Senin, 10 Februari 2020

Bersabarlah

 Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan kita

Berusaha, bersabar dan hadapi dengan ikhlas

Jangan lari dari masalah

Jangan menyibukkan diri dengan hal yang dibenci Allah

Setiap detik yang terkadang menyapa untuk akhiri saja semua menit nafas ini

Astagfirullah...

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di fikiran setiap saat makin membuat benci

Astagfirullah...

Babak setiap babak terkadang terasa belum siap

Allah kasih cobaan karena Allah sayang 

Kalau bisa lolos, nanti naik kelas

Bismillah.

Jumat, 10 Januari 2020

Ceritakan Pada-Nya

Kalau kamu kecewa

Sakit Hati

Patah Semangat dan Gundah

Tak usah ceritakan pada orang lain

Cukup telan saja rasa itu

Cerita saja pada Allah di sepertiga malammu

Dimana jarak bumi dan langit terasa dekat

Dan dimana sujudmu di bumi yang berisikan keluh kesah, gundah dan kecewa

Didengar langsung oleh seluruh penduduk langit

Selasa, 31 Desember 2019

Lost contact and ...ending? #RAK6

Kamis, 31 Januari 2019

Masih ingat? 

Dimana sore itu kau tiba-tiba menghubungiku, mengabariku bila kau sedang berada di kotaku dan berencana mengajak bertemu. Aku sedikit kaget karena tak menyangka kau sebelumnya selalu bilang, namun tidak untuk kali ini. Saat itu karena kau  mengantar temanmu berobat. 

Sepulang dari kantor, aku mengecek handphone ku. Kau mengajak bertemu sore ini. Aku men-share location dimana tempat indekost ku. 

Aku merapikan kembali hijabku. Aku turun dan segera mencarimu diluar, kau sempat salah jalan sebelum akhirnya menemukan tempat tinggalku. 

Ku lihat kau dengan jaket kesayanganmu dan motor yang kau bilang baru beli. Saling sapa dan melempar senyum, aku naik ke atas motor. 

"Mau makan dimana?"

"Enaknya dimana ya... bentar. Ikutin aja deh jalannya aku yang navigasi." kataku. 

Awalnya kita ingin nonton, tapi melihat film nya sedang tidak ada yang 'kita' banget. Aku waktu itu ingin sekali nonton 'How to train your dragon' hanya saja takut kau tidak suka. 

Akhirnya, sampailah kita di Warung Special Sambal (WSS). Karena aku bingung mau mengajakmu makan dimana, padahal aku sering sekali jalan dan makan didaerah Denpasar.

Kita mengambil tempat duduk yang lesehan. Membaca menu dan memilih beberapa makanan. 

"ya ampun aku lupa kamu nggak bisa makan sambel, maaf ya."

"bisa kok bisa, haha." katamu sambil memilih menu.

Oh ya saat itu aku sedang berpuasa. Jadi sembari menunggu magrib aku sudah menyuruhmu makan, hanya kamu menghargai dan akhirnya menunggu juga waktu magrib.

September...

Oktober...

November...

Desember...

Januari...

Didalam benakku masih saja, selalu masih bertanya. Apakah kau dan aku selama ini, hubungan apa yang selanjutnya dapat kita buat? Apakah akan terus-terusan begini? Menjadi teman jalan dan tidak ada hal-hal serius yang dapat kita bicarakan.

Apalagi setelah pertemuanku dengan seseorang yang ternyata temannya juga.

Aku memberanikan diri membahas orang tersebut didepanmu. Dengan menanyakan 'Kamu kenal si A?' 

Kamu seperti bingung awalnya mengapa aku bisa kenal dengan dia. Air mukamu tak bisa menyembunyikannya. Setelah membahas si A aku tahu kau kesal, tapi aku sengaja menyinggung ini agar aku tahu sejauh mana kau menghadapi dan menghargai hubungan kita yang belum jelas.

Setelah makan, aku magriban. Sambil membayar makan kita, karena tidak adil rasanya setiap makan selalu kau yang membayarnya. Kali ini biarkan aku yang menraktirmu. 

Lalu kita beranjak mencari makanan kesukaanmu, seblak. Aku bingung sebenarnya dimana orang yang jualan seblak yang enak di Denpasar. Aku lupa. Akhirnya kita jalan ke daerah Mahendradatta, tapi karena tutup akhirnya kita memutuskan untuk pulang.

Dijalan aku mengambil gambar punggungmu. Menandakan kita keluar hari ini. Karena kita sama sekali tidak mengambil gambar bersama. Kau mengantar aku sampai rumah, kita saling bersalaman. Salaman cium tangan, kau cium tanganku dan aku mencium tanganmu. Lol. Ini geli sih, tapi disitu kita bergurau. 

"Terima kasih ya. Hati-hati dijalan." Ucapku. 

Setelah pertemuan kita ini, keesokan harinya dan seterusnya sampai bulan Maret kita lost contact. Baik aku maupun kau mungkin mempunyai alasan untuk tidak saling menghubungi. 

Sungguh,sejujurnya aku adalah seorang perempuan yang hatinya sudah kau rebut. Aku sudah dititik capek, jenuh dan 'untuk apa dilanjutkan bila tidak ada kejelasan.'


Iya, aku sebenarnya ingin kejelasan. Kubiarkan 5 bulan kemarin adalah suatu cara pendekatan kita. Namun ternyata aku tidak menemukan jawaban atas semua yang sudah kita lakukan ini. Seperti punya hubungan tapi sebenarnya tidak. Ingin kesal tapi untuk apa, ingin cemburu pun tak berhak. 

Kita adalah dua orang yang saling nyaman namun tidak ada status. Kau menganggapku orang spesial, akupun begitu. Tapi nyatanya kau tidak pernah mengungkapkannya hingga hari ini. 

Sudah penghujung tahun, aku rasa aku harus berhenti menulis tentangmu. Mungkin ini adalah penutup. Karena aku merasa harus benar-benar membuka lembaran baru. 

Setelah berkenalan denganmu dan punya hubungan yang rumit kemarin, aku merasa berhati-hati ketika laki-laki datang mendekat. Aku lebih bersabar dengan dia yang belum datang dan sepertinya belum ada yang bisa mencuri lagi selain dirimu kemarin.

Untuk kau yang membaca ini, terima kasih banyak sudah meluangkan waktumu. Aku tahu ini klise, aku menulis tentangmu, tentang masa laluku dan masa depanku. Aku tidak bisa bercerita selain ke Allah dan blogku. Kujabarkan semua tentangmu, tentang perasaanku dan hal-hal rumit yang tidak bisa ku lafalkan. Terima kasih ya sudah berkenan hadir dalam hidup seorang Lia. 

Aku harap kau selalu sehat, bahagia dan sukses dengan cita-citamu. Semoga kelak kita dapat bertemu dengan orang yang benar-benar mencintai kita lahir batin.

Selesai sudah ceritamu dengan dia. Saat ini bahagialah dengan orang yang akan membuatmu bahagia.

Setiap hujan yang turun 1% air dan 99% kenangan benar adanya, memori yang kita pernah buat adalah hal yang paling mengesankan setahun terakhir. 

Terima kasih, selamat tahun baru. 

Selamat membuka lembaran baru, Lia.

Minggu, 22 Desember 2019

Kita dan Hujan Bulan Desember #RAK5

Sabtu, 22 Desember 2018

Setahun berlalu...  tepat hari ini.

Aku masih ingat saat itu. 

Langit mendung menghitam, dingin dan pertanda akan turun hujan. 

Senja tak terlihat. Desember sedang musim hujan dan dingin, tapi kita tetap berpayung rasa.

Segelap-gelapnya langit, tetapi kau tahu, hatiku sedang berbunga-bunga.

Aku sedang memakai jilbabku dan menunggumu menjemputku untuk jalan-jalan sore ini. Sesekali mengecek handphone ku, menunggu telpon darimu masuk, aku mengangkatnya dan keluar untuk menyambutmu. Berpamitan dengan Nenekku lalu naik ke atas motor.

Ditengah mendung sore yang dingin waktu itu, kau berniat mengajakku untuk makan. Diatas motor kita saling bertukar cerita. Spion kau arahkan ke arahku dan kau tersenyum lewat spion, membuat pipiku bersemu dibalik masker. 

Kita belum menentukan mau makan dimana. Selalu klise ketika seorang laki-laki dan perempuan bingung akan makan dimana. Sebelum sampai tempat tujuan, hujan turun dengan deras. Segeralah kita berteduh di sebuah warung kecil yang terdekat saat itu.

Memesan segelas teh hangat dan makan kerupuk. Haha, aku suka sekali momen ini. Sederhana dan manis. Aku tidak khawatir bila hujan ini terus-terusan dan menjebak kita berdua. Tapi perlu kau tahu, saat itu aku senang karena aku sudah lama tak begini, menikmati derasnya hujan, terjebak bersama dengan seseorang yang terbiasa kusapa lewat pesan singkat dan video call, yang tak setiap hari kutemui, dirimu.


Kau sesekali mengecek handphone mu, aku tak pernah  mempermasalahkannya. Karena aku yakin pekerjaanmu saat ini lebih penting, apapun informasi pasti semua lewat handphone.

"Mau makan dimana?"

"Aku terserah saja, yang biasa-biasa saja ya."

"Mau steak atau makanan rumahan?"

"Makanan rumahan aja yuk."

Setelah hujan agak reda sedikit, dengan gerimis yang masih membasahi, kita segera menuju tempat makan. Aku memegang maps, karena tempat ini baru bagimu dan aku.

Menelusuri beberapa jalan kecil, hingga sampai ke tempat yang membuatku berpikir 'tempat apa ya ini, kok jauh dari jalan besar.'

Dari kejauhan aku lihat lampu-lampu kuning yang cantik dan aku mulai,

'ini anak, bisa aja bikin seneng.'

Jujur, dari dulu selalu diajak ke tempat yang romantis kayak gini sama orang-orang sebelumnya selalu dibuat terpukau, tapi ternyata kau juga bisa menemukan tempat seperti ini. Aku sudah senyum-senyum sendiri sembari melepas helm ku.

"Awas licin yah."

Dari tempat parkir sampai meja, aku pegangan pada tali tasmu. Aku berjalan disampingmu ditemani hujan yang masih rintik-rintik dan membuat suasana menjadi lebih romantis. Yah kau tahu aku sudah tidak melakukan hal-hal seperti ini.

Sampai disana, kita sholat magrib dulu. Lalu menuju meja makan lesehan yang menghadap ke kolam, disebrang kolam ada musik akustik. Lagu-lagu romantis dimainkan. Salah satu yang aku ingat lagunya Once yang Aku Mau.

Seperti diungkap lewat sebuah lagu, tapi tetap batin kita terikat tak kemana-mana. Menikmati malam dan hujan di bulan Desember bersama.

Musik akustik...

Hujan rintik-rintik...

Dingin...

Syahdu...

Sabtu malam...

Aku...

dan kau...

Kita saling bertukar cerita saat itu, tentang semua yang membuatmu senang, kesal aku masih mengingatnya

Aku senang bisa menjadi pendengarmu.

Mencuri senyummu, memotretmu, mengambil gambar bersama.

Kau tahu aku kadang takut ini berakhir sebagai kenangan saja.

Aku benar-benar bersyukur saat itu pada Tuhan, karena adanya dirimu didepanku saat ini. Kau mengisi ruang-ruang yang kosong memberi arti dan membuatku tenang disaat aku tahu mas 'S' sudah mengisi cincin dijemari perempuan lain.

Tapi yang membuatku sedih adalah kita yang tidak pernah menceritakan tentang 'kita'.

Yang benar-benar kita.

Aku merasa kau belum siap.

Dan aku tidak tahu kau akan membicarakan ini kapan.

Jadi aku bungkam semua dengan senyum, karena aku memang suka seperti ini.

Aku tetap menunggu sampai sejauh mana kau mau berdiam tak membicarakan 'kita'

Sepulangnya kau mampir sebentar untuk beli terang bulan dan martabak. Menitipkannya pada aku untuk nenekku. Hujan rintik-rintik masih menemani kita malam itu.

Tiba-tiba ada telpon masuk dari orang yang sedang mencoba mendekatiku, bodohnya aku langsung menyembuyikannya darimu. Aku sadar, kau curiga dan kau kesal saat itu. Tapi yang perlu kau ketahui adalah memang aku dan dia tidak pernah ada apa-apa, aku baru mengenalnya dan dia tiba-tiba saja menghubungiku.

Aku tahu ini adalah salah paham yang sampai saat ini tidak terungkap.

Aku tidak mau kau tahu dan kau juga tidak perlu tahu.

Bagian yang paling menyakitkannya adalah, ini adalah setahun perkenalan kita. Hari ini 22 Desember 2019 sudah setahun berlalu juga pada 22 Desember yang sama.

Aku hanya mengulang memori yang ada.

Mungkin saat kau membaca ini kau sudah bahagia dan akupun.

Thankyou nok, we made it all. 



Selasa, 17 Desember 2019

Good Bye

Wait...

Only one last thought before i let you go
I really wish you the best
I hope you find someone who really loves you and makes you the happiest human on the entire planet

And i don't want to sound selfish but i know there will be nobody loves you the way i did and even if our story could never start 

I know those moments we shared together will be the most beautiful secret crated for two strangers who didn't mean to fall in love

Senin, 16 Desember 2019

Well, listen...

Well, listen

Someone comes in your life
for
a reason

They came to offer happiness also disappointment
There are only a moment
Some are at all times

They come and go

Sometimes leave you sadness
But...
Believe me, there will be someone who comes
Settled in the rest of your life

Allah purposely let you meet some people the wrong
Before finally found the right person
The right way and a wonderful time

@apriliaayus

Minggu, 15 Desember 2019

Hanya Perlu Yakin

Aku hanya perlu yakin 
bahwa apa yang telah Allah ta'ala tetapkan untukku
tidak akan meleset barang sesenti pun
Demikian dengan apa yang tidak Allah tetapkan untukku
Tidak perlu khawatir apalagi gelisah


Kamis, 12 Desember 2019

Surat Untuk Calon Suamiku


Halo... Assalamualaikum calon suamiku

Aku Aprilia Ayu Setyawati, kau bisa panggil aku Lia atau sebutan sayang yang akan kau berikan padaku nanti

Hmm...

MasyaAllah *nyeka air mata*

Terima kasih ya, sudah datang tepat waktu

Dimana aku hampir putus asa dengan yang namanya pasangan hidup, Allah Yang Maha Penyayang mendatangkan kau

Akhirnya orang yang aku tunggu-tunggu selama 25 tahun usiaku, datang juga

Yang di janjikan Allah setelah semua perjalanan manis pahit percintaanku

InsyaAllah kau yang terakhir

Menghapus seluruh kekhawatiran selama ini

Aku kira kau tersesat jauh, tapi ternyata memang Allah belum saja mempertemukan kita berdua

Apa sebelumnya sudah pernah saling melihat atau memang saat itu kita belum digerakkan hatinya

ya mungkin saja

Allah sudah Maha Baik dan Pengasih, menggerakkan kedua hati kita agar saling bertemu

Dan akhirnya hari itu datang, hari dimana kita akhirnya saling "Sepertinya kau orangnya."

Kau adalah sosok yang selama ini aku semogakan

Kau yang selalu aku minta dalam setiap doa-doaku

Oh ya, Kemarin waktu aku umroh bersama Ayah dan Ibu, aku meminta pada Allah agar segera mempertemukan kau dengan aku segera

Cuma memang bukan langsung saat itu, ternyata ada proses dan waktu

Aku tidak khawatir karena Allah sudah jamin semuanya

Hari ini Allah jawab

Alhamdulillah, kau datang dengan keadaan yang baik dan sehat

Kau menjaga dirimu dengan sangat baik

Untuk kau calon suamiku, kelak kalau kau datang kau harus membaca tulisan ini. 

Ini adalah tulisan sebelum kau ada, kau datang dan kau hadir

Aku tidak tahu bagaimana rupamu, rasamu dan semua yang ada pada dirimu

Siapapun kau kelak, aku berdoa agar rumah tangga yang akan kita bangun nanti bisa direstui semesta

Sampai jumpa nanti calon suami

Wassalamualaikum

Minggu, 24 November 2019

Perlengkapan Umroh untuk Perempuan

Halo aku mau share perlengkapan umroh yang aku bawa kemarin.
  1. Al-quran 
  2. Mukenah Putih
  3. Sajaddah kecil / tipis
  4. Baju thowaf (gamis putih dan mukenah putih biasanya dapat dari Travel Umroh
  5. Sepatu thowaf atau pakai kaos kaki saja
  6. Deker atau penutup punggung tangan thowaf 
  7. Gamis
  8. Celana legging
  9. Legging wudhu 
  10. Kaos kaki
  11. Daleman 
  12. Kacamata hitam 
  13. Bantal leher untuk di pesawat
  14. Sepatu /  Sandal yang tidak licin
  15. Tas plastik atau tas untuk sandal 
  16. Colokan kabel listrik
  17. Obat-obatan : minyak kayu putih, tolak angin, obat demam, hot cream, tetes mata, vitamin)
  18. Panty liniers
  19. Alat mandi : sampo, sabun, handbody, sisir, rinso cair, sikat gigi, odol
  20. Hijab dan Khimar
  21. Ciput, peniti, jarum pentul.
  22. Masker untuk menutup mulut
  23. Jaket
  24. Botol spray untuk air zamzam
  25. Handphone dan Charger
  26. Powerbank
  27. Gunting lipat
  28. Skincare (toner, serum, masker)
  29. Makeup (sunscreen, lipstick nude, bold, eyeliner, maskara alis, bedak two way cake)
  30. Baju tidur
  31. Jepit dan kunciran rambut
  32. Headset
  33. Payung 
  34. Tisu basah 
  35. Tisu kering



Minggu, 10 November 2019

November Rain #RAK4

Sabtu, 10 November 2018

Jelas.

Masih teringat dengan jelas dimemori ku saat itu.

Dari awal pertemuan kita dan semua hal kecil yang biasa kita lakukan.

Malam dimana kau berencana untuk menjemputku, tapi aku menolaknya dan bilang akan kesana sendiri. Aku hanya tidak ingin keluarga besarku bertemu denganmu, karena aku tahu... mungkin akan sangat awkward ketika aku mengenalkanmu pada mereka. Karena kita baru kenal, aku takut kau tidak siap jika keluargaku mengenalmu.

Malam itu aku jalan sendiri ke tempat yang sudah kau tentukan.

Kau mengirimkan daftar menu dan aku memilih untuk memesan air jeruk hangat.

Aku datang dan membawa oleh-oleh untukmu, tapi sengaja ku tinggal di kendaraan.

Aku datang mencarimu, ya ku temukan sosokmu.

Kau dengan jaket hitam kebangganmu dan Aku dengan baju maroon manis malam itu.

Kita saling melempar senyum dan mengulur tangan.

Aku duduk disebelahmu.

Ini pertemuan ketiga kita.

Dimeja kau memesan dua makanan, aku hanya memesan air jeruk hangat kesukaanku. Aku tidak makan karena memang aku sudah makan dirumah. Aku bilang padamu, karena Ibu masak pepes favoritku. Kau tersenyum dan tetap memaksaku makan.

Sambil menghidupkan stories instagram, kau mengambil gambar dan video sambil menyuapiku.

Awalnya kaku sekali, karena jujur aku sudah tidak melakukan hal-hal seperti ini sudah lama.

Tapi jelasnya aku seakan mengiyakan semua perlakuanmu padaku.

Dalam diriku ada rasa senang dan takut. Hanya itu.

Senang ada yang memperhatikanku kembali dan takut bila ini hanya bersifat sementara.

Tapi malam itu kita habiskan bersama saling bercanda dan bercerita.

Kau bercerita tentang hidupmu dan aku senang jadi pendengarmu.

Sayangnya dan anehnya, kita tak pernah bercerita tentang perasaan kita satu sama lain.

Entah ada dinding batas, kita tak pernah menembus masalah percintaan. Aku dan dirimu, tidak sama sekali.

Tapi, kita nyaman seperti ini.

Saat kita makan dan bercerita kau mengambil hapeku, menghidupakan video dan merekam aktifitas kita berdua malam itu.

Masih tak kusangka kau begitu lucu dan menggemaskan, seperti adikku sendiri. Memperlakukan kakakmu dengan sangat manis. Kau tahu cara memperlakukan seorang perempuan, tapi kau lupa hatinya juga butuh kau perhatikan.

Lama kelamaan apapun yang kau lakukan membuatku terbawa perasaan, namun bisa ku kontrol. Semakin aku menyukaimu, semakin rasa ingin mememilikimu tak ada. Tak pernah dan ku tepis selalu.

Aku mengerti batasannya.

Aku menganggapmu sebagai adik.

Dan kau menganggapku sebagai kakak.

Batasan itu yang selalu aku tinggikan dari pada semua ego ku.

Setelah makan malam itu, kau mengantarku beriringan pulang. Aku sudah menolaknya namun kau tetap ingin mengantarkanku sampai rumah nenekku.

Aku senang dengan semua perlakuanmu setahun lalu.

Terima kasih. Kau, yang selalu ku panggil Nok.

Sudah beri kesan baik di 2018 kemarin.

Ini hampir penghujung 2019 dan aku sudah bisa mengendalikan diriku sendiri terhadapmu.

Semoga kelak ketika kita bertemu kembali, kita masih berteman baik.