Minggu, 10 Januari 2021

Berbuatlah Baik

Ternyata bukan tanggungjawab kita untuk membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik

Karena pada akhirnya setiap orang bertanggungjawab pada dirinya sendiri

Kalau kita bersikukuh ingin mengubah orang lain

Kita bisa berakhir dengan kecewa saat ia tak sejalan dengan apa yang kita mau

Kita marah? Tapi, karena apa?

Yang bisa kita lakukan adalah berbuat baik

Memberi kenyamanan, memberi contoh agar ia terinspirasi untuk melakukan hal-hal baik itu setulus hati

Kamis, 10 Desember 2020

Konsep Rejeki

Satu hal yang aneh tapi nyata kalau ikut kalkulator Allah adalah semakin banyak memberi malah semain banyak rejeki

Syaratnya cuma harus taqwa kepada Allah

Taqwa artinya percaya

Mengapa orang pelit hatinya resah?

Karena dia gak pernah memberi orang, maa dia juga gak pernah merasakan dapat balasan berlipat-Nya

Maka dari itu orang pelit hartanya selalu berkurang

Orang susah itu bisa jadi ladang rejeki kita

Banyak orang pengen kaya lalu ngedeketin orang kaya

Padahal dia lupa kalau di kalkulator Allah, ladang rejeki kita malah sebaliknya

Jadi mulai sekarang yuk belajar jadi orang sabar, orang kuat, gak boleh pantang menyerah

Kembali belajar biar ilmu kalian banyak, buat apa? 

Ya buat bantu orang, karena makin banyak bantu orang akan makin banyak berkahnya, InsyaAllah

Jumat, 27 November 2020

Jangan

Jika kita sudah pernah merasakan dibohongi, jangan membohongi

Jika kita sudah pernah merasakan sakit hati, jangan menyakiti

Jika kita sudah pernah merasakan patah, jangan mematahkan 

Jika kita sudah pernah merasakan dikhianati jangan mengkhianati 

Jika kita sudah pernah merasakan caci maki, jangan memaki 

Jika kita sudah duluan merasakan penderitaan, jangan menebarkan keorang lain

Manusia terkadang lupa akan belajar dari kesalahan, penyesalan dan rasa sakit yang pernah dirasakan sendiri

Padahal, pencipta punya tujuan kenapa harus kita dulu yang merasakan 'ini' semua ketimbang mereka diluar sana

Mungkin tujuan pencipta cukup baik agar makhluknya banyak menebar kebaikan dan cinta kasih sayang

Tetapi, lantas kenapa tidak demikian?

Kenapa mereka harus menyempitkan pikiran mereka hanya karena hasut ego dan hawa nafsu?

Merasa tak adil lantas harus men-dendam agar semua manusia harus merasakan hal setimpal atas kesalahan yang kau buat?

Padahal setiap nyawa melakukan kesalahan yang berbeda dengan konsukensi yang berbeda-beda bukan

Hidup itu sebenarnya mudah, masalah itu tidak akan datang jika kita sendiri yang melakukannya

Mengapa enggan sekali melakukan kebaikan, padahal cukup keji membagikan rasa sakit kepada orang lain

Lakukanlah perbuatan terpuji sesuai suara bisikan lembut nuranimu, jangan membagikan rasa sakit yang tidak pernah dilakukan orang lain hanya karena kau merasa tak adil

hayyu salma

Kamis, 26 November 2020

Goodnight After Morning

We met people for reasons

For  the possibilities in the moment we met a certain person and why we met the way we did

To see the reason behind every hello and every goodbye

For ever hello leads to another goodbye, and every goodbye could mean forever

Looking back at the things we once had, the things we did, the feelings we felt

Wondering what made us never so sure

But admitting that we weren't so sure was another thing to be more uncertain about

Well, maybe life is a series of uncertain thins 

They say choices are there to be made, but once a choice is made, usually we sacrifice something out of it

So, sometimes we just kiss the pain away, until time itself finally has the answers

Living life searching for those answers makes us wonder about a lot more questions than we can ever think of

Often times most of those are left hanging, and so many harsh answers to be found out later

Some nights are harder, harsher than any other nights, when you start to ask yourself what is the reason behind everything 

About what happened, in every meeting, every possibility, every heartbreak, even every little thing that somehow, you just realized, matters to you

All the midnight dialogues between tthe heart and the brain that keep you awake at 4 AM until you fall asleep unwrittingly

An how come feelings just aren't there anymore?


Selasa, 24 November 2020

Letter Y for Yuanito Yoga Pratama

Selalu ketika aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata aku selalu menuliskannya lewat pesan

Hari ini Ulang Tahunmu genap yang ke-28. 

Kuucapkan sepatah dua patah kata untukmu lewat pesan whatsapp. Berharap dihari kelahiranmu, kau diberkahi dan senantiasa dalam lindungan-Nya. Mendapatkan jodoh terbaik dunia & akhirat. 

Balasannya sama-sama meng-aamiin kan doa baik. 

Aku yakin ada percakapan lain yang lebih menarik dari percakapanku denganmu di kontak whatsapp-mu. 

Walau belum lama kita mengenal, kau harusnya tahu aku yang sedang menaruh hati padamu. 

Nyatanya sebagai perempuan pun susahnya mengutarakan hati. 

Setelah yang kemarin, aku jatuh hati lagi dengan seseorang yang baru saja kukenal. 

Bahkan belum bertemu denganmu pun, aku sudah merasa yakin. 

Sayang sekali nyaliku tak sebesar rasaku padamu. 

Aku tidak pernah berani mengungkapkan apa yang aku rasakan padamu. 

Mungkin kau menganggap aku aneh, karena bisa menyukai seseorang yang belum pernah aku temui. 

Tapi harusnya kau tahu, yang namanya perasaan tidak pernah berbohong. 

Entah kali keberapa, akhir-akhir ini setelah bertemu denganmu aku selalu menyebut namamu dalam doa-doaku. Berharap malaikat mencatatnya dan Allah mengabulkannya. 

Sejak match denganmu saat itu, aku jadi malas swipe kanan lagi. 

Mungkin Allah belum mengijinkannya. 

Mungkin Allah memang hanya mempertemukan kita hanya sebatas teman. 

Rasanya ingin kau tahu perasaanku. 

Aku selalu menyebutmu dalam doaku.

Aku selalu no mention tweet tentangmu. 

Aku selalu menunggu chat darimu.

Sayang terkadang semua tidak sesuai dengan ekspektasiku.

Ketika nanti kau baca ini, mungkin keadaan sudah berbeda. 

Tapi ketahuilah aku yang aneh ini pernah menyukaimu. 

Kadang aku ngerasa nggak pantes. 

Hanya, aku juga tak bisa membohongi perasaanku.

Kalau kamu baca, aku cuma mau bilang... 

Aku menyayangimu, titik.

Semoga kelak kita dapat berjumpa, bercerita dan berteman.

Selamat Ulang Tahun mas Yuanito Yoga

Selasa, 10 November 2020

Karena Kita...

Karena kita tak pernah berharap untuk dipertemukan

Karena kita tak pernah saling merindu

Karena kita tak pernah mencintai segila ini

Mungkin 'Karena kita tak pernah'

Takdir berkata lain

Membiarkan kita bertemu, saling mencintai 

Dan merindu disaat jauh

Karena kita tak pernah menyalahi takdir

Karena kita akhirnya saling mencintai

Karena semesta menginginkan kita bersama

Karena kita adalahh paduan yang serasi 

Karena kita percaya akan skenario Tuhan

Terima kasih sudah datang! 

Karena kamu tepat pada waktunya 

Kamis, 15 Oktober 2020

Nenek Tersayang

Cukup 26 tahun Nenek nemenin aku 
Cukup 24 tahun Nenek nemenin Indra
Cukup 23 tahun Nenek nemenin Tika dan Indri
Cukup 20 tahun Nenek nemenin Dewi 
Cukup  5  tahun Nenek nemenin Habibie

Sudah 72 tahun Nenek nemenin kita semua
Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang, pemilik segala alam semesta lebih menyayangi Nenek

Minggu, 23 Agustus 2020 jam 14.44 adalah pertemuan terakhir aku dan Nenek. Waktu itu aku mengantarkan titipan Ibu yang banyak banget buat Nenek. Ternyata itu adalah titipan terakhir Ibu buat Nenek. Waktu berjalan ketika aku akan balik bulan September ternyata Nenek sudah dibawa ke Malang, aku sempet mikir,"Yah, gak bisa ketemu Nenek lagi dong." 
Ternyata bener, aku nggak bisa ketemu Nenek untuk selama-lamanya. 
Nenek sudah waktunya pulang ke sisi-Nya.

Ibu, Ayah, Tika & Dewi, setelah sekian lama tidak bertemu Nenek, hanya bertemu Nenek sekali di 23 September 2020.
Tante Endang dan Om Harto juga hanya bertemu sekali tapi menghabiskan 21 hari bersama Nenek, merawat dan menjaga Nenek sampai Nenek berpulang.
Om Dodo, Tante Nur dan Habibie yang paling sering bertemu dengan Nenek.
Sayang sekali Indra dan Indri harus berjauhan karena mereka sudah kerja di Ibukota, bertemu dengan kedua bapak ibunya saja jarang apalagi sejak pandemi.
Aku yang sebulan sekali bertemu baru kemarin Agustus bertemu lagi. Karena sejak Maret - Juli aku tidak berani pulang karena PSBB pandemi. 

Nek. aku bahkan belum sempat mengenalkan cucu menantu ke Nenek. Aku heran juga kenapa sampai hari ini orang itu belum datang, aku sedih disisi lain aku ingin Nenek melihatku menikah tapi belum kesampaian. 

Nenek selalu mendoakan semuanya, dari anak cucu menantu bahkan aku selalu minta doa ke Nenek dan Nenek selalu bilang, "Iya mbak, Nenek selalu doain cucu cucu Nenek, semoga Aprilia Ayu Setyawati lolos seleksi dan mendapatkan jodoh terbaiknya."

Maaf Nek, kadang aku tidak mengangkat telpon Nenek atau cepat membalas pesan Nenek. Aku sedih banget nggak ada lagi yang aku telpon selain ayah,ibu nanti. 

Waktu Nenek meninggal, sebelumnya keluarga beberapa sudah merasakan firasat. Tapi sebagian biasa saja karena Nenek terlihat sehat dan membaik. Namun Allah sudah gariskan hidup dan mati hamba-Nya. 

Kamis, 15 Oktober 2020 sekitar jam 16.19 ada panggilan masuk dari Ibu, aku sedang tidur waktu itu. Biasanya aku mematikan paket data, tapi sore itu sebelum tidur aku tetap menghidupkannya dan memasang alarm jam 16.55 agar tidak bablas. 

Saat itu langsung ku angkat, ku kira Ibu minta kuota tapi diujung telepon aku mendengar isakan Ibu. Aku takut sekali waktu itu dan deg-degan! 
Aku sempat mengira itu Ayah, karena sebelumnya Ibu mengabari kalau Ayah sakit. 
Tapi...

"Lia kamu yang sabar yah" suaranya bergetar dan Ibu mulai menangis.
"Iya bu ada apa? Kenapa bu?" aku pun ikut deg-degan, aku tidak siap dengan ini.
"Nenek udah nggak ada, Nenek meninggal."

Aku langsung menyebut, "Innalillahi Wa Innaillahi Rojiun, Nenek...."

Sejenak aku dan Ibu menangis bersama.

"Aku belum lihat Nenek bu, aku belum ketemu Nenek."

"Iya kamu kalau mau ke rumah Nenek, besok subuh saja."

Setelah panggilan berakhir, aku masih menangis. Memeluk bantal, berharap ini nggak kejadian. Seperti mimpi buruk. Tapi Qodarullah, Allah yang punya takdir. 

Aku segera merapikan semua bajuku, bersiap ke rumah Nenek. Walau aku tahu, aku akan kemaleman di jalan dari pada aku menunggu subuh aku bergegas tancap gas ke Negare jam setengah enam sore. 

Diperjalanan aku menangis, masih tidak percaya dengan kabar ini.

Sesampai di Negare, aku parkir dan melihat rumah Nenek sudah banyak orang tahlilan. 

Seketika aku kembali menangis, membawa barangku masuk dan langsung menuju kamar Nenek. Disana aku kembali menangis habis-habisan. Rasanya nggak mungkin, nggak mungkin sekali. Nenek kenapa cepet banget ninggalin kita semua. 

Ayah,Ibu dan adik-adik sedang dalam perjalanan. Begitu pula Jenazah Nenek yang dibawa dari Malang. 
Aku mencoba tegar, pasrah dengan takdir Allah. Sedih sekali rasanya bila diingat. 

Saat Jenazah datang dan diturunkan, lemas rasanya melihat jasad Nenek terbujur kaku, dingin dan sudah di kafankan. 

Aku sempat kecewa dengan diriku karena saat pemakaman Mbahku aku tidak melihat jasadnya dan proses pemakaman. Tapi ini benar-benar dilihatkan dengan sempurna, aku melihat Nenek dihadapanku seperti sedang tertidur namun ruh nya sudah dibawa Malaikat Izrail. 

Biasanya ke rumah Nenek selalu ditanya mau makan apa nduk, atau sekedar tidur aja disini. Tapi sekarang Nenek diam tak berkata apa-apa. Aku dan keluarga mencoba kuat, aku sebagai cucu pertamanya terpukul sekali atas kepergian Nenek. 

Aku sempat mencium kening dan pipi Nenek untuk yang terakhir kalinya. Sudah merasa ikhlas, saat mencium. Biasanya Nenek membalas untuk mencium, tapi kali ini beliau hanya diam saja. Aku yakin ruh Nenek masih disekitar rumah, melihat anak cucu menantunya datang. Banyak saudara serta rekan yang hadir untuk berbela sungkawa. 

Saat mengantar Nenek dari Keranda, disholatkan lalu dibawa ke makam rasanya gak berhenti menghapus air mata. 
Apalagi saat Nenek masuk liang lahat dan di adzankan oleh Om ku. Air mata tak berhenti menangis sembari kami semua beristighfar. 
Kulihat Ayah pun meneteskan air mata, tanda ia juga kehilangan sosok Ibu Mertua yang sangat sayang padanya. Karena saat Mbah meninggal pun ayah tak terpukul seperti ini, karena memang saat Mbah meninggal Ayah sudah sangat ikhlas. 

Kehilangan dan patah hatiku untuk kedua kalinya, ternyata seperti ini rasanya. 
Setelah kehilangan Mbah (ibu dari Ayah), sekarang kehilangan Nenek tercinta (ibu dari Ibu). Bagiku, kehilangan adalah suatu yang wajar tapi aku tidak ingin milikku hilang, tapi aku bukan pemilik sesungguhnya. Hanya Allah pemilik semua mahluk dan semesta-Nya. 

Tahun 2019 saat lebaran di Malang, adalah kenangan terakhir kami semua. Aku sempat berfikir bisakah ini terus berlanjut ditahun-tahun selanjutnya? Bagaimana tahun depan tidak seramai dan selengkap tahun ini?

Ternyata Allah menjawab di 2020, saat Idul Fitri kita semua kena dampak PSBB karena pandemi. Mengharuskan kita hanya bisa bersilaturahmi dari kejauhan. Ada yang di Jakarta, Malang, Banyuwangi, Negare dan Denpasar. 
Sedihnya tahun ini memang kita nggak makan masakan Nenek lagi, nggak makan sup kimlo atau ayam goreng Nenek. 

Benar, di bulan-bulan selanjutnya saat kesehatan Nenek menurun, Ibu,Tante dan Om ku sepakat untuk membawa Nenek ke Malang untuk berobat. Disana Nenek merasa sepi dan ingin pulang sambil merengek nangis ke Tanteku. 

Di minggu berikutnya, Allah mengambil Nenek kembali. Allah lebih sayang Nenek.

Nenek Tersayang, aku Lia cucumu mewakilkan semuanya
Terima kasih untuk semuanya ya Nek
Lia yakin ini semua sudah jalan-Nya yang paling terbaik
Lia minta maaf kalau selama ini ada salah 
Lia akan selalu ingat pesan Nenek
Lia akan jagain adik-adik semuanya
Lia akan rukun sama semuanya
Lia akan menikah dengan orang yang tepat dan ketika Lia udah ketemu, Lia akan ajak ke makam Nenek
Lia bakalan jagain Ayah dan Ibu juga
Terima kasih Nenek Tersayang
Selamat beristirahat panjang

Kami mencintaimu

Sabtu, 10 Oktober 2020

Marry a Guy Who

Marry a guy who can speak good words to you

Even though he is mad at you

The best of partner is when he is angry 

He won't try to insult you

Because he ha that much respect for you

And doesn't want to lose you in a simple argument

Selasa, 06 Oktober 2020

Segalanya

Suatu ketika aku pernah menaruh harap yang begitu banyak pada seorang manusia

Pada akhirnya aku kalah, aku kecewa

Pernah juga aku berhenti berharap apa-apa

Tidak pada apa

Tidak pada siapa

Dan akhirnya aku kosong

Hampa tak bertujuan

Kemudian aku belajar menggantungkan 

Satu per satu harapan hanya pada-Nya

Aku belajar berharap sepenuhnya hanya pada ketetapan-Nya

Kau tahu apa yang aku dapatkan?

Segalanya

Meski kadang aku harus menangis dulu

Meski kadang aku harus terluka dulu

Namun pada titiknya aku mengerti

Aku benar-benar bahagia dengan semua jawaban-Nya


nurpalahdee.

Jumat, 02 Oktober 2020

Sudah Punya Calon Pasangan atau Belum?

Kalau ditanya, sudah punya calon pasangan atau belum, jawab saja sudah ada

Memang benar calon sudah ada, sudah Allah siapkan 

Tapi, kita belum tahu siapa dan sekarang sedang ada dimana

Jodoh itu ibarat rezeki

Kita tak pernah tahu pasti

Jodohh akan selalu menjadi misteri

Seseorang yang dinanti bisa saja pergi

Dan, seseorang yang tak disangka malah datang tiba-tiba 

Apa daya, memang jauh sebelum kita lahir

Allah sudah menentukan siappa jodoh kita di Lauh Mahfudz sana

Mau sekuat apa pun mengejar, kalau bukan jodoh maka tidak akan berjumpa

Tapi bila sudah jodoh, mau bagaimanapun menghindar akhirnya akan bersama juga