selagi belum ketok palu?" Aku meyakinkan kau untuk mengingat.

"I know, it's my mistakes. Aku terlalu terburu-buru memutuskan sesuatu." Mata Ben seolah berharap padaku untuk mengiyakan ajakannya rujuk.

"Ben..."

"Please, i want you. Aku akan perbaiki semuanya, aku janji. Aku nggak bisa kalau nggak sama kamu."

"Ben..."

"Don't say anything please just give apologize to me."

"Ben?? Bisa gak kamu biarin aku bicara dulu?" 

Aku menghela napas, menahan rasa sesak yang tiba-tiba naik ke dada.

“Ben… masalah kita itu bukan soal orang ketiga,” kataku pelan tapi tegas. “Nggak pernah.”

Ben mengernyit, seolah belum sepenuhnya paham.

“Masalahnya kamu diam,” lanjutku. “Kamu ngilang tiap ada masalah. Kamu milih tutup diri, ninggalin aku sendirian dengan pikiranku sendiri.”

“Aku cuma butuh waktu,” sanggahnya cepat.

“Dan aku butuh kejelasan,” balasku. “Tiap kamu diam berhari-hari, aku bukan ngerasa kamu lagi nenangin diri. Aku ngerasa ditinggal. Dihukum tanpa tahu salahku apa.”

Ben menunduk. Tangannya mengepal di atas meja.

“Aku capek nebak-nebak perasaan kamu, Ben. Capek minta dijelasin. Capek jadi orang yang selalu mulai ngobrol, selalu minta maaf duluan supaya keadaan balik normal.”

Suasana di antara kami hening. Tapi hening yang ini berbeda—aku yang memilihnya.

Ben menatapku lagi, matanya berkaca-kaca. “Aku nggak pernah bermaksud nyakitin kamu.”

“Aku tahu,” jawabku jujur. “Tapi niat baik nggak selalu bikin dampaknya jadi baik.”

Aku menatap lantai cukup lama sebelum akhirnya kembali duduk. Hujan masih turun, pelan tapi konsisten, seperti hatiku yang belum sepenuhnya tenang.

“Ben… silent treatment kamu itu bukan hal kecil,” kataku pelan. “It made me feel invisible.”

“I know,” jawabnya cepat, kali ini tanpa memotong. “And I’m so sorry I made you feel that way.”

Aku menatapnya. “Setiap kali kamu diem, aku ngerasa aku nggak cukup penting buat diperjuangin. I was talking to the walls, Ben.”

Ben menghela napas dalam. “I used to think being quiet was better than fighting. Tapi ternyata, my silence was hurting you more than words ever could.”

Ia menatapku lurus, suaranya bergetar tapi mantap.

“I’m learning now. Kalau aku marah, aku akan bilang. Kalau aku butuh waktu, aku akan jelasin. No disappearing, no shutting you out.”

Aku menggigit bibir. “Kamu tau kenapa aku capek banget?”

“Because you were alone… even when you weren’t supposed to be,” jawabnya lirih.

Aku terdiam. Jawaban itu tepat.

Ben meraih tanganku, ragu, seolah takut aku akan menariknya kembali.

“I don’t want to lose you again,” katanya. “Not because I’m lonely, but because I finally understand how to love you properly.”

“Aku takut, Ben,” jujurku. “Takut balik ke siklus yang sama.”

“That’s fair,” katanya. “But please let me prove it. Not with promises—dengan tindakan. If I ever go silent again, you have the right to walk away. No excuses.”

Aku menatap mata itu. Kali ini tak hanya cinta yang kulihat, tapi kesadaran.

“Kita nggak harus langsung sempurna,” kataku pelan. “But I need consistency. Communication. Effort.”

He nodded. “You’ll get all of it. Step by step. I choose you—every day, consciously.”

Air mataku jatuh tanpa suara. Aku tersenyum kecil di sela tangis.

“Okay,” kataku akhirnya. “Kita coba lagi. Slowly.”

Ben berdiri, duduk disebelahku dan menarikku ke dalam pelukannya, hangat dan penuh hati-hati.

“Thank you for giving us another chance,” bisiknya.

Aku menutup mata. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian saat diam.

Ben mendekat pelan, seolah menungguku memberi ruang. Tangannya masih menggenggam jemariku, hangat, tidak tergesa.

He looked at me, really looked—seakan ingin memastikan aku siap.

Then he leaned in.

Kecupan itu singkat, lembut, hampir ragu. Bibirnya menyentuh bibirku seperti sebuah permintaan, bukan tuntutan. Tidak ada nafsu, hanya penyesalan dan harapan yang disatukan dalam satu detik yang hening.

Aku menutup mata, membiarkan diriku merasakan kembali sesuatu yang lama hilang rasa aman.

Ben menarik wajahnya sedikit.
“I won’t disappear again,” bisiknya. “I promise I’ll stay… even when things get hard.”

Aku mengangguk pelan, dahi kami masih saling menempel.

“Then stay,” jawabku lirih. “Don’t go silent on me ever again.”

He smiled, a soft one.

“I won’t. Not anymore.”

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, diam di antara kami bukan lagi luka—melainkan jeda yang penuh makna.

Hujan di luar justru makin deras, mengetuk kaca kafe tanpa henti. Aku melirik ke arah pintu, lalu kembali menatap Ben.

“Looks like we’re stuck here,” ujarnya pelan, ada senyum kecil di sudut bibirnya.

Aku menatap hujan yang jatuh tanpa jeda. “Lucu ya,” kataku lirih. “Dulu, yang bikin aku kedinginan itu bukan hujan. Tapi diam kamu.”

Ben terdiam sejenak, lalu mengangguk. “And now I’m here. Talking. Staying.”

Kami duduk saling mendekat, berbagi kehangatan sederhana—bukan cuma dari jaket atau genggaman tangan, tapi dari kehadiran yang akhirnya utuh. Di luar hujan masih turun, tapi di antara kami, ada sesuatu yang perlahan menghangat kembali.

Aku menyandarkan kepala pelan ke bahunya. Tidak ada kata-kata besar, tidak ada janji berlebihan. Just quiet, warmth, and a choice to stay.

Dan kali ini, Ben tidak diam. 

“Never choose silence as a weapon.
Because love doesn’t need perfect words it needs presence, honesty, and the courage to stay.”

Rabu, 10 Desember 2025

Seen, Waiting, and Growing

It’s okay if they choose to get married and walk through life hand in hand

while I am still here fighting my own battles alone

Everyone has their own timing and path, and my journey doesn’t make me left behind

it means I am growing, healing, and becoming stronger in my own way

trusting that my time and happiness will come when it’s meant to

I keep reminding myself to be patient

because this season won’t last forever

Soon, all this waiting, all these quiet struggles, and all the lessons 

I’m learning will make sense

What is meant for me is getting closer, and when it arrives

it will come at the right time—whole, gentle, and worth every moment of patience

Sometimes I still feel that they care about me

in small and quiet ways that don’t need to be spoken

It reminds me that even though our paths are different now, the bond and kindness haven’t completely disappeared

Knowing that I am still seen, still remembered, gives me a sense of warmth and strength—it tells me that I am not entirely alone

and that my presence still matters, even in this chapter where I’m learning to stand on my own

Senin, 10 November 2025

Buku Untuk Perempuan

Aku menatap buku bersampul hitam dengan gambar mata perempuan 

Kembali ingatanku menguat dan memberanikan untuk membacanya kembali 

Sudah lama rasanya tidak melihat buku itu 

Ternyata didalam kerdus dengan buku-bukuku yang lain 

Tertarik aku mengambilnya dan membacanya lagi

Ya, tepat 11 tahun lalu, ada seseorang yang berbicara soal cinta dan perasaannya padaku 

Lewat sebuah tulisan yang dijadikannya sebuah buku 

Mengutip beberapa tulisan blogku, membuat foto mataku menjadi sampulnya...

Dan lirik lagu-lagu Sheila On 7, yang menghiasi setiap nama bab dalam buku 

Aku pernah membacanya di usiaku yang 22-28 tahun, rasanya masih risih dan geli 

Kubaca dengan melompat-lompat 

Dan baru kemarin aku membacanya ulang, di umurku yang ke 31 ini 

Aku baru menyadarinya... 

Bahwa pernah ada cinta dan rasa yang sebesar itu untukku, dikala itu ketika aku hanya tahu, cinta sebatas menyukai satu sama lain 

Bahwa disaat sekarang aku kembali ingin membalas rasa itu, aku merasa tidak pantas 

Bahawa disaat aku tahu, semuanya sudah terlambat dan tidak akan pernah kembali aku berusaha untuk legowo atas takdir-Nya

Aku tahu ini skeptis

Tak jarang orang bilang ini adalah cinta yang datangnya terlambat 

Menyadari semuanya tak lagi pernah akan sama 

Apalagi untuk diulang dan kembali 

Bertemu untuk membicarakan hal ini pun, rasanya tidak usah 

Aku tersenyum disetiap paragraf yang ditulis laki-laki ini 

Aku berusaha mengingatnya 

Paginya, aku melihat folder foto di tahun 2014

Saat mundur, aku tahu ternyata aku pernah dicintai sebesar itu olehnya 

Aku melihat detail yang dia ceritakan 

Aku menandai dengan penanda kertas berwarna, untuk menandai hal-hal yang selalu dia detailkan 

Mungkin bagi mereka, "tidak usah dicari apa yang sudah berlalu"

Tapi menatap lagi, gambar-gamabar yang ada...

Memang adanya kita hanya dipertemukan untuk sekadar memberi pelajaran saja

Intuisimu bahkan tidak pernah salah

Aku tersenyum, kau mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan 

Sedangkan aku sekarang sedang menunggu seseorang yang mencintaiku segila saat itu

Aku tahu kau masih disini 

Membaca semua tulisan-tulisanku 

Membaca hal yang aku tumpahkan disini 

Bahkan dulunya aku sangat open, menaruh nama blogku di Twitter atau Instagram... 

Tapi sekarang rasanya private dan tidak ada satupun yang tahu soal keberadaan blogku ini 

Selain orang-orang yang sengaja stalking atau menyimpan surelnya 

Aku tahu kau masih disini untuk hiburan dan membaca sekilas kisah yang kutulis 

I know...

Aku tidak tahu bila soft file yang kau pegang masih ada, atau sudah di delete permanent 

Aku tidak peduli sebenarnya

Hanya ingin berterima kasih

Terima kasih karena pernah mencintaiku sebesar itu

Dengan cara yang mungkin hanya kita yang tahu rasanya

It was real, in its own time

Tapi waktu berjalan, dan perasaan pun menemukan tempatnya masing-masing

Apa yang dulu terasa penting, kini menjadi kenangan

Bukan untuk diulang, hanya untuk diingat sebagai bagian dari proses tumbuh

Hari ini aku berdiri di hidupku sendiri

Tanpa membawa siapa pun dari masa lalu ke dalamnya

Bukan karena pahit, tapi karena sudah selesai

And I’m at peace with that

Jika kau masih membaca, kuharap bukan dengan rasa ingin memiliki

Melainkan dengan pengertian bahwa semua ini sudah menemukan akhirnya

Setiap orang berhak melangkah maju, termasuk kau dan aku

Terima kasih telah menjadi bagian dari cerita dan terima kasih karena kini kita sama-sama memilih untuk menjaga jarak

Some stories are meant to stay in the past not forgotten, just not continued

Malang, Ranukumbolo dan Madakaripura

Kamis, 23 Oktober 2025

5 Tahun

Halo Ayah, apa kabar? 

Baru kemarin rasanya Ayah pergi selamanya, nyatanya jalan di lima tahun ini masih sama lukanya

Masih ngerasa suka sedih kalau Ayah emang gak ada didunia ini 

Melihat aku yang nyatanya gini-gini aja dan belum ketemu pendamping hidup

Melihat Tika dan Hasfi yang sudah jadi calon orang tua 

Melihat Dewi yang sedang belajar dan berkembang jadi pribadi yang lebih baik 

Melihat Ibu yang nyatanya akupun sedih dengan perubahan di raut wajahnya, yang sudah keriput mulai menua dan rambutnya yang putih. Sedang asik-asiknya membuat bumbu betutu pesanan 

Oh ya Ayah, Sapidut sekarang udah ikut kembali ke Allah

Kucing kesayangan RUMAH AYAH udah pulang ke Sang Pencipta

Rasanya hari ini sedih mengenang Ayah, aku tahu nggak mudah melalui hari ini ya Yah

Harus seperti ini sampai semuanya pergi dan kembali menghadap Allah 

Masih suka curi-curi menangis kalau aku rasa perlu

Ditinggalmu emang hampir melumpuhkan separuh hidup, kayaknya aku gak bisa apa-apa tanpa Ayah dan Ibu 

Sampai standarku bertemu dengan lelakipun sesusah itu, karena tangki cinta selalu Ayah isi 

Meski aku tahu, Ayah belum bisa kasih semuanya tapi aku ngerasa Ayah sudah menjadi figur Ayah yang baik untuk aku dan adik-adik 

I miss you Ayah, Aku akan selalu merindukan dirimu


Senin, 20 Oktober 2025

Mistakes #RAK

Hari ini sedikit sesak rasanya dada

Setelah sekian lama aku tidak mengetahui bahwa akun itu tergembok rapi

Bahkan, second account ku yang sempat mengikutimu, sudah lama tidak mengikuti

Tiba-tiba terbersit rasa ingin tahu saja, ku buka profilmu dan menemukan username pasangan dan nama buah hatimu disana

Ternyata itu pasanganmu, membuka akunnya...

Aku mulai terenyuh, dadaku sakit sedikit dan agak sesak ketika melihat video reels mu

Seperti impianmu 

Kau pulang tugas dan disambut oleh pasangan dan buah hatimu

Disitu kau sangat bahagia sekali, dalam hati kecilku yang sedang memanas ingin rasanya aku yang ada disana

Aku sudah tidak bisa menangis melihat setiap video dan foto yang terpampang jelas di akun pasanganmu

Sepertinya dulu kita punya mimpi bersama

Tapi kita tidak pernah utarakan itu satu sama lain 

Hal itu akhirnya membeku dan tidak pernah akan mencair, karena aku sudah menguburnya dalam-dalam 

Senyummu lebar dan bahagia sekali 

Tampak pasanganmu mengabadikanmu sambil menggendong buah hatimu

Ku hitung kecupan bibir, pipi kiri, pipi kanan, kening dan kembali lagi ke bibir

Entah apa yang membuatku berhak untuk cemburu

Aku tahu ini adalah kesalahan besar untuk kembali membuka memori lama

Tapi aku cukup tahu diri, bahwa aku tidak akan pernah menganggu milik orang lain 

Aku hanya melakukan kesalahan yang menurutku jelas harusnya tidak kulakukan 

Flashback kembali dan itulah kesalahanku 

Aku hanya tak mengira akhirnya akan seperti ini

Tapi ternyata aku salah, kau lebih bahagia dengannya 

Aku pun tersadar ini bukan waktunya lagi untuk selalu menyelami kehidupanmu 

Dan aku kembali ke jalanku dan tidak memikirpun itu sekalipun aku ingin

Aku lawan sendiri dan akhirnya pikiran akan kau menghilang

Jumat, 10 Oktober 2025

morning mantra :

i am free 

free to be me 

free from my trauma

free from the validation of others 

free to create the reality of my dreams 

free to explore and discover 

free to live in peace 

free to make myself happy 

free everyday 

in every way

Rabu, 10 September 2025

the most important thing i'd tell my younger self

i met my younger self for coffee today 

she was anxious to have a social obligation 

so was i...

she showed up a few minutes late, wearing short pants

so did i...

she asked if we live in a nice house in East Java

close to our family 

i told her we've been living in a board house for 13 years

she wanted to know if we're working at our dream job

i told her YES, i working as civil servant as well and the office is near from homebase just 2 hours with train

she wanted to know, if we got married. 

i told her, not yet 

i still believe in soulmates and i hope i can met my husband a.s.a.p 

i told her if i still  tried, i want my husband show us unconditional love means

she asked what our life is like

i said, it's very simple

we don't have much, but we have more than we'll ever need

she ended the conversation by asking

"what happened to our dreams?"

i told her, they have evolved over the years because we started focusing on whats makes us happy 

before we parted, i said and make sure to believe in yourself

you might  live your life differently than others, but don't let that stop you from following your heart

 


Minggu, 10 Agustus 2025

let them

Let Them, 

adults are allowed to think whatever they want to think 

so are you 

this is why the Let Them Theory will set you free

instead of living your life on the defense

you're going to get on the offense

you're going to play the game of life the way you want 

Let Them think what they want 

Let Me do what i want