Kamis, 12 Desember 2019

Surat Untuk Calon Suamiku


Halo... Assalamualaikum calon suamiku

Aku Aprilia Ayu Setyawati, kau bisa panggil aku Lia atau sebutan sayang yang akan kau berikan padaku nanti

Hmm...

MasyaAllah *nyeka air mata*

Terima kasih ya, sudah datang tepat waktu

Dimana aku hampir putus asa dengan yang namanya pasangan hidup, Allah Yang Maha Penyayang mendatangkan kau

Akhirnya orang yang aku tunggu-tunggu selama 25 tahun usiaku, datang juga

Yang di janjikan Allah setelah semua perjalanan manis pahit percintaanku

InsyaAllah kau yang terakhir

Menghapus seluruh kekhawatiran selama ini

Aku kira kau tersesat jauh, tapi ternyata memang Allah belum saja mempertemukan kita berdua

Apa sebelumnya sudah pernah saling melihat atau memang saat itu kita belum digerakkan hatinya

ya mungkin saja

Allah sudah Maha Baik dan Pengasih, menggerakkan kedua hati kita agar saling bertemu

Dan akhirnya hari itu datang, hari dimana kita akhirnya saling "Sepertinya kau orangnya."

Kau adalah sosok yang selama ini aku semogakan

Kau yang selalu aku minta dalam setiap doa-doaku

Oh ya, Kemarin waktu aku umroh bersama Ayah dan Ibu, aku meminta pada Allah agar segera mempertemukan kau dengan aku segera

Cuma memang bukan langsung saat itu, ternyata ada proses dan waktu

Aku tidak khawatir karena Allah sudah jamin semuanya

Hari ini Allah jawab

Alhamdulillah, kau datang dengan keadaan yang baik dan sehat

Kau menjaga dirimu dengan sangat baik

Untuk kau calon suamiku, kelak kalau kau datang kau harus membaca tulisan ini. 

Ini adalah tulisan sebelum kau ada, kau datang dan kau hadir

Aku tidak tahu bagaimana rupamu, rasamu dan semua yang ada pada dirimu

Siapapun kau kelak, aku berdoa agar rumah tangga yang akan kita bangun nanti bisa direstui semesta

Sampai jumpa nanti calon suami

Wassalamualaikum

Minggu, 24 November 2019

Perlengkapan Umroh untuk Perempuan

Halo aku mau share perlengkapan umroh yang aku bawa kemarin.
  1. Al-quran 
  2. Mukenah Putih
  3. Sajaddah kecil / tipis
  4. Baju thowaf (gamis putih dan mukenah putih biasanya dapat dari Travel Umroh
  5. Sepatu thowaf atau pakai kaos kaki saja
  6. Deker atau penutup punggung tangan thowaf 
  7. Gamis
  8. Celana legging
  9. Legging wudhu 
  10. Kaos kaki
  11. Daleman 
  12. Kacamata hitam 
  13. Bantal leher untuk di pesawat
  14. Sepatu /  Sandal yang tidak licin
  15. Tas plastik atau tas untuk sandal 
  16. Colokan kabel listrik
  17. Obat-obatan : minyak kayu putih, tolak angin, obat demam, hot cream, tetes mata, vitamin)
  18. Panty liniers
  19. Alat mandi : sampo, sabun, handbody, sisir, rinso cair, sikat gigi, odol
  20. Hijab dan Khimar
  21. Ciput, peniti, jarum pentul.
  22. Masker untuk menutup mulut
  23. Jaket
  24. Botol spray untuk air zamzam
  25. Handphone dan Charger
  26. Powerbank
  27. Gunting lipat
  28. Skincare (toner, serum, masker)
  29. Makeup (sunscreen, lipstick nude, bold, eyeliner, maskara alis, bedak two way cake)
  30. Baju tidur
  31. Jepit dan kunciran rambut
  32. Headset
  33. Payung 
  34. Tisu basah 
  35. Tisu kering



Minggu, 10 November 2019

November Rain #RAK4

Sabtu, 10 November 2018

Jelas.

Masih teringat dengan jelas dimemori ku saat itu.

Dari awal pertemuan kita dan semua hal kecil yang biasa kita lakukan.

Malam dimana kau berencana untuk menjemputku, tapi aku menolaknya dan bilang akan kesana sendiri. Aku hanya tidak ingin keluarga besarku bertemu denganmu, karena aku tahu... mungkin akan sangat awkward ketika aku mengenalkanmu pada mereka. Karena kita baru kenal, aku takut kau tidak siap jika keluargaku mengenalmu.

Malam itu aku jalan sendiri ke tempat yang sudah kau tentukan.

Kau mengirimkan daftar menu dan aku memilih untuk memesan air jeruk hangat.

Aku datang dan membawa oleh-oleh untukmu, tapi sengaja ku tinggal di kendaraan.

Aku datang mencarimu, ya ku temukan sosokmu.

Kau dengan jaket hitam kebangganmu dan Aku dengan baju maroon manis malam itu.

Kita saling melempar senyum dan mengulur tangan.

Aku duduk disebelahmu.

Ini pertemuan ketiga kita.

Dimeja kau memesan dua makanan, aku hanya memesan air jeruk hangat kesukaanku. Aku tidak makan karena memang aku sudah makan dirumah. Aku bilang padamu, karena Ibu masak pepes favoritku. Kau tersenyum dan tetap memaksaku makan.

Sambil menghidupkan stories instagram, kau mengambil gambar dan video sambil menyuapiku.

Awalnya kaku sekali, karena jujur aku sudah tidak melakukan hal-hal seperti ini sudah lama.

Tapi jelasnya aku seakan mengiyakan semua perlakuanmu padaku.

Dalam diriku ada rasa senang dan takut. Hanya itu.

Senang ada yang memperhatikanku kembali dan takut bila ini hanya bersifat sementara.

Tapi malam itu kita habiskan bersama saling bercanda dan bercerita.

Kau bercerita tentang hidupmu dan aku senang jadi pendengarmu.

Sayangnya dan anehnya, kita tak pernah bercerita tentang perasaan kita satu sama lain.

Entah ada dinding batas, kita tak pernah menembus masalah percintaan. Aku dan dirimu, tidak sama sekali.

Tapi, kita nyaman seperti ini.

Saat kita makan dan bercerita kau mengambil hapeku, menghidupakan video dan merekam aktifitas kita berdua malam itu.

Masih tak kusangka kau begitu lucu dan menggemaskan, seperti adikku sendiri. Memperlakukan kakakmu dengan sangat manis. Kau tahu cara memperlakukan seorang perempuan, tapi kau lupa hatinya juga butuh kau perhatikan.

Lama kelamaan apapun yang kau lakukan membuatku terbawa perasaan, namun bisa ku kontrol. Semakin aku menyukaimu, semakin rasa ingin mememilikimu tak ada. Tak pernah dan ku tepis selalu.

Aku mengerti batasannya.

Aku menganggapmu sebagai adik.

Dan kau menganggapku sebagai kakak.

Batasan itu yang selalu aku tinggikan dari pada semua ego ku.

Setelah makan malam itu, kau mengantarku beriringan pulang. Aku sudah menolaknya namun kau tetap ingin mengantarkanku sampai rumah nenekku.

Aku senang dengan semua perlakuanmu setahun lalu.

Terima kasih. Kau, yang selalu ku panggil Nok.

Sudah beri kesan baik di 2018 kemarin.

Ini hampir penghujung 2019 dan aku sudah bisa mengendalikan diriku sendiri terhadapmu.

Semoga kelak ketika kita bertemu kembali, kita masih berteman baik.

Kamis, 31 Oktober 2019

Ijinkan lebih lama lagi untuk tetap tinggal

Sekarang kita saling berhadapan

Kau dengan senyum manismu menggenggam tanganku dan menciumnya berkali-kali
Dari balik punggung kau mengambil sebuah kotak 

Ya, seperti drama yang ku lihat di televisi.

Layaknya seseorang kekasih yang akan melamar si perempuannya.

Aku tersenyum malu. Kau masih menatapku dan menyematkan cincin manis itu di jari kananku

"Aku tahu kita bukan sepasang kekasih. Aku tidak tahu harus menyebut ini apa. Tapi pakailah dulu. Aku belum tahu kapan bisa menepatinya, tapi aku ingin kau tahu aku sangat menyayangimu."

Kita saling mendekat. Kau menarik bahuku dan memelukku. 

"Kumohon tetap disini sampai waktunya tiba. Aku benar-benar bingung saat ini. Aku ingin memilikimu tapi aku bingung dengan kenyataanku. Aku tidak mau kehilangan orang sepertimu. Sungguh." 

Kali ini kau memelukku lebih erat.

Aku mengelus punggungmu, berusaha bilang pada diri sendiri. 'Mungkinkah aku menunggumu?'

Aku tersenyum. "Sudahlah jangan khawatir, apa yang sudah menjadi milikmu tak akan kemana. Tapi bila suatu saat kita dipisah, ingatlah aku sebagai orang yang pernah ingin kau miliki."

Kau makin memelukku erat. Kau menangis dipelukanku.  

"Jangan menangis jagoan. Kita dipertemukan Tuhan pasti dengan berbagai alasan. Entah kita saling memberikan pelajaran atau kita akan berakhir bersama selamanya. Tenanglah aku juga menyayangimu." Aku mengelus punggungnya menenangkannya.

Kau melepas pelukan dan mencium keningku dalam-dalam. 

Aku masih tidak percaya. 

Didepanku ada orang yang mencintaiku dan aku pun mencintainya. 

Tapi mengapa ada batas 'Bingung' antara kita. 

Kau bingung dengan kenyaataanmu. Aku bingung berapa lama aku harus menunggumu.

Kau menggelengkan kepalamu. Menyatukan keningmu dengan keningku. 

"Sungguh, bagaimana ini bisa terjadi. Aku masih belum bisa memastikannya. Izinkan dirimu lebih lama tinggal. Jangan pergi."

Aku mengusap air matamu. Aku tahu dirimu.
Tak lama, Kita saling bertaut dan melepas semua kesedihan. Dibalut air matamu, kau enggan melepas dan aku hanya membiarkannya semakin lama. Setelahnya kita masih bertatapan.

"Aku akan ada disini untukmu." kataku. 

Sekali lagi kau memelukku, "Terima kasih banyak. Terima kasih."

Dan akhirnya kita tidak saling kehilangan.

Rabu, 30 Oktober 2019

Honesty

You don't have to scream and tell people to like you
When they like you, they like you
When they don't, they just don't 
and you don't have to beg for them to like you
You don't have to use with all power
force them 
try to make them like you, adore you, admire you
When they just don't want to

it called "honesty" sweetheart! 

Senin, 21 Oktober 2019

Jatuh cinta denganmu tidak sama sekali menghapus lukaku

aku kira jatuh cinta seindah itu
aku kira jatuh cinta bisa membuatku tidak merasa sendiri
aku kira jatuh cinta adalah hal yang tepat
aku kira jatuh cinta bisa membuat bahagia
aku kira jatuh cinta bisa menghapus luka lama
aku kira jatuh cinta tak serumit itu
aku kira jatuh cinta bisa setiap saat
aku kira jatuh cinta menyenangkan
aku kira jatuh cinta akan membawaku pada seseorang yang mencintaiku juga
aku kira jatuh cinta tak sesepele ini
aku kira jatuh cinta benar
aku kira jatuh cinta tak sulit
aku kira jatuh cinta membuatku merasa lebih baik
aku kira jatuh cinta tepat waktu
aku kira jatuh cinta buatku bahagia

dengan mu...

sayangnya, banyak hal yang berbanding terbalik

jatuh cinta denganmutak seindah itu
jatuh cinta denganmu membuatku merasa sendiri
jatuh cinta denganmu bukan hal yang tepat
jatuh cinta denganmu tak buatku bahagia
jatuh cinta denganmu tak bisa menghapus luka lama
jatuh cinta denganmu serumit itu
jatuh cinta denganmu tak bisa setiap saat
jatuh cinta denganmu tak menyenangkan
jatuh cinta denganmu tak membawaku pada seseorang yang mencintaiku juga
jatuh cinta denganmu sepele ini
jatuh cinta denganmu salah
jatuh cinta denganmu sulit
jatuh cinta denganmu tak membuatku merasa lebih baik
jatuh cinta denganmu tak tepat waktu
jatuh cinta denganmu tak buatku bahagia

jatuh cinta denganmu tidak sama sekali menghapus lukaku, malah makin memperparahnya

kamu datang
kamu bawa kunci itu
kamu masuk
kamu mengendalikan semuanya
sayangnya... kamu akhirnya menghancurkan diam-diam dan pergi untuk membuat luka lagi

mungkin aku dan kamu adalah dua orang yang hanya Tuhan pertemukan untuk tidak saling mengisi, tapi selebihnya hanya pelajaran

terima kasih untuk tidak peka akan segala rasa
terima kasih untuk sakit yang sekian kali
ada kalanya aku ingin kau mengerti tapi sepertinya memaksamu untuk mengerti akan membuat ini semua bertambah rumit
untuk kesekian kalinya aku takut jatuh cinta

Sabtu, 12 Oktober 2019

Pempek dan Bakso #RAK3

Jumat, 12 Oktober 2018

Tepat setahun, masih ingatkah kau saat pertemuan ketiga kita?

Tidak lama setelah pertemuan kedua kita, kita kembali berjanji untuk bertemu sore ini. Aku menjemputmu ditempat kemarin. Agak drama sih ya. Karena aku sudah menunggumu lama, tapi kau sedang menghindar dari senior dan mengulur waktu. Hampir magrib, kau baru bilang untuk menjemputmu di gerbang dekat Pemogan.

Akhirnya kita bertemu dan kau bilang kau ingin sekali Pempek.

Kuajak kau ke tempatku biasa makan di Genteng Biru. Kau memesan Pempek dan aku memesan Bakso kesukaanku. Lalu kau mengambil beberapa foto, lalu kita menyantap makanan bersama. Bercerita tentang apapun yang ada dikepala kita.

Setelah makan, kita mengambil beberapa selfie bersama. Kau dan aku. Aku masih ingat dengan baju orange ku, kau dengan baju biru dongker.

Hal lucu lagi kembali terjadi, saat aku akan membayar makananku kau membuntutiku.

"Aku bayar baksoku, kamu bayar Pempekmu."

"Nggak mau. Berapa bu?" Kau bertanya pada ibu penjual.

Aku dan kau saling mengeluarkan uang dan akhirnya kita sedikit berdebat, saling berebut siapa yang akan membayarnya. Akhirnya aku kalah, ibunya mengambil uangmu.

Tapi jujur aku adalah tipikal orang, sebelum dia jadi suamiku, aku akan membayar makananku dan apapun yang aku ingin beli dengan uangku sendiri. Bukan bersifat sombong, aku hanya ingin adil padamu dan pada diriku sendiri. Aku bukan orang yang ingin ini itu minta dibayarin, apalagi dengan seorang laki-laki. Tapi setiap laki-laki yang berusaha keras untuk membayar duluan, ku anggap sebagai hadiah bagi diriku.

Setelah makan aku minta diantar ke Masjid Sudirman untuk magriban.

Baru setelah magriban, kita akhirnya kembali ke Kepaon. Kau minta berhenti di minimarket karena kau mau membayar tagihanmu. Kita singgah sebentar ke Alfamart terdekat. Aku menunggu di motor saja. Lalu kau masuk dan agak lama karena harus mengantri. Kau keluar dengan tas plastik, kau berbelanja sesuatu.

Diperjalanan kita saling tos, untuk berterima kasih. 

Kembalilah lagi kita ke tempatmu. Tepat di depan ATM yang waktu itu kumenunggumu. Kita saling bersalaman dan kau meninggalkan tas plastik tadi.

"Ini punyamu, lupa kamu bawa."

"Bukan itu buat kamu kok. Ambil ya."

"Ih kok gitu, janganlah, Buat temen kamu aja."

"Nggak mau, itu hadiah kok buat kamu. Dimakan ya."

"Terima kasih ya. Repot banget sih." 

Kau tersenyum dan kembali kedalam.

Pulangnya aku ke kost Nara, karena berniat mengantarnya berbelanja baju. Setelah berbelanja, aku dan Nara singgah ke Warung Special Sambal (WSS). Aku bercerita panjang lebar tentang pertemuan kita tadi. Dengan sumringah dan berseri-seri. Nara tahu bagaimana mataku yang terlihat senang, saat bercerita tentang dirimu.

Ada sedikit permasalahan setelah aku memposting foto berdua bersamamu tadi, ada salah satu temanku yang menyuruhku menghapusnya. Tapi dengan cara yang tidak enak dibaca. Ternyata awal mula masalah ada disini. Tapi ku abaikan karena aku hanya mengecap mereka sirik denganku, denganmu.

Sampai kost kubuka tas plastik tadi dan ternyata isinya adalah jajanan. Yang paling banyak pocky (aku akan insert gambarnya nanti). Langsung aku tertawa kecil dan pipiku hangat, saking senangnya.

Aku memfotonya dan mengirimkan padamu dan berterima kasih.

"Dimakan ya." Katamu.

Terima kasih sekali ya, sudah pernah berbuat semanis ini.

Rabu, 09 Oktober 2019

Surabi Sudirman #RAK2

Selasa, 9 Oktober 2018

Masih ingat nggak setahun kemarin adalah hari pertemuan kedua kita. Iya saat itu kita masih sangat dekat, tetapi disisi lain aku juga takut akan semua hal ini. Dan benar adanya, hari ini kita tidak berhasil mempertahankan apa yang kita sudah mulai.

Hari itu kau mengabariku bahwa  kau sudah di Gianyar. Kita saling ingin bertemu tapi tak mungkin bagiku, karena aku sedang kuliah hingga sore saat itu. Maunya aku menghampirimu, tapi kau bilang tak usah karena jauh. Padahal hitungannya hanya 1 jam perjalanan dari Denpasar.

Malamnya kau mengabariku kalau kau sudah ada di Kepaon. Mengajakku keluar untuk makan malam dan jam sudah menunjukkan pukul 21.00 . Tapi karena aku juga ingin bertemu denganmu, ku iya kan.

"Makan yuk, jangan lupa dandan biar cantik."

Kubaca pesanmu dan aku tersenyum, aku segera bersiap.

Sengaja setelah selesai aku berangkat menuju tempatmu walaupun kau belum bilang kalau kau sudah siap. Karena aku sudah tahu jarak perjalanannya dan jujur saja aku tidak mau membuat kau menunggu. 

Sampai disana aku menunggumu agak ya lumayan yah, aku menunggumu didepan ATM dekat tempatmu. Beberapa kali orang-orang lewat sana, "Mbak mau duluan?" "Mbak sendirian aja?" 

Sembari menunggumu, aku bermain dengan ponselku dan mengawasimu dari kaca spion ku. 

Betul saja aku deg-degan ketika kau bilang akan kedepan dan aku melihatmu dari spionku. 

Tapi yang membuatku tidak habis pikir, kau berjalan lurus tanpa 'ngeh' ada aku disitu. Hahaha. Ya ampun, aku biarkan saja dan menunggumu berbalik. Jelas saja aku mengerti ternyata kau memang sedang tidak fokus karena badanmu sedang sakit. 

Aku sudah melarangmu untuk keluar malam ini, tapi kau kekeuh ingin keluar bersama. Aku menawarkan untuk memboncengmu tapi kau menolaknya, jadilah ini pertama kalinya kita berboncengan.

Pertama kita ke apotek untuk membeli obat. Ini lagi kejadian lucu, kau sampai lupa membawa dompetmu. Aku tertawa kecil lalu membiarkanmu memakai uangku terlebih dulu.

Kau sebenarnya ingin sekali Pempek. Ya makanan kesukaanmu. Tapi berhubung sudah malam, jadi kita hanya makan seadanya. Mungkin dilain waktu kita bisa makan Pempek bareng?

Kemudian kita bingung mencari makan apa malam ini, karena rata-rata sudah tutup. Jadi tiba-tiba saja kita sampai di Surabi Sudirman. Ya, ini second date kita berdua. Di Surabi Sudirman, kau memesan makanan aku hanya jeruk hangat. Karena aku tadi sebelumnya sudah memesan bihun di go-food. Kau menyuruhku mengicipi surabi kesukaanmu, keju pisang susu.

Kita bercerita santai, sambil kau tetap melahap makananmu. Aku senang menemanimu makan malam ini. Kau bercerita kegiatan apa saja yang akan kau lakukan nanti dan kapan kau akan kembali ke markasmu. Aku juga selalu senang saat kau bercerita tentang apa saja pekerjaanmu. Sayangnya aku hanya takut kita bercerita tentang perasaan kita, karena aku dan kau sudah se-nyaman ini.

Kau mengambil beberapa gambar untuk kau kirim ke salah satu grup di whatsapp mu. Kita duduk bersebelahan, aku beberapa kali memegang tengkuk dan dahimu memastikan kau baik-baik saja, karena kau bilang kau demam.

Setelah makan, kita pulang. Diperjalanan aku mengabadikan foto. Karena ini pertama kalinya kau memboncengku. Aku memasukkan tanganku ke dalam saku jaketmu, karena bulan Oktober anginnya sangat dingin, apalagi dimalam hari. Bodohnya aku tidak memakai jaket. Dan kesalnya, kau melakukan hal yang membuatku tak bisa melupakannya sampai hari ini, Kau memegang kakiku saat dijalan. Huhu, kesalnya sampai tak bisa kutepis.

Sampai disana aku menyuruhmu istirahat. Aku pulang dan hatiku kembali sepi. Tapi senang sekali malam ini kita saling menyempatkan waktu. Saat pulang pun kau masih saja video call, memastikan aku sudah pulang. Aku berdoa malam itu agar kau segera sembuh dan kita lekas bertemu kembali di pertemuan kita yang ketiga.

Tapi sayangnya aku hanya bisa mengenang, ini adalah setahun dari pertemuan kedua kita. Cukup sedih mengenangmu, tapi terima kasih sudah pernah singgah.

Minggu, 22 September 2019

The day we met, Frozen I held my breath #RAK1

Sabtu, 22 September 2018

Hari itu datang, dimana hari dimana kita pertama kali bertemu. 
Karena kau sedang tidak bisa pergi kemana-mana, jadi aku yang menghampirimu. 
Aku membawa makanan kesukaanmu.
Kau tahu aku deg-deg an saat akan bertemu denganmu. 
Padahal ini bukan pertama kalinya aku bertemu dan berbicara dengan orang asing.
Aku memilih mini market dekat tempatmu bertugas saat itu. Karena aku mengira akan sebentar saja. Tak perlu jauh-jauh yang penting kita bertemu dulu. 
Aku membeli teh kotak kesukaanku untuk meredakan rasa gugupku dan duduk didepan di tempat yang sudah disediakan mini market.

Aku mengatur posisi dudukku, haruskah membelakangimu saat kau datang atau aku harus menghadapmu saja. Sebegitunya. Aku takut kita saling mengecewakan. Tapi sudah kubuang jauh dan berusaha menjadi orang yang percaya diri didepanmu. Aku memposisikan dudukku menghadap jalan agar aku tahu saat kau datang.

Tak lama dari jauh aku melihat sosokmu.
"Eh masa sih dia orangnya. Enggak ah terlalu tampan dan gagah. Terlalu sempurna."
Aku memainkan lagi handphone ku. 
Jantungku makin berdebar.
Aku tak melihat dari mana kau datang. Tapi Ketika aku menunduk, kau berjalan kearahku dan mengulur tangan.

"Hai...."

Kita saling melempar senyum. Dan... Alhamdulillah kita tidak saling mengecewakan.
Sosok yang aku lihat dari jauh itu benar dirimu adanya. Persis dengan sosok yang setiap hari selalu mengirimi ku whatsapp, menggodaku lewat kata-kata lucu dan bertatap layar lewat video call. 

Dan aku benar-benar tertarik sekaligus takut saat pertama ketemu, tertarik karena ternyata obrolan kita nyambung, takut karena takut jatuh hati di orang yang salah. 
Aku mengabaikan sebentar dan aku menemanimu makan makanan kesukaanmu.
Masih ingat kan?
Kau terlihat senang dan lucu disaat yang sama, Yang membuatku terus mencuri pandang melihatmu.
Hanya saja aku menurunkan segala ekspektasiku terhadapmu agar aku tak salah lagi jatuh hati pada orang yang baru ku kenal.

Kau merekam story makananmu dan ada aku disitu. 
Kau mengunggahnya di sosial media, kau terlihat senang. Namun disitu aku hanya takut, karena ketika kau sudah unggah di sosial media, kau akan siap akan segala konsekuensinya. Mungkin kau berharap timbal baliknya padaku, hanya saja memang aku waktu itu "Aku akan posting seseorang yang aku cinta bila waktunya tiba"

Tapi dengan embel-embel "Ini teman baru aku." aku berani menggunggahnya juga. Dan teman-temanku langsung membanjiri instagram direct message ku. Dengan doa dan pertanyaan. 
Beberapa kecewa, karena mereka teman-teman cowok ku yang pernah menaruh hati padaku.

Bagian yang paling aku suka saat kita saling mengambil gambar.
Kau mengambil gambarku.
Aku mengambil gambarmu.



 Lalu kau mengajak mengambil selfie bersama. Kau tahu aku semakin takut awalnya namun aku mengabaikan semuanya, kamu mendekatkan kursimu dan aku yang mengambil gambar. 

Kita saling mengirim gambar kemudian. Lalu berbincang kembali sampai akhirnya kita meyelesaikan makan lalu kembali berpisah.

Setelah berpisah aku kira kita tak akan pernah bertemu lagi. Ternyata, selanjutnya baik kau ataupun aku saling meluangkan waktu untuk bertemu. Terlihat manis, tapi kutepis rasa takutku karena takut akan suatu saat aku tiba-tiba kehilanganmu sebelum memilikimu.
Aku pikir ya sudah aku jalani saja dan lihat bagaimana akhirnya.

Dan hari ini, 22 September 2019 yang kuingat ini adalah pertama kita bertemu. 
Pertama kali kau dan aku saling bertatap dan melempar senyum. 
Pertama kali menjabat tanganmu.
Pertama kali sosokmu menarik perhatianku.
Pertama kali kita mengambil selfie bersama.
Pertama kali aku jatuh hati lagi....

Hanya saja bila kau ingat ...

Oh ya, beberapa hari yang lalu saat main ke rumah temanku di Tuban, aku lewat mini market tempat kita pertama kali bertemu. Hatiku sakit saat mengingatnya, tapi karena mungkin aku yang terlalu terbawa perasaan. Aku senang bisa mengenalmu.

Kamis, 22 Agustus 2019

Alhamdulillah S.MIK

Banyak sekali pelajaran yang sudah didapat. 
Begitu banyak luapan emosi yang hadir disini. 
Tapi saya yakin suatu saat nanti hari ini dan beberapa tahun kebelakang akan jadi pengalaman paling berharga untuk setiap perjalanan dihidup saya. 
Sering kali marah kenapa saya yang diutus Allah untuk melewati ini, tapi Allah selalu tegur saya dengan hadirnya orang-orang lain yang hadir di kehidupan ini dan mengingatkan masih banyak orang lain yang sama bahkan lebih sulit dari saya. 
Ya, kami orang-orang pilihan-Nya. 
Begitu banyak pilihan yang hadir di depan mata saya, begitu banyak yang harus saya korbankan, begitu banyak bisikan-bisikan orang lain yang harus saya pilah baik atau tidaknya untuk saya, dan terutama saya juga harus bisa menimbang pilihan hati saya pribadi yang sedang ricuh didalam dada ini. 
Tapi saya tetap bersyukur atas semua yang sudah di gariskan dalam hidup saya, 
Allah tidak akan membiarkan umatnya dicobai melebihi kemampuannya, dan Allah juga pasti selalu punya berbagai macam jalan keluar untuk setiap masalah yang ada.

Saya yakin bahwa hal ini semua hadir untuk kebaikan dan untuk perubahan yang besar untuk pribadi saya sendiri.
Bersyukur, berdoa, dan berjuang.
Thank you for never ending support, Ibu & Ayah dan semua yang tidak bisa disebutkan satu persatu ❤️😘