Rabu, 03 Juni 2020

Hargai Hatiku - Trisouls


Aku pernah diposisi, kita belom ada ikatan & komitmen cuma temenan aja (HTS), saling paham kalau kita nyaman satu sama lain. Tapi sama-sama merasa nggak bisa melanjutkan ini semua, karena satu dan lain hal. Kesiapan dia untuk membangun komitmen & perbedaan prinsip antara aku dan dia. Orangtua kita bahkan tau kalau kita sama-sama cocok. Disini aku gak bisa maksain dia.

Hubungan yang gak jelas dan tanpa status ini bikin aku sakit, kebayang gak sih tiap lihat dia update status atau online tapi nggak ada chat/interaksi lagi ke aku. Kotaku dan tempat dinas dia beda 2,5 jam saja sebenarnya.

Akhirnya aku beraniin diri & memutuskan setelah melihat banyak artikel,youtube dan berkaca ke diri sendiri... buat hapus semua kontaknya, mute akun sosmednya, nge-hide dia dari status IG aku. Dengan cara ini aku berharap,  dgn tidak lihat sama sekali semua aktifitas dia aku jadi lebih tenang,gak selalu kepo dan ngerhargain diri aku sendiri. Mungkin banyak yang mikir kekanakan tapi ini cara yang selalu bikin aku berhasil move on dari seseorang.

Setelahnya aku gak pernah sedih lagi, gak overthinking, gak pernah mau buka sosmed ataupun yang berkaitan dengan dia. Pokoknya dengan sementara menjauh dari dia aku jadi lebih lega & tenang. Semacam self healing dari toxic-nya sayang ke dia.

Akhirnya aku bisa ikhlas nerima kalo emang ini yang terbaik. Sekarang bener-bener putus komunikasi walau masih saling follow IG. Aku gak pernah buka akunnya ngelike postingannya bahkan like foto-fotonya, tapi beneran berhasil nggak mau lagi ngetik namanya dikolom search. Bagiku dia udah hilang bener-bener hilang. Lebih baik seperti ini, nggak ngerasa insecure takut ngelihat dia posting tentang cewek lain / semacamnya.

Ternyata aku nggak sendiri, banyak bahkan orang-orang yang susah move on dari hubungan yang tanpa kejelasan kayak gini.
"Memang perpisahan bukan jadi jalan terbaik."
Tapi emang kalau nggak bisa dilanjutin lagi, ya sudah jalan masing-masing aja. Ikhlas melepas. Kalau merasa ini bikin kamu nggak bisa tidur atau kepikiran terus & saling nyakitin, jangan pernah berfikir buat di terusin. Lebih baik berhenti sekarang dari pada terluka lebih dalam. Daripada kamu gak dihargai mending pergi dan cari orang yang lebih menghargai kamu☺️

Salam peluk dari jauh ya teman-teman.

Selasa, 02 Juni 2020

Es Kopi dan Teh Lemon

Aku melangkahkan kaki menuju tempat yang sudah kita tentukan. Aku memilih tempat seperti biasa, pojok dekat jendela. Sembari menunggu es kopi ku datang, aku membuka pesan darimu.

'Aku sebentar lagi sampai.'

Aku tersenyum dan membalas 'Iya hati-hati.'

Setelah menunggu beberapa menit kau datang bersamaan dengan es kopi ku. Kita saling bersalaman. 

"Kamu apa kabar? Sudah lama sekali ya..."

"Iya, baik kok. Kamu sehat-sehat kan?" Tanyaku balik. 

Aku melihat sekarang kau tambah berisi dan segar. Jambang tipismu yang sengaja kau rawat juga menambah kesan dewasa. Kacamata cupu mu sudah kau ganti menjadi bingkai hitam tegas. Sepertinya kau banyak berubah.

"Sehat banget. Oh ya, langsung ke poin nya ya. Aku sebenernya mau nanya sesuatu sama kamu. Cuma sih, nggak enak kalau hanya lewat whatsapp kan?"

"Nanya apa sih? Serius banget." Kataku sambil menyesap es kopi. Kulihat mas pelayan datang membawa teh dengan lemon. Aku tahu sekali kau tidak bisa minum kopi. Aku tersenyum simpul, aku masih mengingat semua tentangmu.

"Masih belum bisa minum kopi?" 

"Ia sama seperti aku nggak bisa lupa sama kamu."

Kita tertawa. Lalu kau melanjutkan kalimatmu.

"Aku masih berharap kamu punya perasaan yang sama kayak waktu itu. Apa kamu sudah punya pasangan sekarang?"

Aku mengangkat alisku dan tertawa. Aku menaruh tanganku yang lain dipunggung tanganku, menyembunyikan sesuatu yang sudah tersemat indah disana. 

"Kenapa baru sekarang bertanya? Selama ini kamu kemana aja?" 

Kau menyandarkan punggung ke kursi. Semula raut wajahmu yang ingin tahu menjadi muram.

"Iya maafin aku. Aku baru sadar waktu kamu pergi. Aku akui aku salah waktu itu, mengabaikan perasaan kamu. Sekarang aku sadar siapa yang sebenarnya tulus sama aku."

"Kamu baru sadar sekarang? Ya kadang-kadang memang nyadarnya dibelakang, aku mikirnya juga apa kamu waktu itu benci aku pas aku bilang aku ada rasa, karena nggak sedikitpun kamu merespon aku." 

Aku menyesap kembali es kopiku. Matamu melirik ke arah jari tanganku. Terlihat kau mengambil nafas panjang.

"Cantik."

"Perempuan selalu cantik kok." balasku. 

"Cincinnya."

Kita bertatapan. 

"Sejak kapan, kamu cepat sekali berubah ya."

Aku menggelengkan kepalaku, "Apa aku harus bilang ketika aku udah jatuh cinta sama yang lain? Apa aku harus tetap sama mencintaimu seperti biasanya walau 2 tahun kamu nggak ada kabar?"

Kau mendengus kesal, memainkan gelas gula disebelah cangkirmu. Menuangkannya sedikit ke dalam cangkir lalu mengaduknya. 

"Ya tapi...tapi apa secepat ini? Nggak ada kesempatan?"

"Hah? Kesempatan apa lagi? Kamu minta kita ketemu kan? Aku penuhi kok." Aku mengganti posisi dudukku, menyilangkan kedua kakiku.

"Sejauh mana?"

Kau menatap mataku tajam, seperti kesal dan tidak rela. Kau merasa 2 tahunmu kemarin bukanlah hal yang lama, bahkan kau malah meminta kesempatan. Kesalku karena kau mengabaikanku sudah hilang bersamaan dengan ketidakhadiranmu dihidupku selama 2 tahun kemarin.

"Apa aku harus jelasin, 2 tahun kemarin buatku adalah masa-masa yang aku paling benci?"

"Ya aku nanya udah sejauh mana. Baru 2 tahun loh kamu udah bisa berpindah hati."

Aku tersenyum dan membuang pandanganku keluar, menatapmu kembali dan berusaha menyembunyikan rindu.

"Ya terus, selama 2 tahun kamu menghilang, kamu nyuruh aku nungguin kamu sampai kamu nyadar? Kamu nyuruh aku ngelihat kamu sama yang lain gitu, disaat kamu tahu kalau aku sudah ungkapin rasa ke kamu tapi kamu mengabaikan?"

Kau menyesap teh lemonmu. Menghabiskannya setengah.

"Hey, aku nggak pernah punya pacar selama 2 tahun kemarin. Mereka cuma teman. Aku kaget dan belum siap saja kemarin atas perasaan kamu. " Kau meyakinkan ku.

"Terus apa hubungannya? Mau kamu gak pacaran dan mereka cuma temen kamu, apa pantes aku nungguin kamu? Please, kamu ngilang tanpa kabar dan nggak ada komunikasi sama sekali. Sekarang kamu nanyain arti ini ke aku, kenapa terlambar banget sih nyadarnya?" Kataku menggebu sambil memperlihatkan cincin yang tersemat dijari manisku. 

Kau menunduk, melempar pandangan dan kembali menatapku. 

"Aku nggak ngerti jalan pikiranmu. Cukup aku simpulkan kemarin kamu sudah menganggap aku nggak ada. Jadi, ketika ada yang datang aku persilakan. Buktinya dia bisa membuat aku bangkit dan percaya lagi sama cinta."

Wajahmu tak bisa menyembunyikan kekesalan dan kekecewaan. 

"Maaf..."

"Nggak perlu minta maaf, waktu itu aku hanya jatuh cinta ke kamu diwaktu yang salah aja. Sekarang semuanya sudah berbeda. Kamu datang disaat aku sudah menemukan orang yang lebih menghargai aku. Penantianku untukmu kemarin kuanggap selesai. Tak ada yang bisa di lanjutkan."

"Jadi, selama ini kita ternyata saling menunggu ya. Sayangnya aku nggak nyadar aja udah nyakitin kamu. Maafin aku, terima kasih waktu itu udah jujur ke aku, tapi aku yang bodoh nggak siap dan nggak ngehargain kamu. Sekarang aku tahu rasanya, gini yah."

"Semua sudah terlambat. Sudah berlalu. Selesai." 

Kita saling bertatapan dan bersalaman.

Dan hari itu kita akhiri dengan saling memaafkan, mengikhlaskan dan menerima. Bahwa menghargai perasaan seseorang itu perlu, jangan sampai melewatkannya bahkan akhirnya menyesal. Ketika orang itu sudah pergi dan menemukan yang baru, bersiap atau menyesal.  

Selasa, 19 Mei 2020

Mengerti

Mengerti bahwa tidak semua orang harus sama
Mengerti bahwa diri sendiri gak pernah tau apa yang telah dialami orang lain
Mengerti untuk tidak mudah menilai seseorang
Mengerti jika ingin dihargai kita harus menghargai orang lain
Mengerti bahwa hidup tidak selalu tentang diri sendiri 
Mengerti unuk tidak pernah meremehkan masalah seseorang
Mengerti apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan bisa berdampak besar untuk sekitar
Mengerti bahwa tidak semua harus berjalan sesuai dengan yang kita inginkan 

Selasa, 21 April 2020

Yang Baik Akan Tetap Ada

Tapi aku bersyukur, karena orang-orang yang menerima aku apa adanya
Dari dulu sampai saat ini
Nggak pandang sebelah mata.
Mungkin beberapa sempat menjadikanku bahan omongan
Tapi pada akhirnya semua seleksi alam, yang baik akan tetap ada.


Ada Waktunya Kok

Jadi bersyukur, semua yang aku lewatin dan terjadi di diriku saat ini adalah bentuk kasih sayang Allah pada hamba-Nya, semua bener-bener indah pada waktunya.

Gimana yah, jadi selama ini tuh kayak selalu pengen nyalahin diri sendiri kok aku belum ini belum itu. Tapi pas dilihat lagi, emang Allah bakalan kasih diwaktu yang tepat. Allah Maha Tahu apa yang terbaik buat hambanya.

Contoh kecilnya, tahun lalu. Aku hectic banget dan sempet stress karena full of drama banget tahun kemarin. Waktu aku mau ngerjain skripsi, aku sempet mikir "haduh kalo nggak ke kejar ya tahun depan aja aku lulus nih." eh ternyata 2019 terkejar dan lulus dengan tepat waktu. 

Waktu mau berangkat umroh juga, jadwal yang sempat diganti-ganti. Ku sempet mikir "kok gonta ganti mulu, tahun depan aja sekalian sama adik-adik yah." Eh ternyata 2019 berangkat walau cuma sama ayah dan ibu. Alhamdulillah.

Karena Allah tahu, di 2020 akan ada wabah ini akan semakin berat perjalanannya. Skripsiku yang belum selesai mungkin bisa tertunda tahun depan, Umroh akan ditiadakan dulu sampai kondisi membaik. Kayak banyak aja hikmah yang aku dapet, walau kecil. Aku bersyukur.  

Pada intinya, emang semua itu ADA WAKTUNYA KOK. Cuma kalau kamu belum lewatin itu ya, emang belum aja. Sabar, Allah tahu waktu yang tepat. 

Jumat, 10 April 2020

Hai April! Selamat Tanggal 10 ya.

Hai April, gimana tanggal 10 nya? Hahaha. Kesan pertama sih pas tau udah ganti tanggal langsung berdoa. Dan bersyukur banget udah dikasih umur sampai hari ini. Terus tidur lagi. Bangun, bikin pisang keju susu,ditelpon orangtua abis itu mandi dan main makeup.
Terus tiduran scroll timeline, tiduran, bersih-bersih kamar, tiduran lagi. Hari itu aku pengen ke pasar beli ikan tapi mager parah. Pengen dikost terus. Pengen beli makanan buat hadiah diri sendiri,masih entaran aja deh.
Sampai jam setengah 5an, si Nara dateng. Biasa ku udah bisa nebak pasti si Nara. Dia bawa cupcake kita make a wish kecil-kecilan. Sedih tapi happy sih. Sedihnya gak bisa pulang ke rumah karena wabah. Happy masih ada orang yang peduli sama aku yang jauh dari keluarga.
Setelah itu kita cerita-cerita berdua, biasanya ada Tya atau Wulan. Tya lagi hamil, Wulan lagi jaga. Gak memungkinkan, akhirnya kita vidcall si Aji. Ngerumpi,ketawa sama makan bareng lewat vidcall. Sambil foto-fotoan.
Setelah itu kita cerita-cerita berdua, biasanya ada Tya atau Wulan. Tya lagi hamil, Wulan lagi jaga. Gak memungkinkan, akhirnya kita vidcall si Aji. Ngerumpi,ketawa sama makan bareng lewat vidcall. Sambil foto-fotoan.
Malemnya ada oom Win, saudara Ibu aku yang di Denpasar juga nganterin ayam + sambel pecel. Ih, Alhamdulillah banget. Happy lagi. Udah makan si Nara balik, aku sendirian lagi. Balik bebersih kamar sambil edit foto.
Terus mewek lihat balesan temen-temen, terutama ini. Jadi tahun lalu, aku ngerayain cuma berempat juga. Sama Tyak,Wulan,Nara. Hari ini karena wabah, kita ngerayain berdua aja. Ih ya ampun sedih tapi ya semua pasti bakalan lewat.
     Banyak hal yang masih perlu aku syukuri ditengah wabah kayak gini. Aku masih bisa makan enak, tidur enak, punya temen-temen yang care, keluarga yang sehat dan bisa ibadah dengan baik. Allah masih ngasih kesempatan.
Pengen banget wabah cepet selesai, bisa pulang ketemu orang tua, adik, temen-temen. Kebayang banget di usia kayak gini emang lebih butuh orang yang enak diajak ngobrol. Syukuri aja ya Lie, gak semua harus sekarang.Pengen banget wabah cepet selesai, bisa pulang ketemu orang tua, adik, temen-temen. Kebayang banget di usia kayak gini emang lebih butuh orang yang enak diajak ngobrol. Syukuri aja ya Lie, gak semua harus sekarang.

Kamis, 09 April 2020

Karena Allah yang mempertemukan

Allah mempertemukan untuk satu alasan
Entah untuk belajar atau mengajarkan
Entah hanya untuk sesaat atau selamanya
Entah akan menjadi bagian terpenting atau sekedarnya
Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut
Lakukan dengan tulus
Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan
Tidak ada yang sia-sia
Karena Allah yang mempertemukan

Selasa, 10 Maret 2020

Takdir itu

 Takdir dibuat rahasia, ghaib dan diluar jangkauan kita

Agar yang saat ini sedang berjuang

Tak kehilangan semangat dan do'anya 

Dan yang saat ini sedang berjaya

Tak kehilangan tawadhunya

Karena, dalam hitungan detik semua bisa berubah

Senin, 10 Februari 2020

Bersabarlah

 Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan kita

Berusaha, bersabar dan hadapi dengan ikhlas

Jangan lari dari masalah

Jangan menyibukkan diri dengan hal yang dibenci Allah

Setiap detik yang terkadang menyapa untuk akhiri saja semua menit nafas ini

Astagfirullah...

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di fikiran setiap saat makin membuat benci

Astagfirullah...

Babak setiap babak terkadang terasa belum siap

Allah kasih cobaan karena Allah sayang 

Kalau bisa lolos, nanti naik kelas

Bismillah.

Jumat, 10 Januari 2020

Ceritakan Pada-Nya

Kalau kamu kecewa

Sakit Hati

Patah Semangat dan Gundah

Tak usah ceritakan pada orang lain

Cukup telan saja rasa itu

Cerita saja pada Allah di sepertiga malammu

Dimana jarak bumi dan langit terasa dekat

Dan dimana sujudmu di bumi yang berisikan keluh kesah, gundah dan kecewa

Didengar langsung oleh seluruh penduduk langit