Aku menatap dirimu yang tidak berkutik sedari tadi.
Aku hanya kecewa dengan apa yang kau katakan barusan.
Hubungan ini tidak sebentar tapi hanya hitungan detik kau hancurkan semuanya.
Yang seharusnya kau jaga, bukan kau lepaskan tanpa pikir.
"You really want this to end? Berhenti? Setelah sejauh ini?"
Kau melihat mataku, "I’m sorry. Rasanya sudah tidak ada lagi.”
Aku terdiam.
Bukan karena tak punya kata, tapi karena tak menyangka rasa yang kujaga selama ini bisa hilang begitu saja darimu.
Aku terdiam cukup lama setelah kalimat itu jatuh di antara kita.
Bukan karena aku tak paham artinya, tapi karena hatiku butuh waktu ntuk menerima bahwa sesuatu yang pernah tumbuh dengan sungguh-sungguh bisa mati tanpa aba-aba.
Kau menunduk, seolah lantai lebih layak kau tatap daripada mataku.
Dan di detik itu aku sadar—bukan aku yang kau tinggalkan, melainkan perasaan yang dulu pernah kau perjuangkan bersamaku.
Aku menarik napas pelan.
“Kalau begitu,” kataku akhirnya, “aku nggak akan memaksamu.”
Bukan karena aku tak sakit, tapi karena cinta yang tersisa padaku cukup dewasa untuk melepaskanmu tanpa membenci.
Enam bulan setelahnya, di tengah perjalananku belajar mencintai diri sendiri,kau datang kembali tanpa aba-aba, tanpa janji.
Aku sudah lebih tenang sekarang.
Luka itu masih ada, tapi tidak lagi berdarah.
Aku belajar tertawa tanpa menunggumu, belajar pulang tanpa berharap kau menunggu di depan pintu.
Kau berdiri di hadapanku dengan mata yang sama, namun aku bukan aku yang dulu.
“Aku salah,” katamu pelan, dan untuk pertama kalinya, kata itu terdengar terlambat.
Aku tersenyum tipis, bukan karena bahagia, melainkan karena akhirnya aku tahu
Aku tidak kehilanganmu enam bulan lalu aku menemukan diriku sendiri.
Aku menghela napas panjang.
Perasaan itu ternyata masih ada, tapi tak sepenuhnya pergi, hanya kupelajari cara menyimpannya agar tak lagi melukaiku.
Kau berdiri di hadapanku dengan wajah memelas, seolah berharap aku masih orang yang sama
yang akan membuka pintu tanpa syarat.
Matamu berbicara lebih banyak daripada mulutmu, tentang penyesalan, tentang rindu yang datang terlambat.
Ia datang di waktu yang tidak lagi sama.
Enam bulan telah mengubah caraku berdiri, caraku menatap, caraku bernapas tanpa menunggumu.
Namun ketika kau menyebut namaku, suaramu masih mampu menggoyahkan sesuatu yang kupikir sudah sepenuhnya tenang.
“I know I don’t deserve this,” katamu, suaramu rendah. “But I miss you. I miss us.”
Aku tersenyum samar. “Missing is easy,” jawabku pelan. “Bertahan yang dulu kamu lepaskan dengan mudah.”
Kau menghela napas, matamu mencari-cari wajahku yang dulu.
“Waktu itu aku pikir pergi adalah pilihan paling jujur.,” ucapmu. “I thought it was the right thing.”
“And I thought surviving without you would break me,” kataku. "kamu sia-siakan aku waktu itu, kamu inget kan?"
Kau terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Kalau aku minta satu kesempatan lagi?”
Aku menatapmu—bukan dengan amarah, bukan pula dengan harap.
“There was a chance,” jawabku tenang. “Now I only have boundaries.”
Di detik itu aku tahu, perasaan memang belum sepenuhnya hilang, tapi aku tak lagi kehilangan diriku demi cinta yang pernah pergi tanpa berpamitan.